Lumrah–tanpa dilumrahkan–hantu-hantu di beberapa perguruan tinggi meningkat tajam beberapa bulan menjelang sidang paripurna, wisuda. Ia tidak muncul dengan pakaian atau tampang menyeramkan. Justru ia datang–tampak seakan–menjadi dewa-dewa elit superior yang berlagak seperti senior-senior kampus di kegiatan ospek, menjadi pemandu atau pusat atas apa yang benar dengan watak dan sikap yang rapi menyeramkan.

Ia tidak berwujud, hanya saja bersemayam dalam segumpal jiwa-bertubuh. Ia mempengaruhi jiwa-bertubuh menuju suatu kebenaran yang memusat tanpa penundaan. Lalu, ia merajut satu momentum dan monumen superior yang utuh, tidak retak, stabil, pasti benar dan tidak mungkin keliru. Kemudian, dengan dirinya, ia menciptakan suatu titik pusat yang kokoh. Pusat itu adalah penjara-penjara logos, yang memenjarakan dirinya sendiri menjadi logos-sentra. Ia adalah bangunan metafisik yang hadir dan berasal dari dalam jiwa-bertubuh, dan akan dimainkan oleh dan sebagai jiwa-bertubuh yang menurut dirinya unggul-mengungguli segalanya.

Lebih lanjut, dalam diri hantu-hantu logos ini berlangsung persilangan yang otoriter–untuk menjadi domain pada jiwa-bertubuh–yakni pertarungan superioritas internal, lalu yang paling superior-lah yang berhak memimpin suatu putusan, kendali, pusat dan kriteria-kriteria yang mengatasi segala hal di bawahnya secara hierarkis tiada henti-hentinya, tentu tanpa mengambil jarak sangat dekat pada apa yang di luar dirinya [outside], di bawah dirinya [down], yang berbeda darinya [différance] dan yang lain darinya [the other]. Sehingga, hantu-hantu ini hanya gagah dengan dan melalui pusat dirinya serupa diktator yang kejam, rakus, kalap, otoriter dan tidak mengenal batas-batas otoritas bagi yang lain dan yang berbeda.

Logos seakan menguasai secara totalitas sebuah tiang kebenaran, mengatur kebenaran itu dan memonopoli apa yang benar melalui satu pintu, dirinya sendiri. Dari titik ini, bukan tidak mungkin apabila ia menjadi hantu-hantu berdasi yang bersarang memusat pada apa yang tertata, terkordiner, terorganisir, terstruktur, terlembagakan dan terayomi melalui aktifitas jiwa-bertubuh. 

Ia sangat mungkin–melalui kehadirannya yang metafisik–untuk tampil melalui wajah dan watak pada jiwa-bertubuh yang terlembagakan, dan ia dapat menyelundupkan sifat dan sikap keterpusatannya di dalam jiwa-bertubuh. Tapi sayangnya, sifat keterpusatannya tak sama sekali akan hilang dengan kerapian jiwa-bertubuh yang memprisainya. Ia tetap perlu diusir dengan mantra-mantra the other-différance.

Kisah sejoli tanpa cinta, dosen pembimbing dan mahasiswa akhir acap kali menuai sisi-sisi kontroversial yang penting dikaji. Meski tidak secara resmi perlu dikaji, tetapi mari kita relakan sifat resmi ini untuk tiada sama sekali, dan kita memilih untuk mengkajinya secara tidak resmi. Dosen pembimbing tak ubahnya raja Thamus. Segala hal–salah-benar, revisi/acc/legitimasi– berpusat pada dirinya semata. Sedangkan tulisan atau skripsi mahasiswa yang di dalamnya memuat permainan dan pertautan tanda pada teks secara tertulis–yang memuat the other-différance – seringkali dianggap asing atau apa yang di luar dirinya, eksterior.

Karena skripsi pada tatanan ini adalah eksterior–di luar pusat/diri dosen–maka ia rentan dituduh menganggangu tatanan yang interior-dogmatis yang terpusat dalam diri dosen pembimbing. Agar tidak menganggu interioritas yang memusat ini, maka skripsi mahasiswa di luar dirinya atau yang eksterior harus senantiasa tunduk pada legitimasi interioritas pusat dalam dirinya. 

Karenanya pula, interioritas; salah-benar, revisi/acc/legitimasi yang terpusat dalam diri seorang dosen pembimbing tiada dapat diganggu-gugat secara eksterior. Akhirnya, terpusatnya salah-benar, revisi/acc/legitimasi pada dosen pembimbing ini tak ubahnya penjara bagi the other [yang lain] dan différance [yang beda] yang berada di luar interioritas pusat. Dari sini, the other-différance yang terpenjara di luar interioritas pusat; logos-sentra dalam diri dosen harus memberanikan diri untuk tunduk pada yang interior–apabila ingin terlepas dari penjara dan masuk ke dalamnya.

