Ketika mendengar nama Hamka, pertama kali yang terlintas dalam benak adalah sastrawan, pengarang, bahkan seorang pembaru pemikiran Islam. 

Tentu hal ini bukan hanya sangkaan, melainkan suatu ungkapan kekaguman dari masyarakat luas yang mengenal Hamka secara langsung atau hanya melalui karya-karyanya yang memang menunjukkan penulisnya adalah seorang ahli dalam bidangnya. Dengan demikian, ia sangat layak menyandang gelar keulamaan, yakni Buya.

Generasi milenial tentu hanya mendengar dari para tokoh yang mengutip dan mengisahkan hidup dan pemikiran Buya. Ironisnya, pemikiran Buya yang tergolong revolusioner kemudian banyak dijadikan fondasi radikalisme agama. 

Hal ini terjadi karena pemikiran Buya dipisahkan dari ciri khasnya, yakni spiritualitas. Padahal semangat revolusi dalam pemikiran Buya lahir dari spiritualitasnya yang tinggi.

Buya menulis karyanya dengan seluruh unsur kemanusiaannya; fisik, pikiran, hingga jiwanya. Ia menulis dengan kesungguhan raga dan jiwa. Membaca karya Buya adalah mengobati goresan-goresan luka karena keringnya penjiwaan dalam menjalani kehidupan ini. 

Hidupnya kejiwaan dalam karya Buya tentu tidak hanya di rasakan oleh generasi belakangan, tetapi telah dirasakan oleh masyarakat luas yang hidup semasa dengan penulisnya. Di samping kedalaman penjiwaan Buya dalam menulis karya-karyanya, juga disertai oleh ketinggian ilmunya, sehingga sama sekali tidak ada kesan kekakuan, apalagi primitif.

Buya Hamka dan Tasawuf Modernnya

Pada mulanya, buku Tasawuf Modern merupakan kumpulan rubrik Bahagia dalam majalah “Pedoman Masyarakat” yang ia dirikan bersama temannya di Medan. Kemudian tulisan-tulisan itu disusun menjadi sebuah buku yang dicetak pertama kali pada bulan Agustus 1939 dengan judul Tasawuf Modern

Hal ini dilakukan karena banyaknya permintaan masyarakat pembaca waktu itu, serta banyaknya surat yang diterima baik oleh Buya sendiri maupun oleh redaksi As-Syura, penerbit Pedoman Masyarakat, yang meminta agar kumpulan tulisan dari majalah mingguan tersebut segera dibukukan.

Menurut pengakuan Abdullah Faqih, seorang muballigh di Aceh, sebelum membaca Tasawuf Modern, dia menyangka bahwa pelajaran yang begitu tinggi tentang kesucian batin hanya teosofi. Namun, setelah membaca buku tersebut, dia memperoleh pencerahan yang menguatkan iman dan jiwanya (Hamka, 1990: 1).

Dilihat dari sejarahnya, tentu buku ini bukan buku ilmiah. Sekalipun demikian, dalam pendahuluannya, Buya menjelaskan bahwa karyanya itu diambil dari berbagai sumber; karya-karya ahli filsafat dan tasawuf, yang kemudian dibandingkan dengan Alquran dan hadis, juga karya-karya filosof Barat yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab (Hamka, 1990: 2). 

Di samping itu, buku ini bukan hanya pungutan-pungutan dari beberapa karya ulama besar itu, tetapi juga disertai dengan analisis tajam penulisnya.

Prinsip dasar buku tersebut adalah mengehendaki tasawuf dijalankan dalam kehidupan manusia dengan mencontoh kehidupan kerohanian Rasulullah saw, dimulai dari membersihkan hati dan memperbaiki moral, kamudian menghiasi diri dengan perbuatan-perbuatan terpuji. 

Dengan demikian, pada praktiknya, Tasawuf Modern lebih mengarah pada prilaku kaum muslim yang proaktif dalam mencapai kebahagiaan dunia dengan berbagai langkah yang telah diajarkan Islam, yang di dalamnya tertanam sikap untuk meninggalkan kemalasan dan kebodohan dengan menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk tujuan yang bermanfaat (Hamka, 1990: 11-16).

