Gara-gara banyaknya pemberitaan "si Korono" (aku lebih suka menyebutnya begitu). Si Corona Virus Disease-19, Covid-19 atau kita sebut saja Mr. David di televisi dan media sosial membuat kita jadi ketakutan berlebihan.

Kebanyakan dari kita menjadi parno, paranoid. Parnonya pun berbeda-beda. Ada yang sudah menimbun makanan, sehingga membuat jenis makanan itu langka dan mahal.

Ada yang menimbun masker sampai dijual lagi. Namun, bukan hanya masker, hand sanitizer, sampai det** sabun kesehatan harganya naik berlipat-lipat.

Semua jadi "aware" pada masalah kesehatan dan kebersihan yang dulu tidak begitu dipedulikan. Misalnya; selalu cuci tangan, membawa hand sanitizer ke mana-mana, minum jamu sebagai minuman kesehatan untuk melawan si Korona. Dan sebagainya.

Belum lagi ibuku yang sudah tua, dia meneleponku agar hati-hati terhadap si Korono. Padahal, aku lagi sakit GERD, kambuhnya asam lambung yang juga berbahaya dan bisa menyebabkan kematian.

Di sisi lain, si Korona juga membuat kelompok "kadruna" dan "bukan kadruna" makin jelas. Kadrun tetap dengan jualan agamanya, mulai dari tetap mau jumatan walau pemerintah (Jokowi) sudah mengimbau untuk belajar, bekerja, dan beribadah di rumah dengan melakukan "Social Distancing". 

Atau orang-orang tiba heboh mau "Lockdown" padahal Indonesia yang besar ini tidak terdiri dari satu pulau, namun banyak pulau yang perlu kita bijaki kebutuhannya yang berbeda-beda dan Jokowi telah menyerahkan sepenuhnya pada gubernur sebagai otoritasnya untuk menangani masalah Korona di daerah masing-masing.

Walaupun para "Kadruna" sudah banyak menyalahkan penanganan pemerintah pada kasus Korona yang banyak, namun mereka sendiri mengesampingkan "peraturan pemerintah".

Dan kelompok yang bukan kadrun dengan gaya positif dan optimisnya menghadapi Korona dengan menghindari keramaian, makan-makanan bergizi, dan tetap mendukung pemerintahan.

Halu(nisasi) karena Mr. David

Baru-baru ini, karena terlalu parno pada si Korono, salah seorang keluargaku, Ammoz, yang lagi perjalanan dengan mobil sewa mau pulang kampung ke Mandar, Sulawesi Barat, malah balik haluan kembali ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Awalnya, selama perjalanan sekitar jam sebelas malam itu, dia merasa kurang enak badan. Dia merasa panas dingin. Terasa panas di punggungnya, namun, rasa dingin dari ujung kaki sampai di dada. Kepala pusing, dan tenggorokan gatal dan kering.

Ketika mobil sewaannya yang singgah di suatu toko roti di daerah Maros, Sulawesi Selatan, Ammoz turun untuk membeli Roti Maros, dan minuman mineral botol bermerek dari lemari pendingin.

Ketika meminum air dingin itu, dia merasa makin ambyar. Dia meminta si supir mobil untuk mengantarnya kembali ke Makassar. Padahal, jarak tempuh sudah kurang lebih 30 kilometer dengan waktu tempuh sekitar satu jam (tidak lewat tol). 

Namun, penumpang mengeluh, sudah larut malam dan nanti terlambat tiba di kampung (tiba subuh). Si supir mengusulkan untuk singgah di klinik. Namun, Ammoz tetap pada pendiriannya, untuk diantar kembali ke Makassar.

Akhirnya, salah seorang penumpang berinisiatif memulangkan Ammoz dengan ojek online yang sewanya ke Makassar sama dengan sewa ke Mandar. Tapi, bagaimanapun kalau sakit, itu bukan masalah.