Di sini, mahasiswa dan skripsinya menjadi yang eksterior bagi dosen pembimbingnya. Skripsi tersebut tidak punya interioritas; salah-benar, revisi/acc/legitimasi pada dirinya-sendiri. Ia dikendalikan hal-hal di luar dirinya, yakni oleh interioritas yang memusat dalam diri dosen pembimbing. Interioritas pusat; logos-sentra dalam diri dosen pembimbing adalah apa yang eksterior bagi mahasiswa, sehingga, skripsi, karena tidak punya legitimasi bagi dirinya, selalu dihantam dan wajib tunduk secara eksterior oleh interioritas dosen pembimbing yang tunggal dan terpusat. Di sini, logos dengan jelas terpusat pada dosen pembimbing. Keterpusatan logos ini adalah pintu masuk dogma-dogma dan awal musnahnya interioritas sebagai yang lain dan berbeda dalam diri mahasiswa.

Kemusnahan interioritas diri mahasiswa dan skripsinya menandai adanya interioritas yang superior di luar dirinya. Interioritas-superior di luar diri mahasiswa disebut interior yang eksterior yakni interioritas yang dikendalikan atau datang dari luar secara terpusat; hanya datang dari dosen pembimbing. Maka pasti, interioritas yang superior di luar diri mahasiswa akan selalu dikendalikan secara tunggal oleh pusat-pusat logos. Lalu, dengan ini, logos menjadi tunggal, terpusat di tangan dosen pembimbing. Mahasiswa dan skripsinya kapan saja akan menjadi korban keganasan logos yang memusat dan tunggal ini.

The other-différance yang terdapat dalam teks-teks skripsi adalah yang asing-merusak bagi tatanan dogmatis. Tatanan dogmatis ini muncul akibat pemusatan dan penunggalan logos. Bagi dogma, apa yang asing-merusak dirinya, tidak mendukungnya hidup, perlu direvisi tiada-henti hingga menemui satu titik dimana ia tidak lagi asing-merusak dan berpotensi untuk menjadi dogma pula. “Revisi” mungkin saja sebatas rekayasa dari terpusatnya logos untuk menghancurkan tatanan dalam teks-teks skripsi yang asing-merusak, anti-pusat dan anti-dogmatis. 

Sedangkan logos sendiri membangun formula keterpusatannya di balik layar pada bangunan "revisi". Di bagian ini, "revisi" tak ubahnya kabut tebal yang merusak konsentrasi teks-teks yang saling bermain tanda agar tidak merusak tatanan logos yang dogmatis, tunggal dan terpusat. Tetapi, konsentrasi permainan tanda pada teks tidak akan terjadi, karena teks-teks sebagai kumpulan tanda tidak akan pernah terkecoh oleh apa-pun. Akhirnya, ia akan tetap tampil asing-merusak dengan mantra the other-différance pada tatanan dogmatis secara pelan-pelan.

"Revisi" ini akhirnya tidak akan menjumpai suatu titik yang radikal, jika ia tetap meyerupai logos yang terpusat, tunggal dan satu pintu. "Revisi" dalam hal ini juga berpotensi untuk menjadi sarana-sarana dogmatis yang berlawanan langsung dengan teks-teks dalam skripsi mahasiswa. Bagi sebuah dogma, "revisi" bisa saja adalah sarana logos yang terpusat pada dosen pembimbing. 

"Revisi" dalam konteks ini kapan saja dapat menjadi racun bagi the other dan differance dalam teks-teks skripsi. Prihal-prihal yang dipandang sebagai yang eksterior atau asing-merusak dan mengancam keutuhan yang interior pada logos akan selalu diatasi oleh logosentrisme di rahim "revisi". Pemusatan logos sebagai apa yang interior dan memusat pada jiwa-bertubuh menyebabkan keterpusatan dan ketertutupan pada banyak hal di luarnya termasuk jalan bagi the other dan différance.

Apa yang agung dari "revisi" apabila ia menyerupai logos-sentra atau interioritas pusat yang menutup jalan-jalan atas the other dan différance yang eksterior? Apa pula yang perlu dipertahankan apabila "revisi" hanya menyerupai dogma logosentrisme yang tidak boleh diganggu tatanannya? Apa yang pokok dari “revisi” tanpa pertautan atau permainan yang interior dalam diri mahasiswa dan dosen pembimbing? Perlu dinarasikan; sekali-kali, dosen pembimbing skripsi harus merevisi pikirannya sendiri saat membaca skripsi mahasiswa.

