34238_29894.jpg
Wikipedia
Politik · 4 menit baca

Hambatan-Hambatan Dasar Terbentuknya Integrasi di Kawasan Eurasia

Pembentukan integrasi di Eurasia pada dasarnya merupakan sebuah proyek besar yang memiliki tujuan untuk menyaingi Uni Eropa sebagai salah satu model regionalisme paling berhasil di dunia (Roberts dan Moshes, 2016:543). Akan tetapi, kenyataannya upaya-upaya yang dilakukan untuk mengintegrasikan kawasan ini tidak mudah. Banyaknya proyek-proyek regionalisme yang berada di luar payung khusus EAEU (Eurasian Economic Union) malah terkesan menghambat terjadinya integrasi. 

Poin terpenting yang ingin dijelaskan oleh Sean P. Roberts dan Arkady Moshes (2016:555) sebenarnya berkenaan dengan nilai integrasi EAEU yang lebih mengarah kepada reproduksi kedaulatan daripada transformasi kedaulatan seperti yang dilakukan oleh Uni Eropa. Lebih lanjut, seperti dijelaskan oleh Nye (1968) dan Schmitter (1969) dalam Sean P. Roberts dan Arkady Moshes (2016:543), ide mengenai regionalisme EAEU sendiri memiliki keterbatasan berkaitan dengan kekuatan institusinya yang cenderung kurang, kuatnya politik identitas antar negara anggotanya, dan faktor dunia internasional lainnya juga disinyalir menjadi salah satu pelemah proyek EAEU.

Dalam pembentukan regionalisme, kekuatan institusi sangatlah penting, karena sebuah regionalism tanpa institusi yang kuat biasanya hanya menuai kritik pedas dari peneliti. Seperti halnya yang terjadi dengan ASEAN, lemahnya institusi di ASEAN mengarahkan kepada kesenjangan antara tujuan dan pencapaian aktual program-program regionalisme (Rattanasevee, 2014:1). 

Program-program yang dicanangkan dalam agenda regionalisme akhirnya tidak pernah mencapai tolak ukur keberhasilannya, atau hanya sebagai penggugur dalam kewajiban saja, tidak ada yang pernah berkembang dalam sebuah regionalisme yang lemah secara institusional. Karena lemahnya kelembagaan berarti melakukan pembatasan terhadap kapasitas regionalisme tersebut sendiri, agenda yang telah disepakati bahkan terkadang tidak mendapat follow up yang baik dari negara-negara anggota, tidak ada keterikatan yang kuat jika kehadiran lembaga dalam sebuah regional lemah. 

Kekurangan tersebut sebenarnya jika melihat ASEAN, pemimpin negara-negara anggotanya memiliki pengetahuan yang cukup bahkan lebih bahwa faktor institusi ini harus diperkuat, namun nyatanya tidak pernah secara signifikan diberikan perhatian khusus dalam pelaksanaannya. Begitu juga yang terjadi di EAEU, institusi yang ada masih belum mampu melakukan rangsangan ke arah integrasi ekonomi, meskipun memiliki visi untuk mengalahkan atau menyaingi Uni Eropa.

Faktor kedua yang telah penulis sebutkan adalah berkaitan dengan kuatnya politik Identitas di kawasan. Keberadaan politik identitas yang kuat dalam sebuah regionalisme cenderung mengarahkan kepada upaya-upaya disintegrasi, sungguh berkebalikan dengan konsepsi integrasi. Untuk membentuk sebuah regionalisme yang baik, ciri utama yang harus ada adalah kesamaan dalam hal identitas. Kebanyakan regionalisme yang diusahakan untuk memiliki identitas yang sama tidak benar-benar berhasil menyelenggarakan integrasi, seperti yang terjadi di Baltik dan ASEAN juga EAEU. 

Baltik mengupayakan terjadinya sebuah identitas yang sama, melalui platform sejarah buruk bersama Soviet dan ekstraksi kewilayahan Baltik, padahal dalam keadaan dan kedalaman sosial budayanya Lithuania memiliki kecenderungan dekat dengan Polandia sedangkan Estonia memiliki kedekatan sejarah dengan negara-negara Nordik. Hanya Latvia yang cukup serius dalam upayanya untuk membangun sebuah identitas Baltik. Di ASEAN juga demikian, ASEAN Way bahkan terkesan memang menjaga kekuatan politik identitas kenegaraan untuk tetap hadir dan menjadi pemisah antara integrasi kewilayahan dan peningkatan perekonomian di kawasan.

