Sering tanpa kita sadari, masalah-masalah ketidakadilan pada perempuan terefleksikan pada kisah-kisah hantu. Siapa mengira bila mitos-mitos tentang hantu, sebenarnya adalah gambaran tentang adanya kasus-kasus ketidakadilan yang terjadi di masyarakat.

Ada fakta yang asyik disimak: tradisi Nusantara punya banyak kisah hantu perempuan. Mulai dari Kuntilanak, Sundel Bolong, si Manis Jembatan Ancol, Wewe Gombel, dan banyak lainnya. Kisah para hantu perempuan warisan leluhur ini seolah menjadi peringatan dari generasi-generasi pendahulu kita mengenai nasib perempuan Indonesia.

Kuntilanak adalah hantu perempuan yang meninggal saat melahirkan. Sundel bolong adalah perempuan yang diperkosa dan meninggal (juga) saat melahirkan. Apabila kuntilanak menghantui perempuan usai persalinan dan melarikan bayi baru lahir, maka Sundel Bolong meneror lelaki yang berjalan sendirian di malam hari. Si Manis Jembatan Ancol juga perempuan yang meninggal diperkosa yang kemudian membalaskan dendam.

Figur mistis yang sedikit berbeda adalah Nyai Roro Kidul. Ia dipercaya sebagai ratu penguasa dunia gaib di Laut Selatan serta menjadi istri mistis setiap raja Mataram. Nyai Roro Kidul bisa jadi adalah gambaran ideal yang diidamkan perempuan Nusantara.

Ada benang merah yang menghubungkan berbagai riwayat hantu populer tersebut: yaitu terbatasnya akses perempuan terhadap keadilan dan pelayanan kesehatan serta tingginya risiko kekerasan seksual yang mereka hadapi. Si Manis Jembatan Ancol dan Sundel Bolong menuntut keadilan, sementara, Kuntilanak gagal mendapatkan layanan kesehatan yang layak.

Jika kita tidak memperbaiki akses pelayanan kesehatan bagi perempuan dan membiarkan pelaku kekerasan seksual bebas tanpa hukuman atas kejahatannya, kita akan melanggengkan kisah hantu perempuan pada generasi selanjutnya. Tak hanya di gambar bergerak, tapi juga di dunia nyata.

Berdasarkan data yang dikutip dari Kementerian Kesehatan, angka kematian pada ibu melahirkan di Indonesia pada tahun 2015, adalah 305 orang per 100 ribu kelahiran hidup. Angka rata-rata kematian ibu di Indonesia jauh di atas negara maju yang angka rata-ratanya hanya 12 per 100.000 kelahiran hidup.

Dua penyebab utama kematian menurut kementerian pada 2013 adalah perdarahan dan hipertensi. Sementara data kasus kekerasan seksual bisa membuat bulu kuduk berdiri tanpa harus bertemu Sundel Bolong. Satu dari 3 perempuan Indonesia berusia 15-64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual selama hidupnya. Data ini dikutip dari Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional 2016 dari Badan Pusat Statistik (BPS) dengan sampel 9.000 perempuan dari seluruh Indonesia.

Angka tingkat pemerkosaan di Indonesia selama tahun 2015 mencapai 1.739 kasus berdasarkan data BPS. Bandingkan dengan total angka pencurian dengan senjata tajam dan api pada tahun yang sama adalah 1.097. Kasus perkosaan jauh lebih tinggi.

Jika pemerkosa diberi hukuman yang berat, Mungkin Sundel Bolong tak perlu sendirian memburu jahanam-jahanam tersebut dari alam baka. Di Indonesia banyak pelaku kekerasan menikmati kekebalan hukum karena kebanyakan (93%) kekerasan seksual tidak dilaporkan.

Sebuah survey maskulinitas yang dilakukan Rifka Annisa pada 2013 mengungkap hanya 21,5% dari responden yang mengaku pernah melakukan kekerasan seksual yang mendapatkan konsekuensi hukum.

Dalam perspektif yang berbeda, antropolog Aihwa Ong (1987) melihat perempuan dan hantu dalam perspektif ekonomi moral. Studi Ong tentang buruh di Selangor dan Kedah, Malaysia, menunjukkan bahwa buruh perempuan mempunyai moralitas yang longgar karena mereka jauh dari sanak famili, jauh dari kontrol saudara laki-laki dan bisa memiliki hubungan yang melintasi batas ras dan etnis (tak sedikit buruh perempuan yang berpacaran dengan etnis Cina).