"Revisi" memang seringkali menandai dogma dalam tatanan logos. Andai saja skripsi yang sudah selesai diuji dan dijilid rapi–yang sebelumnya telah melalui himpitan/kelonggaran otoritas kebenaran raja, dosen–diajukan kembali layaknya skripsi mentah, maka tentu, akan ada lagi revisi-revisi yang lain, yang berlanjut, tiada-henti. Sebaliknya, akan ada teks-teks skripsi lulus atau dilegitimasi tanpa koreksi teks secara mendalam atau secara longgar di tangan dosen pembimbing. Ini menandai logos pula.

Kedua hal ini sama-sama menandai dogma pada logos-sentra dalam bangunan "revisi" atau bahkan “tidak revisi” sama sekali ketika logos sama-sama terpusat pada dosen pembimbing. Ide-ide yang tertulis dalam skripsi adalah eksterior dan yang lain [the other] dari diri dosen pembimbing. Teks-teks skripsi adalah apa yang beda [différance] dari diri dosen pembimbing. Olehnya, tiada otoritas kebenaran terpusat [logos-sentra] yang berhak hadir mengadili kebenaran yang lain dan beda dari dirinya, apalagi melalui dogma-logos-sentra dalam bangunan "revisi". Tetapi mengapa "revisi" datang?

Thamus atau dosen Pembimbing–bisa saja serupa–adalah ayah dari logos. Sang ayah mungkin saja dalam keadaan tidak mengetahui cara menulis dan melihat permainan tanda pada teks-teks skripsi, tetapi–karena ia adalah seorang raja atau dosen pembimbing, ia memiliki otoritas untuk tidak mengakui tulisan yang datang padanya dengan cara menyisihkannya menjadi apa yang "salah" dan penting "direvisi". 

Pada tatanan lanjut, "revisi"–dekat di sini–yang lahir dari otoritas tunggal tak ubahnya racun bagi the other-différance, yang tampil bagai ramuan herbal yang seakan dapat mengatasi kerancuan pada permainan teks dengan logos-sentra. Padahal, dengan logos-sentra, justru setiap teks semakin rusak. Sang ayah yang menjadi pusat seakan cukup dengan hanya berkata “revisilah!” atau hanya menyentuhnya sedikit, mengajarkan dan berbicara sedikit sekaligus mengadili, mengabsahkan, melegitimasi dan merombak tanpa penundaan kebenaran sama sekali.

Ketersisihan yang lain– the other–akan menguatkan daya bagi hantu-hantu logos-sentra. Sedangkan ketersisihan yang berbeda–difference–mengokohkan bangunan oposisi-biner pada logos-sentra. Oposisi-biner pada logos-sentra adalah senjata penghancur paling menakutkan yang dipakai oleh dosen pembimbing untuk mengadili teks-teks skripsi yang dirajut oleh mahasiswa melalui bangunan “revisi” yang kokoh. 

Permainan tanda yang di dalamnya terdapat the other dan difference akan tiba-tiba musnah, berganti apa yang tunggal, yang utuh, yang gagah, yang superior, yang senior dan yang mono-ideas di tangan Dosen pembimbing melalui "revisi". Tidak ada jalan alternatif kecuali tunduk padanya, mengikuti arahnya, dan melayani nafsu logos-sentranya.

Pemusnahan the other dan différance ini dibawa oleh hantu-hantu logos diatas, yang bersarang dalam jiwa-bertubuh seorang dosen pembimbing, seorang raja, seorang senior, kaum-kaum superior, dan pemimpin-pemimpin otoriter. Pemusnahan ini, sekali lagi, tepat seiring dengan deklarasi logos-sentra. Logos-sentra di sini tak ubahnya sebuah struktur dan aturan anti-kritik, anti-beda, anti-lain dan anti-gugatan. 

Ia seakan sebuah institusi yang di dalamnya terpelihara kemungkinan-kemungkinan yang memuat nafsu untuk menyeleweng dan retak melalui keterpusatan dan ketunggalannya. Logos-sentra ini setiap saat mengalami keretakan yang serius, karena ia tak dapat mengatasi the other dan différance, tetapi ia pandai memoles keretakannya dengan superioritas di wajah-wajah "revisi". Ini terlihat dalam momentum bimbingan skripsi itu tadi.

Dosen, dengan super-superioritasnya sudah berdiri dengan full of logos-sentra. Segala teks tertulis dalam skripsi menjadi tawanan-tawanannya. Teks-teks yang tidak sesuai selera–other dan difference–subjektifitasnya seakan telah berbaris secara lurus untuk dicorat-coret; salah dan perlu direvisi. Kebenaran di sini menjadi tunggal, satu arah, satu ranting, satu pohon, satu garis yang semua kelestariannya harus berasal dari yang tunggal, yakni yang keluar dari dosen pembimbing. Bagaimana mungkin kebenaran menjadi tunggal atau sempit jika ia pada dasarnya berbeda, luas, dan memang yang lain? Tentu, yang terjadi adalah eliminasi dan pembantaian besar-besaran atas teks dan permainan tandanya karena dogma logos-sentradan di bagian ini, yang bertahan adalah logos, yang subjektif, yang menurutnya utuh tak tertandingi.

