Sejak 31 Desember 2019 yang lalu, Virus SARS-CoV-2 telah menjangkit seluruh negara yang ada di dunia hingga menyebabkan pandemi. Dikenal sebagai virus yang menyerang sistem pernafasan, virus SARS-CoV-2 atau yang biasa disebut COVID-19 atau Coronavirus.

COVID-19 telah membuat banyak negara melakukan berbagai macam penanggulangan demi menjaga kesehatan warga negara agar tidak terjangkit dan meningkatkan kemungkinan penularan Virus Corona

Salah satu penanggulangan yang disarankan oleh pemerintah adalah program mencuci tangan dan penggunaan hand sanitizer dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disarankan karena sifat dari virus corona yang dapat bertahan hidup di benda mati seperti kaca, plastik, dan kertas selama 4 sampai 5 hari.

Selain itu pada benda lainnya seperti besi selama 4 sampai 8 jam yang bisa saja disentuh oleh tangan sehingga menyebabkan penularan virus COVID-19. Penggunaan hand sanitizer merupakan desinfektan yang paling sering digunakan. 

Penggunaan hand sanitizer dianggap lebih efisien karena tidak memerlukan air selama proses pencucian, hand sanitizer terbukti lebih efektif dalam membunuh virus. Namun, banyak pengguna yang mengeluh merasakan sensasi terbakar atau sakit setelah menggunakan hand sanitizer

Dari pendapat yang dijelaskan oleh pengguna, antara hand sanitizer dan sabun cuci tangan, upaya manakah yang lebih baik untuk dipakai masyarakat selama pandemi COVID-19 berlangsung?

Dalam upaya pencegahan penularan COVID-19, mulai banyak tempat-tempat umum yang mulai menyediakan sabun cuci tangan sebagai pengganti hand sanitizer. Hal ini umumnya dilakukan karena penggunaan sabun cuci tangan relative lebih murah meskipun tidak lebih praktis dibandingkan dengan hand sanitizer

Sabun pada umumnya mengandung beberapa bahan seperti emollient, triclocarban, triclosan, dan lain sebagainya yang dapat membunuh bakteri dan virus pada permukaan kulit tangan. 

Dalam keefektifannya membunuh bakteri dan virus, sabun dapat melarutkan membrane lipid yang menyelubungi virus sehingga virus tidak dapat bekerja dengan baik.

Sedangkan, hand Sanitizer pada umumnya dikenal oleh masyarakat dibagi menjadi dua kategori, yaitu hand sanitizer beralkohol dan yang tidak beralkohol. Hand sanitizer berbasis alcohol biasanya mengandung bahan-bahan seperti alcohol, ethanol, isopropanol atau propanol.

Pada hand sanitizer sama seperti sabun, dapat meluruhkan membrane lipid yang melindungi virus sehingga virus akan rusak dan tidak dapat bekerja dengan baik. Selain itu, disinfektan yang memiliki kadar diatas 70% terbukti lebih efektif dalam membunuh kuman dan virus dalam waktu kurang dari 30 detik.

Dibalik maraknya penggunaan hand sanitizer karena dianggap lebih praktis, banyak pengguna yang mengeluh karena merasakan sensasi perih ataupun terbakar pada kulit permukaan tangan. 

Rasa sakit pada penggunaan hand sanitizer terjadi ketika kulit yang sudah mengalami luka akibat terkikis bersentuhan dengan alkohol yang ada di dalam hand sanitizer. Alkohol memiliki sifat yang lebih mudah masuk ke dalam lapisan epidermis dan memicu interoseptor atau penerima rangsangan di dalam tubuh.

Sehingga alkohol dapat menyebabkan rasa sakit. Meskipun terasa perih, gatal, ataupun menimbulkan sensasi terbakar, alkohol tidak akan menimbulkan penyakit iritasi lebih lanjut seperti kulit kering dan lain sebagainya. 

Sedangkan, penggunaan sabun cuci muka yang dianggap lebih aman oleh sebagian orang memiliki efek yang lebih berbahaya kepada kulit tangan. Jika kita terlalu sering mencuci tangan, maka tangan dapat kehilangan protein yang terkandung di dalam epidermis atau lapisan kulit. 

Sabun dan air yang biasa kita gunakan untuk mencuci tangan bisa menghilangkan minyak alami serta pelindung yang ada di kulit sehingga menyebabkan kulit menjadi menjadi kering. 

Oleh sebab itu setelah mencuci tangan, disarankan untuk menggunakan pelembab untuk meminimalisir risiko iritasi. Pelembab akan membantu untuk memperbaiki kulit luar yang rusak dan menjaga kelembaban di dalamnya akibat mencuci tangan.

Bila dibandingkan, maka penggunaan hand sanitizer dianggap lebih aman dan efektif dari pada penggunaan sabun cuci tangan. Selain lebih efektif, hand sanitizer lebih praktis karena tidak membutuhkan air mengalir dalam penggunaannya. 

Rasa perih yang dirasakan setelah penggunaan hand sanitizer terbukti tidak akan memberi efek negative dan hanya terjadi kepada kulit yang sudah terkikis. Karena itu, penggunaan hand sanitizer guna mencegah penyebaran COVID-19 dianggap lebih baik dibandingkan dengan sabun cuci tangan. 

Bila dibandingkan, maka penggunaan hand sanitizer sebagai disinfektan virus dan bakteri selama COVID merupakan pilihan yang lebih tepat dibandingkan dengan sabun cuci tangan. 

Terbukti bahwa hand sanitizer selain lebih efektif dalam membunuh virus, namun juga lebih mudah digunakan karena portable dan tidak memerlukan  bahan lain seperti air. 

Meskipun menyebabkan sensasi terbakar atau perih, hal tersebut tidak akan membahayakan ataupun memberi efek negatif terhadap kulit tangan. Hal tersebut terjadi karena alkohol yang terkandung di dalam hand sanitizer menyentuh kulit yang sudah terkikis. 

Namun, penggunaan sabun cuci tangan juga dapat dilakukan sebagai salah satu upaya dalam menanggulangi penyebaran COVID-19, dengan syarat menggunakan pelembab setelah pencucian tangan guna menjaga kelembapan kulit.