Suasana pagi itu begitu syahdu, aku berjalan menyusuri jalan setapak menuju area persawahan yang terbentang luas, sekitar sepuluh menit aku sampai di area persawahan tersebut. Di depan gubuk, tampak Pak Lurah sedang menghisap rokok. Aku pun mendekatinya.

“Assalamu’alaikum Pak Lurah,” sapaku.

“Wa’laikumussalam,” ucap Pak Lurah.

“Sejak kapan kau pulang dari ibukota Ahmad?, aku kira kau tidak akan pulang ke kampung halaman, kebanyakan anak muda kampung ini setelah menempuh pendidikan tinggi di luar kota tidak akan pulang ke kampung halaman, mereka lebih memilih bekerja di kota dengan gaji yang besar, kemudian membangun keluarga di perantauan sampai beranak pinak di sana, lalu pulang ketika sudah meninggal untuk di makamkan di kampung halaman.”

Ucapan yang diucapkan oleh Pak Lurah ini benar adanya, fenomena tersebut sudah terjadi sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu.

“Kemarin sore Pak, sejak kecil saya bercita-cita ingin membangun desa,” ucapku

“Jarang sekali loh anak muda yang berpikiran maju dan terbuka sepertimu. Berkali-kali saya menyurati anak-anak perantauan untuk pulang ke kampung halaman, mengajak mereka bersama-sama untuk membangun kampung halaman.”

“Oh ya Pak Lurah, saya lihat semua sawah di kampung ini kosong semua tidak ditanami apapun?” tanyaku.

“Sudah satu tahun ini, semua petani mengalami gagal panen dikarenakan adanya hama wereng. Hama ini menjalar begitu cepet dari satu sawah ke sawah lainnya, berbagai cara sudah kami lakukan. Namun, hasilnya nihil. Kami juga sudah meminta bantuan dari dinas pertanian terkait, tetapi bantuan tak juga kunjung datang.”

“Bagaimana dengan kebutuhan warga Pak Lurah, mengingat pangan adalah hal yang paling penting?”

“Kami mengandalkan dari kampung lain. Namun sejak dua bulan ini mereka tidak mau menjualnya lagi ke kampung ini, dengan alasan mereka sedang membuat gudang pangan untuk persiapan kalau kampung mereka diserang wabah seperti kampung kita ini.”

Pak Lurah tersenyum sambil menghela nafas, matanya berkaca-kaca. Aku menyadari, beban yang ditanggung Pak Lurah sungguh berat, mengatasi persoalan ini hanya seorag diri. Dulu kampung ini dikenal dengan julukan lumbung padi, namun kini nama itu hanya sebuah kenangan. Tidak disangka-sangka hama wereng membuat kampung ini luluh lantak seketika perekonomiannya.

“Saya sebenarnya sudah semenjak dulu, memperingatkan warga kampung ini akan kemungkinan datangnya wabah ini. Ketika itu , saya mengusulkan untuk membuat gudang  penyimpanan padi. Namun, para warga tidak menaggapinya, dan berkata bahwa tidak mungkin mereka akan gagal panen.” Ucap Pak Lurah.

Saya pun menyodorkan kumpulan kertas yang berisi rancangan dan program pemberdayaan masyarakat. Dengan harapan masyarakat dapat teampil dan tidak hanya mengandalkan hidup dari sektor pertanian saja, tetapi bisa lebih bervasriasi.

“Ini pak rancangan dan program pemberdayaan masyarakat,” ujarku sambil menyerahkan kumpulan kertas. Pak lurah segera membuang putung rokok, dan membaca kertas tersebut dengan teliti dan seksama.

“Saya sungguh kagum dengan rancangan yang disampaikan oleh Ahmad, ini adalah ide brilian yang sangat kreativ dan inovatif mengenai pembangunan desa wisata dan peningkatan UMKM. Yang masih mengganjal dalam hati saya, bagaimana dengan sektor pertanian untuk mengatasi hama wereng ini.” Ucap Pak Lurah

“Mengenai masalah itu Pak Lurah tidak usah khawatir, saya punya banyak kenalan insinyur pertanian dan mereka siap untuk membantu megatasi masalah pertanian tersebut, minggu depan kawan-kawanku ini akan datang untuk mengatasi hama wereng di sini. Mereka datang ke sini dengan sukarela, tanpa meminta bayaran ataupun imbalan.” Terangku kepada Pak Lurah

Potensi menjadi desa pariwisata di kampungku sangatlah besar, pemandangannya begitu indah. Sungai yang masih jernih, bukit yang masih asri, air terjun yang menjulang tinggi. Semua nampak begitu indah, membuat siapapun yang melihatnya jatuh cinta dan ingin kembali lagi. Saya merasa heran, kenapa banyak kawan-kawanku satu kampung lebih memilih hidup di ibukota. Padahal pemandangan di kampung ini begitu indah, gotong royong masih ada, semua hidup guyup dan rukun.

