Sebagai penonton setia Tonight Show yang dipandu Vincent, Desta, Hesti, dan Enzy, jujur, saya menikmati sekali talkshow yang ditampilkan televisi swasta nasional tersebut dengan sangat kreatif. Apalagi, segmen khusus yang menghadirkan dr. Boyke (pakar seksolog) dalam acara itu membuat saya begitu tercerahkan. Siapa akhirnya yang tidak sedih karena program kesayangannya berhenti?

Seperti emak-emak penggila Cinta Fitri (2007-2011) pasti merana tatkala sinetron itu harus tamat. Anak-anak pengagum Spongebop bisa jadi menangis tersedu-sedu karena kartun favoritnya disensor. Bapak-bapak sangat murka ketika program berita terhangat ditunda. Saya dan Tonight Lovers mungkin saat ini yang paling kecewa berat jika program hiburannya terhenti akibat bisnis televisi dan Covid-19.

Meskipun Tonight Lovers sedikit terobati dengan tampilnya empat pembawa acara yang suka mengelabui, memberikan kejutan, menciptakan suatu suasana, atau meyakinkan orang lain di kanal Youtube, ekspektasi saya terhadap Tonight Show yang akan menyerupai The Ellen deGeneres Show, salah satu talkshow inspiratif di Amerika Serikat, seketika hancur lebur karena kekuasaan mutlak seseorang yang memiliki saham terbesar di stasiun televisi tersebut menghentikan program ini.

Siapa akhirnya menghargai pekerjaan berkesenian Vincent, Desta, Hesti, Enzy, dan lain-lain? Jika rating dan penjualan iklan adalah jawaban pemasaran yang membosankan dari pihak televisi, maka yang sering kali terlontar untuk menghentikan program siaran berkualitas.

Sedangkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pun tak mau tahu pelaku industri kreatif berkembang dan berkarya. Bahkan kalau perlu menyensor ekspresi seniman dari tayangan dengan dalih melindungi generasi masa depan yang lebih baik. Jadi, apa sebenarnya yang lebih berharga dari seorang seniman menghasilkan karya dengan imajinasi dan kreativitas?

Panggung Sandiwara

Kehadiran channel televisi dengan tampilan kekinian pasti selalu ditunggu-tunggu pemirsa. Apalagi anak-anak muda yang haus informasi dan hiburan memukau. Kemunculan Vincent-Desta di dunia pertelevisian tak kurang menghebohkan sendiri dengan banyolan konyol. Sehingga hal itu mungkin yang menarik perhatian generasi milenial perlu menggugat Tonight Show ditayangkan kembali.

Karena alih-alih penonton milenial menyaksikan Tonight Show sesuai dengan jadwal yang telah diatur, namun terpantau viewers lebih membludak di media digital. Siapa orang dapat memaksa Tonight Lovers berada di depan layar kaca pukul 21.00 WIB, apabila Jakarta masih macet sampai tengah malam? Mungkin, mereka yang memaksa adalah orang penting di negeri ini yang ingin bersandiwara.

Beda cerita dengan Tonight Lovers yang memilih Youtube sebagai ruang intim bertemu Vincent-Desta. Selain karena menyediakan segmen-segmen paling menghibur yang sudah tayang di televisi, sosok Vincent-Desta sebagai pasangan komedian bisa jadi merupakan kehendak penonton memilih program hiburan. Dengan asumsi itu, pasti ada saja yang mengomel ‘Kenapa Vincent-Desta tidak menjadi Youtubers?’

Menurut saya, hanya Vincent-Desta yang menjadi seniman bagi hidupnya sendiri yang bereksistensi. Sedangkan seniman yang hanyut dalam megahnya panggung tidak bisa dikatakan bereksistensi, sebab dia tidak aktif mengarahkan hidupnya sendiri. Soal pembelaan ini, kita boleh bertaruh mengenai proses kreatif yang Vincent-Desta kerjakan di panggung hiburan tanah air.

Pertama, keluarnya Vincent-Desta dari grup musik Club Eighties merupakan keputusan eksistensial yang konkret dari seorang musisi. Alasan gaya bermusik Club Eighties yang sudah tidak sesuai lagi dengan dirinya menunjukkan penghayatan eksistensial Vincent-Desta sebagai musisi kawakan. Sehingga Vincent-Desta bisa dengan bebas memilih untuk hidup dalam tahap ini dan secara konsisten berkarya sebagai seorang seniman.

Kedua, kasus hukum yang menimpa Vincent-Desta dalam memandu acara televisi adalah lompatan eksistensial yang membuat mereka berdua memilih bebas sebagai pembawa acara. 

Pada kasus ini, Vincent-Desta menyesuaikan tindakan-tindakannya dengan patokan-patokan moral universal. Meskipun mereka berusaha mencapai asas-asas moral universal, mereka masih bersikap mengandalkan kekuatan rasio sebagai seorang seniman.

Ketiga, munculnya Pretty Boys yang dibintangi Vincent-Desta dalam industri layar lebar merupakan komitmen pribadi mereka yang sangat paradoks. 

Dalam kasus ini, keresahan Vincent-Desta di dunia pertelevisian harus mereka tempatkan dalam sebuah relasi dengan publik yang tak terbatas. Sehingga apa yang mereka lakukan sebagai seorang seniman betul-betul memasuki renungan tentang palung-palung terdalam penghayatan eksistensial manusia.

Nah, saatnya sekarang saya serahkan kepada pembaca budiman; siapa sebenarnya yang menghancurkan dunia pertelevisian kita jika seniman tidak pernah punya harga diri di panggung sandiwara? 

Meminjam judul hasil wawancara Tompi dan (alm) Glenn Fredly dengan pemain Pretty Boys yang berjudul ‘Hancurnya Dunia Pertelevisian’ di Narasi TV, mungkin sangat relevan. Karena sebelum menerima tawaran Najwa Shihab untuk program Narasi Talk, kedua musisi kondang itu mengaku belum ingin bergabung dengan televisi masa kini.