2 tahun lalu · 677 view · 3 menit baca · Buku img_20161209_155832_hdr.jpg
Foto: Dokumentasi Pribadi

Hamsad Rangkuti, Cerita Pendek, dan Ironi

Ulasan Kumpulan Cerpen “Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah”

Cerpen “Rencong” bisa saja diandaikan menganjurkan perlawanan, meskipun dengan kekerasan, tetapi pada saat yang sama cerpen itu memperlihatkan bahwa kekerasan hanya melahirkan kekerasan. –- Seno Gumira Ajidarma, sastrawan

Kumpulan cerpen Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah menyiratkan kehidupan yang selalu memiliki sisi lain. Sebagian besar tema yang diangkat pada kumpulan cerpen ini adalah tentang kemiskinan. Meskipun ada beberapa beberapa cerita pendek yang tidak menjadikan kemiskinan sebagai objek pembahasan, namun Hamsad Rangkuti seolah sulit terlepas dari tema-tema menyangkut kemanusiaan.

Beberapa kumpulan cerpen lainnya pun memiliki tema besar yang serupa. Seperti dalam kumpulan cerpen Lukisan Perkawinan yang bercerita tentang seorang suami yang cemburu dan menaruh curiga terhadap istri dan pelukis keluarganya. Padahal pelukis tersebut hanyalah seorang suami dan ayah yang sedang mencari nafkah untuk keluarga. Sedangkan realitas mengatakan bahwa bagi sang pelukis, menemukan orang untuk memesan lukisannya bukanlah perkara yang mudah.

Sedangkan dalam kumpulan cerpen Bibir dalam Pispot—yang kemudian dicetak ulang oleh DIVA Press dan mengganti judulnya menjadi Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?—misalnya, seorang pria dituduh menelan kalung lima belas gram dan diminta untuk mengeluarkan kotorannya ke dalam pispot. Alasan pria tersebut menelan kalung itu tidak lain karena dia membutuhkan uang agar anaknya dapat berobat ke dokter.

Ironi kembali terjadi dalam beberapa cerpen dalam Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah. Karjan dan Kambingnya bercerita tentang orang yang merindukan makan daging ketika lebaran. Karjan, yang dalam cerpen diceritakan berprofesi sebagai buruh harian di stasiun, bertemu dengan sahabat lamanya dan secara tiba-tiba sahabatnya tersebut memberikan kambing.

Bayangan pesta kambing guling sudah terlintas di pikiran Karjan. Hingga secara tiba-tiba pula, petugas keamanan menahannya karena disangka kambing tersebut merupakan hasil curian.

Penyair Bahman juga memiliki kisah yang cukup menarik. Hamsad Rangkuti justru membiarkan pembaca menimbulkan asumsi bahwa sulit untuk mendapatkan uang dari sekadar penciptaan puisi-puisi atau cerita pendek.

Sesuatu yang satire muncul saat sepuluh tahun kemudian sang penyair menjadi kaya setelah dirinya dinobatkan sebagai wakil rakyat. Tentu hal tersebut menjadi suatu polaritas mengingat sering kali terjadi kesenjangan yang cukup signifikan antara kaum penyair dan para wakil rakyat.

"Siapa yang tidak menjual dirinya saat ini, Ibu," katanya sambil terus menggendong ibunya. "Semua orang telah menjual dirinya. Karena semua orang mau menjadi pembeli." hal. 143

Jika kita singgung cerpen yang menjadi judul utama dalam kumpulan cerpen ini, yaitu Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah, maka sesuatu yang menggelitik namun miris akan terasa. Wanita muda itu merelakan dirinya dibeli dengan harga tertinggi, karena dia masih suci--dan karena semua orang mau jadi pembeli--agar bisa membawa ibunya ke rumah sakit. 

Sapardi Djoko Damono memaparkan dalam prolog di kumpulan cerpen ini, “Dalam kebanyakan ceritanya, Hamsad sama sekali tidak mengajak kita untuk berfilsafat muluk-muluk; ia dengan cerdik telah menggoda kita agar menjadi penonton yang terpesona oleh peristiwa yang direkanya.”

Ini menunjukkan bahwa Hamsad tidak mementingkan kontemplasi rumit untuk dapat memahami ceritanya. Secara subtil dia lebih mementingkan substansi untuk dielaborasi kedalam kisah-kisah yang sederhana.

Jika diperhatikan, konten dari cerita-cerita yang diangkat oleh Hamsad memiliki kecenderungan yang sama. Dapat dikatakan hal ini memungkinkan pembaca setianya menemukan kejenuhan karena tema-tema yang kurang bervariatif. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa Hamsad merupakan salah satu pujangga hebat di Indonesia.

Keironian tidak hanya terjadi di dalam cerpen-cerpen yang Hamsad ciptakan. Kehidupan pribadinya saat ini pun begitu miris—tergolek lemas di atas kasur dengan penyakit yang menjalar di usia senja, bahkan informasi terakhir dari Tim Kurator DIVA Press menyatakan bahwa rumah tempat Hamsad tinggal dicantumi plakat bertuliskan “Dijual”.

Apresiasi terhadap karya-karyanya menjadi salah satu hal penting yang dapat dilakukan oleh para pembaca ataupun orang yang bergelut di bidang sastra. Meminjam perkataan Tim Kurator DIVA Press terkait keironian yang sering ditemui, “Sudahlah, di negeri ini, ironi bukan hanya miliki Hamsad Rangkuti. Negara memang selalu absen pada para pahlawannya.”

Judul: Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah | Penulis: Hamsad Rangkuti | Penerbit: Senja (DIVA Press Group) | Cetakan: Pertama | Tahun Cetak: 2016 | Total Halaman: 224 | ISBN: 978-602-391-174-5

(*) Utan Kayu, 9 Desember 2016