1 tahun lalu · 7018 view · 3 menit baca · Politik 98679_33556.jpg

Handuk Toh Barang Ringan, Bisa Anies Pegang Sendiri

“Pa, tidakkah Bapa merasa diri seperti seorang raja dari ketoprak kalau Bapa dengan berpakaian kebesaran model kuno itu dipayungi oleh seorang opas? Kenapa Bapa mesti dipayungi orang lain? Payung toh satu barang yang ringan, bisa Bapa pegang sendiri. Dalam mata saya, semua itu sangat lucu, Pa!”

Kutipan di atas adalah curahan hati Anwar, salah satu tokoh dalam novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja (1949). Kepada rekan-rekannya Rusli, Kartini, dan Hasan, Anwar mengeluh dengan sesalnya tentang bagaimana bapaknya menjadi seorang feodalis saat menjabat sebagai bupati, orang nomor wahid di kampung halamannya.

Nee zeg, weg met dat mensonterende feodalistisch gedoe (Basmilah kebiasaan feodal yang merendahkan martabat manusia itu). Sesungguhnya, dalam mata saya, semua itu sangat lucu. Kehormatan, katanya. Padahal dat is toch gewoon ‘badutisme’, nietwaar? (sungguh badut-badutan melulu, bukan?),” keluh Anwar.

Apa yang dicurahkan Anwar kepada rekan-rekannya di atas sekaligus mewakili ungkapan perasaan saya atas diri Gubernur Terpilih DKI Jakarta Anies Baswedan. Seperti sesal Anwar pada bapaknya, begitu pun sesal saya atas Anies. Keduanya, bapaknya Anwar dan Anies, sama-sama mempertontonkan badut-badutan melulu. Lucu tapi memuakkan!

Lihatlah saat Anies melakukan sesi pemotretan di daerah Jati Padang, Jakarta Selatan, Jumat (13/10/2017). Gaya yang ia lontarkan ke publik sungguh tak lebih baik dari gaya bapaknya Anwar yang diilustrasikan melalui novel bergenre sastra klasik Atheis itu.

Jika bapaknya Anwar dibawakan payungnya oleh seorang opas, maka Anies dibawakan handuk—sapu tangannya—oleh seorang ajudan, anak buahnya. Padahal, baik payung ataupun handuk, toh barang-barang itu terbilang ringan. Bisa ia bawa atau pegang sendiri. Kenapa mesti meminta bantuan orang lain hanya untuk sesuatu yang ringan-ringan seperti itu?

Yang paling bikin lucu tapi memuakkan lagi dari gaya Anies di sana adalah karena sikapnya tak menunjukkan rasa terima kasih sedikitpun kepada ia yang memberinya bantuan. Justru perlakuan sebaliknyalah yang Anies tunjukkan sebagai balasannya.

Tentang ini, saya rasa cuitan Saidiman Ahmad di akun Twitter-nya cukup mewakili: Masih ada toh pejabat dengan gaya begini. Seanak-anak buahnya orang, tidak pantas handuk bekas keringatmu diselempangkan ke lengannya.

Ya, meski ia dibayar hanya untuk itu, tetap saja tak patut menampakkannya-serta di ruang publik. Sebab, berlaku begini, kesan yang hanya akan terlihat adalah bentuk perendahan martabat manusia. Ndeso sekali jika masih ada orang yang hendak berlaku seperti ini.

Soal handuk atau sapu tangan, saya jadi teringat dengan kebiasaan Ahok. Tentu sangat berbeda dengan apa yang ditunjukkan Anies di video viralnya, Ahok ke mana-mana justru membawa handuk atau sapu tangannya sendiri tanpa bantuan orang lain.

Ketika hendak menyeka keringat, misalnya, Ahok tinggal mengambilnya saja dari saku celana sendiri. Tak perlulah dibawakan oleh ajudan meski sebagai penguasa ia bisa menuntut hal yang demikian. Tapi, Ahok bukan Anies. Ahok tak perlu membayar orang hanya untuk sesuatu yang sepele, yang itu bisa dikerjakannya sendiri dengan mudah.

Meskipun harus terpaksa dibawakan, setidaknya ada ungkapan terima kasih dari Anies untuk ajudannya. Sebab relasi bos-anak buah itu tak melulu soal materi semata. Apalagi ini ditonton banyak orang di mana Anies adalah figur publik yang akan banyak ditiru.

Tapi ini? Alih-alih menghatur rasa syukur, muka Anies justru terlihat cuek. Sangat jelas sekali ketidak-tahuan dirinya untuk hal-hal yang sebenarnya bisa terucap secara spontan itu. Bahkan sekadar menampakkan kesan di raut wajahnya sendiri pun hampir tidak.

Apakah mungkin karena Anies memang tak pernah membaca Bumi Manusia-nya Pram? Di sana jelas terseru bahwa kepada binatang sekalipun, ungkapan terima kasih tetap diwajibkan. Seperti kata Pram, “Berterimakasihlah kepada segala yang memberimu hidup.” Apalagi kepada manusia? Ah, Anies.

Sikap Anies kepada ajudan yang ditugasi bawa handuk penyeka ingus dan keringatnya juga tampak ketika memasuki warung sederhana. Di salah satu lokasi pemotretan untuk pencitraannya ini juga, lagi-lagi Anies kembali tampil sebagai orang yang tidak tahu menaruh rasa syukur pada sesamanya.

Jangankan mengucap kebiasaan lumrah itu, melirik sedikit saja kepada si pembawa kursi untuk diduduki pantatnya pun nyaris tidak. Kalau kata kids zaman now, Anies cuek abiss...!!

Maka tak salah ketika banyak pihak menyeru kepada orang-orangtua untuk tidak menganjurkan anak-anaknya menonton video prosesi pencitraan Anies ini. Ya, sebab isi videonya hanya mengajarkan perilaku buruk dari seorang bekas Menteri Pendidikan. Mantan rektor universitas kenamaan pulak, ditambah lagi sebagai penggagas Indonesia Mengajar. Sikapnya benar-benar tak mampu mewakili lembaga-lembaga mulia yang pernah dirinya geluti itu.

Sebenarnya patut dimaklumi. Sebenarnya. Toh Anies memang penguasa. Ia punya kuasa untuk menuntut segala hal yang ia inginkan, termasuk menyuruh anak buahnya untuk menceboki dirinya jika itu memang dibutuhkan.

Meski demikian, sebagai pemimpin, sikap arogan seperti itu tetap tak layak menyatu-padu dalam dirinya. Yang mesti senantiasa harus hadir adalah citra yang memberi contoh layaknya seorang terpelajar, apalagi Anies memang bekas pendidik, pekerjaan termulia di jagat raya ini.

Atau jangan-jangan keterdidikan seorang Anies sendiri justru bermasalah? Ini yang saya tidak tahu. Wallahualam-lah.