Dalam menjelaskan tentang tasawuf, Buya ingin menegaskan bahwa inti dari kehidupan rohani adalah pendidikan tentang kesederhanaan hidup, yakni tidak mencintai dunia. Dalam bukunya yang lain, Buya menyebut tasawuf sebagai tempat pulang bagi orang lelah berjalan, dan menjadi tempat berlari bagi orang yang telah terdesak, dan tasawuf menjadi penguat pribadi bagi yang lemah dan menjadi tempat berpijak yang kokoh bagi orang yang telah kehilangan tempat tegak (Hamka, 1983: 9). 

Dengan demikian, tasawuf tidak lagi menjadi sebuah ajaran untuk bermeditasi dalam kesunyian, tapi merupakan pekerjaan-pekerjaan sosial yang diisi dengan nilai-nilai spiritual.

Menurut Buya, bekas tasawuf yang mengajarkan menjauhi keduniawian dan meditasi dalam kesunyian masih cukup membekas dalam dunia Islam. Hal ini yang menurutnya menjadi penyebab kemunduran peradaban Islam. Orang lain maju di dalam lapangan penghidupan, muslim malah mundur (Hamka, 1990: 16).

Dengan Tasawuf Modern-nya ini, kemudian Buya menjadi semacam seorang tabib rohani. Dalam bukunya, ia menceritakan bahwa ada seorang sahabatnya yang berprofesi sebagai dokter pernah memberi nasihat kepada pasiennya yang sedang dirawat agar membaca tasawuf modern karya Buya ini untuk menentramkan jiwa dan mempercepat kesembuhan penyakit fisiknya. 

Buya juga menceritakan bahwa suatu hari ada pasangan suami istri yang mengatakan bahwa Tasawuf Modern merupakan patri dari kebahagiaan hidup mereka. (Hamka, 1990: 5)

Kemanfaatan itu tidak hanya dirasakan secara jelas oleh orang lain, tapi juga oleh Buya sendiri. Pada suatu hari, Buya dijemput ke rumahnya dibawa ke Sukabumi, lalu ditangkap dan ditahan. Buya dipaksa mengaku berbuat salah. Ia akan terus disiksa sebelum mengakui.

Buya dituduh menjual negara ke Malaysia. Mendengar tuduhan itu, Buya sangat marah dan merasa sangat terhina. Buya sadar bahwa ia memang dipancing kemarahannya. Namun, tak mungkin Buya melampiaskan kemarahannya dengan menerkam semua penghina itu, karena semuanya bersenjata. Jika ia meninggal dengan cara itu, maka selanjutnya akan difitnah bahwa ia kabur dari penjara, dikejar, lalu tertembak mati.

Dalam penjara, Buya merasa mendapat bisikan setan yang mendorongnya untuk bunuh diri. Namun, Buya berpikir jika ia bunuh diri, maka akan muncul fitnah bahwa Buya bunuh diri karena tidak mampu menahan malu.

Dalam masa-masa semacam ini, Buya menyadari bahwa dengan bukunya yang berjudul Tasawuf Modern ia menyeru kepada masyarakat untuk bersabar, tabah, dan teguh hati jika sedang mengalami cobaan dari Tuhan. Dengan mengingat nasihat-nasihat yang ada dalam buku Tasawuf Modern, Buya menangkal bisikan setan itu.

Cerita-cerita ini menunjukkan bahwa buku Tasawuf Modern karya Buya Hamka bukan hanya bahan bacaan dalam budaya akademik, tetapi juga sebagai obat rohani. Bahkan obat bagi penyakit fisik yang sebenarnya disebabkan oleh penyakit rohani. Buku Tasawuf Modern ini memiliki kekuatan yang mampu menunjukkan hidup manusia ke arah yang lebih menentramkan.

Dengan pemikiran tasawufnya, Buya ingin mengatakan bahwa spiritualitas adalah sumber kebaikan dalam beragama, dan formalisasi agama, bisa jadi sebaliknya, akan menjadi sumber petaka.