Ketika yang "lain" dan yang "berbeda" ditampik atau ditolak, maka yang "baru" dan yang "mungkin" dalam kemungkinannya akan terpenjara, tertutup rapat sekali dan terkubur dalam sekali pada bangunan logos-sentra, dan suatu saat yang “baru” dan “mungkin” akan berubah menjadi yang musnah, hilang, tiada sama sekali dan sirna di bawah logos-sentra ini. Kreatifitas-kritis yang penuh dengan keberbedaan dan keberlainan tiada akan muncul sama sekali di sini.

Jika logos ini terlembagakan, terbentengi status quo, terlindungi struktur dan kelas-kelas mapan, maka bantahan-bantahan dari dalam diri the other dan différance akan semakin terabaikan. Ujung-ujungnya, pendangkalan tiba-tiba menguras segala usaha radikal, kreatif dan kritis. Pemusatan kebenaran tiba-tiba memporak-porandakan ketersebaran. 

Logos sendiri dengan ini telah mengurangi daya kreatif; yang lain dan berbeda, lalu kebenaran akhirnya mengurangi nilai-nilai kritisnya sendiri. Pada sisi ini, logos tak ubahnya mitos-mitos yang dipaksa untuk diadopsi, dipercaya dan diwariskan. Celah-celah logos yang memberikan ruang bagi watak mitos akan melahirkan suatu intensi-mitologis. Segala hal, dipaksa dengan sengaja untuk dibenarkan dari waktu ke waktu berikutnya, sedangkan tiada tatanan kosmos di dalamnya. Di lembah ini, "revisi" hanya mitos-mitos yang berulangkali membual.

Logos boleh saja bergerilya, memasang badannya asal berbingkai kosmos sebagaimana telaah Georgias dalam "Derrida" yang ditulis oleh Muhammad Al-Fayyadl. Kosmos adalah tatanan kebenaran yang teratur dan mengarah lurus pada satu arah atau asal, telos. Tanpa tatanan kebenaran yang teratur, logos atau yang disebut kehadiran metafisik rentan sekali diselewengkan. 

Dengan ini, logos dan kosmos adalah satu entitas yang tidak terpisahkan, karena keduanya saling mengokohkan secara esensial. Tetapi, sudahkah kosmos ini tertata dan teratur menuju suatu arah yang kekal mengiringi logos dalam jiwa-bertubuh seorang dosen pembimbing skripsi sebagai perisai apabila suatu saat muncul setan-setan ganas memaksa dirinya untuk menyelewengkan logos dalam tubuhnya? Sudahkah ia memposisikan logos dan kosmos dengan setara dan seimbang?

The other dan différance adalah apa yang selalu teratur dan terarah pada yang "lain" dan yang "beda". The other dan différance adalah bagian-bagian pokok dari kosmos karena ia teratur-terarah dalam kelainan dan keberbedaanya. Dari sini, apabila logos tak menyertakan the other-différance dalam tatanan kosmos maka yang muncul adalah logos yang "menghantu" dan "meracun". "Revisi" hendaknya mengakomodasi yang di luar, berbeda dan lain sebagai tatanan kosmos, agar terhindar dari logos yang berwujud racun dan hantu. 

Maka, dengan ini, mantra-mantra the other-différance adalah milik kosmos, karenanya, ia harus dibawa ke tengah-tengah untuk mengusir hantu-hantu logos yang dogmatis. Dengan hal ini pula, dengan memasukkan the other-différance yang eksterior untuk berdialog dengan yang super-interior, atau melepaskannya dari penjara logos-sentra, maka bangunan "revisi" akan sedikit terbuka, tetapi bukan menjadi yang benar, melainkan berada dalam proses-menuju, dialog-menuju, menuju-tiada-henti pada apa yang benar. Maka, pada proses yang tiada-henti ini, kebenaran selalu tersebar, terbuka, dapat dikritik, berbeda, berlainan, berdialog dan tentu tiada akhir.

Di sini, karena segala kebenaran selalu tiada-akhir, skripsi melalui himpitan “revisi” bukanlah apa yang benar, tetapi ia hanya kesementaraan yang menunda untuk menjadi apa yang benar. Olehnya, “revisi” sudah seharusnya lepas dari kangkangan logos-sentra yang menghantui proses penundaan apa yang benar, dan agar terlihat jelas, apakah penundaan kebenaran ini hasil hantu logos-sentra atau hasil mantra the other-différance.