Berlawanan dengan buruh yang memiliki moralitas longgar itu, daerah buruh industri Malaysia secara kebetulan dikuasai oleh partai konservatif PAS (Partai Islam se-Malaysia), mengharuskan perempuan baik-baik saja sesuai harapan laki-laki.

Ong kemudian mendapati fakta yang menarik: banyak perempuan yang dianggap bermoral lemah kerasukan jin atau setan di sekitar wilayah pabrik. Jauh lebih banyak dibandingkan laki-laki. Aihwa Ong mensinyalir histeria buruh perempuan yang kerasukan setan di kawasan pabrik ini karena dikekangnya kebebasan mereka. Buruh perempuan yang kerasukan setan adalah mereka yang mengalami masa transisi dari perdesaan ke wilayah urban, dari sistem pekerjaan desa yang santai menuju pendisiplinan pabrik.

Kerasukan setan menunjukkan perlawanan terhadap otoritas laki-laki yang direkonstruksi dalam mode kapitalisme pabrik. Perlawanan terhadap tekanan laki-laki, beban kerja yang tidak manusiawi, pelecehan seksual, dan upah yang nyaris tidak pernah naik. Ditambah keharusan perempuan mengirim uang untuk menghidupi keluarga di desa asal mereka. Semuanya menyebabkan tingkat stres yang tinggi namun tidak dapat diekspresikan. Gambaran ‘moral anxiety’ dalam dominasi budaya patriarki.

Hantu perempuan lahir dari masa transisi masyarakat pertanian ke industri. Transisi ini membuat laki-laki gagap dalam melihat peran baru perempuan sebagai pekerja.

Studi menarik Mary Beth Mills (1995) tentang serangan ‘hantu janda’ (phii mae maai) di Isan, Thailand Timur Laut, menunjukkan hal tersebut. Isan, daerah miskin perbatasan Thailand dan Laos, paling banyak memproduksi buruh migran perempuan ke Bangkok. Bahkan mayoritas pekerja seks di Bangkok berasal dari desa Isan.

Hal ini membuat frustasi bagi suami-suami yang ditinggalkan di desa. Rata-rata suami itu bekerja sebagai petani. Tekanan ekonomi membuat mereka tidak bisa menekan perempuan untuk tidak bekerja di Bangkok, karena biaya hidup modern di Isan meningkat, mulai dari biaya sekolah, transportasi, kesehatan, hingga pembelian pupuk untuk pertanian. Modernitas menjadi musabab bagi kecemasan laki-laki.

Pada 1990an, tingkat kecemasan dan kerentanan memuncak sehingga isu serangan ‘hantu janda’ meruyak di segala penjuru desa Isan. Hantu janda ini digambarkan haus seks dan menyasar para perjaka di Isan. Untuk melindungi serangan ‘hantu janda’ yang dipercaya mampu menyebabkan sakit dan kematian, warga memasang patung phallus (alat kelamin pria) yang terbuat dari kayu di depan gardu kampung.

Kemunculan ‘hantu janda’ adalah kecemasan dunia laki-laki terhadap modernitas, sekaligus kecemasan terhadap kapasitas perempuan beradaptasi terhadap modernitas dunia kerja modern dengan menjadi buruh migran.

Ketakutan terhadap janda haus seks ini sebenarnya berkebalikan dari realitas sebenarnya, di mana perempuan diharuskan pasif dalam seksualitas. Laki-laki lebih aktif untuk urusan seks, bahkan sering jajan ke prostitusi kalau ada uang berlebih.

Mengapa figur hantu mengerikan selalu perempuan kini mulai terungkap. Figur hantu perempuan menunjukkan bentuk ketakutan masyarakat akibat budaya patriarki. Bisa sebagai wujud frustasi laki-laki terhadap modernitas dan peran baru perempuan dalam ekonomi, maupun refleksi ketakutan perempuan pada ketidakadilan gender.

Relasi sosial yang tak sederhana dan pelik antara perempuan dan laki-laki ini, bisa jadi tak dipahami banyak perempuan yang mendadak berpolitik belakangan ini. Membuat mereka terjebak pada pencitraan sebatas memoles penampilan dan memperbanyak baliho. Meski sebenarnya ada banyak isu perempuan yang bisa digarap untuk kerja sosial sekaligus pijakan untuk kampanye politik. Atau bikin kegiatan-kegiatan filantropi saja, jelas lebih bermanfaat...