Tatkala kita menyebut kata hantu apa yang lazim terbayang di benak khalayak? Tentu mahluk ghaib yang wujudnya horor. Sebut saja pocong, genderuo, sundel bolong, wewe gombal, kuntil anak dan lain-lainnya. 

Konon, mereka menghuni dan berkembang biak di banyak tempat seperti kuburan, pohon besar, rumah suwong, hutan, pegunungan, danau, sungai, pantai.

Namun bagi sebagian orang tempat-tempat angker seperti itu tak dipedulikan ketika punya nilai proyek yang menjanjikan secara finansial. Mereka mikirnya simpel saja, panggil pawang hantu kelar urusan. Itu urusan hantu-hantuan dalam istilah budaya. Bagaimana dengan istilah hantu dalam perspektif kajian psikologi?  

Hantu dalam kajian psikologi agaknya punya kemiripan. Sama-sama ditakuti manusia. Seperti takut kehilangan harta, pangkat, ditinggalkan orang-orang yang dicintai, takut lapar, takut miskin dan takut-takut lainnya. 

Mestinya orang-orang yang hidupnya terjerat ketakutan-ketakutan atau trauma masa lampau dan yang terhantui masa depan mikirnya simpel saja. Datangi tempat-tempat penyembuhan jiwa. 

Kalau belum punya ongkos untuk terapi secara profesional, bisa juga mendatangi majelis-majelis dzikir, berkawan dengan orang-orang yang vibrasinya memancarkan kedamaian, merangkul yang lemah, atau mungkin mendatangi Allah di sepertiga malam. Atau bisa juga menyimak kajian "hantu" versi Jungian yang akan dibeberkan di tulisan ini. 

***

Baiklah saya akan menafsiri "hantu" dalam kajian Jungian. Jung menyebutnya bayangan gelap. Jung fokus kajian psikologinya memang menyoroti persoalan manusia dari sisi gelapnya. Menurutnya bahwa dalam perjalanannya, manusia banyak yang mengalami luka batin, trauma dan gangguan jiwa yang jika sudah menghuni ke dalam alam bawah sadar dalam waktu yang lama suatu saat akan jadi bom waktu, bahkan bisa membahayakan keselamatan jiwanya dan orang lain. 

Pernahkah kita menjumpai orang yang biasa dikenal santun oleh khalayak tetapi di lain kesempatan tiba-tiba marah besar seperti orang kesurupan? Kalau anda pernah menjumpainya itulah sedikit gambaran dunia alam bawah sadar yang tertimpa banyak beban jiwa kemudian mengemuka mengusai alam kesadarannya. 

Jika alam sadar telah dikuasai "hantu" maka akan jadi cuti nalar bahkan bisa pensiun. Lihat bagaimana orang gila yang telanjang bahkan ada yang kadang ngamuk-ngamuk sendiri. 

Lantas bagaimana Jung melihat alam sadar manusia? Alam sadar atau yang dikenal ego keberadaanya pada tingkat tertentu selalu dicurigai sebagai alam yang sarat dengan kepalsuan.  Maksudnya di alam sadar banyak orang gemar memakai topeng-topeng. 

Orang kerap ingin tampil yang baik-baik saja. Sementara yang buruk-buruk ia sembunyikan. Memang tampil yang baik-baik adalah cara yang lazim ditempuh orang kebanyakan. Bahkan semua agama pun mengajarkan demikian. 

Namun yang jadi persoalan adalah ketika orang gemar memunafiki diri sendiri yang panggung depan dan panggung belakang tidak sejalan seiring. Misal, di depan banyak orang terlihat happy-happy saja namun yang sebenarnya ia sedang menyimpan rapat-rapat trauma atau rasa sakit yang mendalam atau ketakutan-ketakutan yang lain. 

Sisi gerak jiwa yang seperti ini yang nantinya akan banyak diakses dalam suatu proses penyembuhan. Kalau boleh mengambil bahasa agama adalah upaya muhasabah diri sejujur-jujurnya untuk selanjutnya mengistigfarinya. 

Poinya adalah Jung menyeru bahwa agar menjadi pribadi yang seutuhnya, pada mulanya harus berani masuk ke dalam diri yang dulu atau sedang terluka dan trauma. Atau anggap saja upaya ini adalah menjenguk bagian diri yang sedang membutuhkan pertolongan. 

Bagaimana prosesnya? Supaya mudah dimengerti maka ada sebuah ilustrasi. Ibarat sebuah bumper mobil rusak. Kita akan digiring berfikir detektif.  Misalnya kenapa bumper mobil bisa rusak?  Oh karena ditabrak motor. Motornya merknya apa? Warnanya apa? Keluaran tahun berapa? Siapa pengendarannya?  Di mana ia tinggal? Kenapa dia menabraknya? Dalam kecepatan berapa ia menabrak? Setelah diketahui jawaban-jawabanya bumper mobil yang rusak kemudian dibawa ke bengkel untuk dibenahi. Bertele-tele?  Iya. Namun penyembuhannya bisa menyentuh sampai ke akarnya.

Kalau sebuah mobil rusak sebaiknya memang dibawa ke yang benar-benar ahlinya, apalagi yang berkaitan dengan kepribadian. Harus yang ahli sungguhan. Punya jam terbang yang memadahi. Memiliki kesiapan mental untuk menerima keluh kesah dalam proses pembongkaran traumatik dan luka-luka batin yang lainnya.

Sebab, proses ini melibatkan beragam emosi dan menguras energi begitu besar. Oleh karena itu, apapun aliran terapi kejiwaanya kalau terapis belum memiliki kesiapan-kesiapan tersebut maka klien hanya akan menjadi kelinci percobaan. Alias akan banyak errornya. Banyak bocornya. Kalau ban motor anda bocor lalu anda kendarai apa yang anda rasakan? Tentu dalam perjalanannya sangat tidak nyaman bahkan akan cenderung tergelincir. 

Maka sarannya adalah kalau ada saudara atau siapa saja yang kebetulan punya persoalan jiwa yang sifatnya segera untuk ditolong secara profesional maka sebaiknya kenali terapisnya dengan melihat rekam jejak dan jam terbangnya. Sudah berapa jiwa yang sudah ia selamatkan? Apa saja pendekatan yang ia pakai dalam proses terapinya hingga banyak orang bisa melewati masa kelamnya dengan selamat? Wallahua'lam.