Ammoz pulang, setelah pak Supir menelepon omku tempat kami hidup di Makassar. Jam sudah menunjukkan jam 12 malam. Ammoz tiba sebelum jam 1 malam.

Aku membuka pintu, Ammoz terlihat tampak pucat. Ketika dahinya ingin kusentuh, dia terlihat menolak. Katanya, jangan sentuh aku, aku kena Korona.

"Oh my God, Mr. David sedang bersamamu?" tanyaku kaget tidak percaya.

Kata Ammoz, Mr. David ada dalam tubuhku. Aku demam, tenggorokan sangat gatal dan kering, dan persendianku terasa lemas, aku tidak kuat tadi berdiri apalagi berjalan. Semuanya ciri-ciri Korona.

Aku yang terbangun di malam hari karena kepulangannya, belum bisa berpikir jernih. Aku cuma bilang, kamu makan dulu. Dia mau, karena katanya sejak tadi hanya makan makanan cemilan (ringan) bukan yang berat.

Aku memasak nasi sisa makan malam menjadi bubur. Aku selama ini memakan nasi bubur karena menderita GERD. Ammoz memakan buburnya tanpa menambahkan lauk. Dia malah mengambil tiga siung bawang merah. Dan membaca doa agar terhindar dari Mr. David.

Aku bilang padanya, setelah makan nanti setelah 15 menit, aku akan "memborkasnya". Borkas merupakan pengobatan tradisional Sulawesi dengan mencampurkan minyak Mandar (semacam VCO), bawang merah, dan kunyit kemudian dibalur ke seluruh tubuh.

Tapi, Ammoz tidak mau. Dia mau ke rumah sakit, Unit Gawat Darurat ( UGD) saja. Dia takut, aku yang lagi rapuh ini juga tertular. Apalagi, kalau sampai om dan tante yang baik hati tempat kami menginap tertular.

Dia sudah lemas, dan mau pingsan. Aku membangunkan om. Kata om pada Ammoz, apa yang kamu rasakan, apa yang kamu lakukan.

Ammoz menjelaskan, dia demam. Tenggorakannya sangat gatal dan kering. Seluruh persendiannya sakit dan sebagainya. Lalu, seminggu yang lalu, aktivitas di luarnya sangat padat. Dia ke kampus UN* mengikuti seminar, ke kampusnya, ST*** mengurus skiripsinya, ke Mall beli gitar pesanan adiknya, ziarah ke makam Diponegoro, dan lain-lain.

Om segera mencari masker untuk kami gunakan. Jam menunjukkan jam 2 malam. Om membawa kami ke rumah sakit yang menangani pasien yang terkena " rayuan Mr. David". Beberapa rumah sakit di Makassar menjadi tempat rujukannya.

Kami tiba di RS B, beberapa petugas kesehatan melihat kami dan bereaksi. Apalagi, ketika kami bilang, kami takut jika sakit Mr. David. Mereka kemudian menanyakan keluhan, memeriksa tekanan darah atau tensi, denyut nadi.

Kemudian, seorang dokter datang dengan alatnya yang diletakkan di perut dan dada. Dan dia menanyakan habis makan apa.

Ammoz bilang, dia makan bubur, terang bulan, kentang goreng, dan minum kopi Viet*** malam tadi. Aku memang mengajaknya ke kafe untuk menemui seseorang yang kaosnya telah kupesan.

Dokter dengan tenang tanpa ekspresi bilang, kalau diagnosanya adalah naiknya asam lambung karena minum kopi dan panik berkebihan. Jangan terlalu halu!

Beberapa petugas kesehatan tertawa dan menambahkan, jika banyak pasien yang datang memeriksa di RS ex karena takut Mr. David. Tapi, ternyata negatif. 

Ah, jangan terlalu panik dan parno berlebihan. Harusnya, seperti kata orang Makassar yang santuy menyingkat kepanjangan Korona., Korona katanya adalah kepanjangan dari kopi, rokok, dan nasi. Atau Corona (Coto, Konro, dan Nasi).