Pada bulan Juni 2015, sekumpulan astronom di berbagai penjuru dunia gencar mengampanyekan observasi bersama di satu konstelasi bintang Cygnus (yang berarti Angsa dalam bahasa latin). Melalui satelit observasi Swift milik NASA dan Fermi, ada aktivitas pancaran sinar terang yang berasal dari konstelasi bintang Cygnus tersebut.

Kekuatan pancaran cahayanya dideteksi melalui Pendeteksi sinar X, setara dengan 50 kali lebih terang dari paranova yang pernah tercatat. Setelah ditelusuri, ternyata berasal dari sistem tata surya Biner V404 Cygni, tata surya yang tersusun dari 2 bintang.

V404 Cygni terdiri dari sebuah lubang hitam dengan massa 12-13 kali matahari dan bintang yang ukurannya lebih kecil dari matahari

V404 Cygni pertama kali diamati oleh tim asrtonom Gingga yang berasal Jepang pada 22 Mei 1989. Setelah 26 tahun ‘hibernasi’, akhirnya menampakkan aktivitasnya kembali. Dan untuk pertama kalinya, letupan dari aktivitas lubang hitam V404 Cygni bisa diobservasi secara langsung melalui teleskop amatir.

Sebelumnya, lubang hitam hanya bisa diobservasi melalui letupan sinar X dan sinar Gamma, melalui teleskop spesifikasi teknologi tinggi. Tak urung, kabar ini menimbulkan gegap gempita bagi pecinta astronomi di seluruh dunia. (Lihat di sini)

Di ranah sains sudah tak terbilang jumlahnya astronom dan kosmolog yang mempelajari dan meneliti serta menulis jurnal ilmiah terkait lubang hitam. Einstein pertama kali mengajukan teori relativitas umumnya pada tahun 1915, dipostulatkan bahwa cahaya bisa dibelokkan oleh gravitasi.

Einstein mempertanyakan teori gravitasi Newton yang memperlakukan cahaya bak peluru kanon meriam, padahal kecepatan cahaya tetap. Beberapa ilmuwan menggenapi teori relativitas umum Einstein, yaitu Karl Swarzschild yang memberikan kalkulasi matematis atas teori Einstein. Dan uji percobaan empiris yang dilakukan Sir Arthur Eddington atas gerhana matahari total di Inggris dan Afrika Selatan.

Paper dari kedua ilmuwan tersebutlah yang yang mendukung teori relativitas Einstein. Ditambah lagi seorang “science prodigy” dari India yang bernama Shubramanyan Chandasekhar, murid Eddington di Cambridge.

Chandrasekhar mengemukakan perhitungan seberapa besar massa suatu bintang sampai titik tak mampu menopang dirinya sendiri hingg habis, kemudian menjadi lubang hitam. Dan sejak saat itu perdebatan tentang lubang hitam dimulai.

Lebih awal lagi, sebenarnya John Mitchell pernah menulis suatu makalah pada 1783 di Philosophical Transactions of the Royal Society of London. Dalam tulisannya ia menunjukkan bahwa suatu bintang yang cukup masif dan rapat memiliki medan gravitasi yang kuat, sehingga cahaya tak dapat lolos dari medan itu:cahaya apapun yang dipancarkan permukaan bintang bakal ditarik kembali.

Tapi istilah “Lubang Hitam” baru dikenal resmi ketika ‘diciptakan’ oleh ilmuwan Amerika, John Wheeler, pada tahun 1969. Sejak saat itulah istilah lubang hitam dikenal secara luas. Bersamaan dengan era “Perang Bintang”, perlombaan teknologi siapa paling cepat mengirim manusia ke luar angkasa- antara Uni Soviet dan Amerika, lubang hitam masuk dalam kancah perbincangan publik.

Dalam budaya populer, fiksi-sains menemukan relevansinya kembali. Circa 50-70an adalah Golden Times/masa keemasan bagi sastra dan film genre fiksi-sains, terutama tema-tema tentang perjalanan luar angkasa, UFO, alien, dan lubang hitam. Arthur C. Clarke (bapak fiksi-sains modern) dan Isaac Asimov dengan novel-novelnya. Juga Stanley Kubrick dengan film magnum opusnya, 2001: Space Odissey.

Fiksi-sains yang mengangkat tema tentang (atau menampilkan) lubang hitam pun tak kalah jumlahnya. Yang terkenal adalah Beyond the Fall of Night oleh Arthur C. Clarke, How We Lost the Moon oleh Frank W Allen, The Black Hole dan Star Trek .

Yang terakhir adalah film Interstellar yang disutradarai Christopher Nolan. Film yang sebenarnya menimbulkan komentar beragam dan rasa kurang puas bagi para fans Nolan. Namun, Intersetellar setidaknya menampilkan tampakan lubang hitam secara nyata dan scientifically correct.

Tak lain karena film tersebut didukung riset dan pengawasan dari Kipp Thorne, Astronomdari CalTech dan beberapa astronom lain. Untuk pertama kalinya, dengan dibantu teknologi CGI (Computer Graphic Illustration) yang mutakhir dari perusahaan animasi visual Double Negative, persamaan matematis oleh Kip Thorne, lubang hitam bisa dicitrakan secara nyata

Ada semacam perasaan transendental spiritual ketika melihat scene di film Interstellar yang menggambarkan lubang hitam Gagantua melumat bintang di sebelahnya, memancarkan cakram gas panas yang berotasi di bibir lubang hitam (Biasa disebut event horizon). Ada perasan yang campur-aduk, mengutip Rudolf Otto “mysterium tremendum et fascinans”. Tak dapat didemonstrasikan secara rasional, yet you just feel it.

Perasaan yang sama menimpa kembali ketika melihat ulasan video yang dimuat di laman Huffington Post ketika sebuah teleskop amatir 20 cm bisa melihat aktivis letupan cakram panas di lubang hitam V404 Cygni. Penampakan aktivitas lubang hitam v404 Cygni ini, menurut hemat saya, adalah salah satu pencapaian besar dalam sejarah dunia sains, terlebih di dunia sains modern saat ini.

Penampakan terakhir yang pernah tercatat dalam sejarah sains adalah supernova Crab Nebula, pada tahun 1054. Pada saat itu dunia sains belum semaju sekarang. Eropa masih dalam zaman kegelapan. Di Timur Tengah banyak terdapat  astronom pada masa itu, tapi belum didukung oleh instrumen secanggih sekarang. Astronomi belum menjadi sebuah institusi sendiri dalam sains.

Tapi kenapa supernova Nebula Crab bisa tercatat dalam sejarah?

Hal itu dimungkinan karena ledakan supernova tersebut cukuplah besar dan sangat tampak terang di angkasa, sehingga bisa tertangkap oleh mata telanjang. Banyak astronom China dan Timur tengah pada masa itu yang mengamati dan mencatat supernova tersebut. Berkat mereka, paranova Crab Nebulae tercatat dalam sejarah.

Akhir kata, dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan sains saat ini, diharapkan semakin banyak misteri-misteri dalam ranah sains,khususnya astronomi yang mulai terkuak.

Karena manifestasi Tuhan (konsep Tuhan bisa pembaca tafsirkan bermacam-macam) terletak dalam keindahan alam semesta, yang bisa dirasakan oleh para ilmuwan. Sebuah perasaan di luar dunia fisik, di luar yang tampak. Perasan bahwa semesta memiliki keteraturan dan hukumnya sendiri, dan hukum itu sungguh indah.

To beyond and infinity. ~ Buzz Lightyear, Toy’s Story