Nampak dari kejauhan, adikku yang bernama Silfi mendekati gubuk sambil berlari-lari. Sesampainya di gubuk dia berucap “Mas, ada tamu mencari kamu, katanya penting, mereka sedang menunggu?”

“Tamu siapa dek?” tanyaku

“Saya juga tidak tahu,” jawab adikku

Saya pun bergegas pulang ke rumah, diikuti pak lurah dan adikku di belakang. Mungkin Pak Lurah penasaran, siapa yang datang mencariku. Sesampainya di rumah, ternyata yang datang adalah Pak Abdul dan Pak Rahma. Dan saya bari ingat ternyata saya pernah mendaftar beasiswa untuk program Pascsarjana di luar negeri. Dan mereka berdua adalah pemilik program beasiswa tersebut, saya pun masih bingung ada gerangan apa, mereka datanga jauh-jauh dari ibukota ke daerah terpencil seperti ini. Nampak kedua orang tua ku sedang mengobrol dengan mereka. Saya dan Pak Lurah pun ikut duduk. Sementara adikku pergi ke belakang.

“Ahmad, pasti kamu faham, tujuan saya jauh-jauh dari ibukota datang menemuimu. Hal ini patut saya sampaikan langsung. Permohonanamu untuk beasiswa kuliah di luar negeri untuk kuliah di Jurusan Lingusitik Leiden University diterima.” Ujar Pak Abdul

“Saya harap kamu segera beriap-siap secepatnya untuk megurusi berkas-berkas yang diperlukan.” Ungkap Pak Rahman

“Alhamdulillah,” ucapku. Aku sangat senang dengan kabar gembira ini. namun di sisi lain aku sedang bingung, bagaimana rencana membangun kampung halaman ini, jika saya kuliah di luar negeri. Hal ini sungguh membingungkan bagi saya.

‘’Saya lihat raut muka Ahmad, seperti bingung, kalau ada masalah ceritakan kepada kami, siapa tahu kami bisa membantu,” Kata Pak Ahmad.

“Saya sedang dilema Pak, saya sedang merintis usaha untuk membangun kampung ini, seperti yang bapak lihat sekarang di kampung ini, sungguh memilukan. Nampak sepi, hama wereng telah menghancurkan kampung ini. saya sedang bingung di antara dua pilihan, apakah saya akan pergi ke luar negeri untuk studi atau saya tetap di kampung halaman ini untuk membangkitkan kembali kampung halaman ini.” Ujarku

“Mending kamu berangkat ke luar negeri Ahmad, ini kesempatan yang langka, tidak semua orang bisa mendapatkannya. Kurang lebih lima tahu kamu di sana sekalian menyelesaikan program doktoral. Setelah kamu pulang ke kampung halaman, siapa tahu kamu bisa membangun perguruan tinggi. Jadi anak-anak kampun ini bisa kuliah tanpa harus pergi jauh.” Ungkap Pak Lurah

“Niatmu sungguh mulia Ahmad, saya ada jalan tengah untuk mengatasi hal tersebut, pemberangkatan kamu ke luar negeri akan saya tunda untuk satu tahun. Dalam kurun waktu satu tahun itu, kamu bisa mengabdi untuk kampung halamanmu ini,” Kata Pak Rahman

“Terim kasih banyak Pak, atas pengertiannya dari Bapak,” kataku

“Sudah sepantasnya kita saling meringankan beban satu sama lain. Oh ya saya dan Pak Abdul mohon pamit, soalnya ada beberapa hal yang harus saya urus,” ungkap Pak Rahman

“Oh ya pak,” ujarku

Pak Abdul dan Pak Rahma bersalaman kepada kami semua, dan mengucapkan salam. Mereka langsung masuk ke mobil dan mobil berjalan meninggalkan kami. “Hidup itu penuh misteri dan tidak terduga, tetapi yang paling penting adalah menjadi manusia yang bermanfaat,” ucapku dalam hati.