Faktor-faktor politik dari eksternal inilah yang disebut oleh Nye (1968:415) dalam Sean P. Roberts dan Arkady Moshes (2016:547) sebagai faktor yang dapat menjadi dua hal berbeda sekaligus yaitu penghambat dan pembantu terjadinya integrasi. Keberadaannya dapat mendukung terjadinya integrasi atau sebaliknya, merusak dan mengarahkannya kepada disintegrasi dalam sebuah regionalisme. Karena menurut Nye regionalisme bukanlah sebuah ruang yang hampa tanpa interaksi eksternal, regionalisme malah sebaliknya sangatlah dipengaruhi oleh dinamika hubungan internasional dari luar. 

Terdapat identitas yang berbeda antara negara-negara di dalam EAEU, Russia dengan ambisinya yang ingin mempersatukan bekas Soviet kembali, Armenia dengan identitas keetnisannya yang kuat dan negara lainnya seperti Kyrgyztan, Belarusia dan Kazakhstan. Ditambah dengan konsepsi CIS (Commonwealth of Independent States) yang cenderung berusaha untuk berada di luar koridor ambisi Russia, menjadikan EAEU salah satu platform yang sulit untuk menghadirkan integrasi secara ekonomi maupun politik, karena negara-negara tersebut memiliki kecenderungan traumatis jika sebagian dari kedaulatan negaranya diberikan kepada sebuah entitas supranational. Meskipun secara grand-design, EAEU tidak memiliki intensi untuk menjadi Uni Soviet 2.0.

Belum lagi jika ditabrakkan dengan beberapa organisasi regionalisme lainnya seperti Shanghai Cooperation Organisation (SCO), yang memiliki grand design sama satu sama lainnya (Gatev dan Diesen, 2016:2). Sudah pasti kinerja atau upaya untuk mempersatukan Eurasia agak terhambat. Karena faktanya melalui keberadaan SCO ini Tiongkok berusaha untuk mengambil pengaruh yang lebih besar daripada Russia. 

Fakta data perekonomian juga menunjukkan bahwa keberadaan Tiongkok dalam hal ekonomi lebih menjanjikan dibandingkan Russia pada saat ini. Jika dilihat dari sudut pandang geopolitik, masuknya Tiongkok lebih dalam adalah sebuah bentuk ancaman yang signifikan bagi peran Russia di kawasan. Meskipun kemudian Tiongkok belum mau masuk secara politik, hanya melalui perekonomian saja, tidak menutup kemungkinan keberadaan SCO ini mendegradasi kemungkinan terjadinya integrasi lebih dalam di Eurasia.

Sehingga penulis menarik kesimpulan bahwasanya jika dilihat dari faktor-faktor pembentuk integrasi, Eurasia memiliki prospek yang tidak cukup menjanjikan. Karena kuatnya politik identitas yang ada di kawasan, lemahnya institusi regionalisme yang ada dan faktor luar yang cukup besar berkaitand dengan pengaruh Tiongkok di kawasan Asia Tengah dan Uni Eropa di bagian barat, integrasi Eurasia ibarat sebuah oasis yang sangat sulit untuk diharapkan.

Ditambah dengan sensitifnya pembahasan mengenai kedaulatan negara yang harus diserahkan sebagian kepada regionalisme untuk memudahkan terjadinya integrasi tidak pernah selesai, sehingga sangat sulit bagi Eurasia secara keseluruhan dapat melakukan integrasi. Integrasi lebih lanjut akan dapat dilaksanakan hanya dengan peran dan tekanan dari Russia sebagai satu-satunya negara yang pernah menguasai kawasan ini, namun sejak melemahnya kekuatan Russia, penulis agaknya menjadi lebih pesimis integrasi dapat diwujudkan di Eurasia.

Referensi

  • Gatev, I. & Diesen, G. (2016). “Eurasian encounters: the Eurasian Economic Union and the Shanghai Cooperation Organisation”, European Politics and Society, 17 (1): 133-150.
  • Rattanasevee, Pattharapong. 2014. “Towards institutionalised regionalism: the role of institutions and prospects for institutionalisation in ASEAN”. Springerplus. 3: 556. Published online 2014 Sep 24. doi:  10.1186/2193-1801-3-556.
  • Roberts, S.P. & Moshes, A. (2016). “The Eurasian Economic Union: a case of reproductive integration?”, Post-Soviet Affairs, 32 (6): 542-565.