Siluet tubuh tak lagi terlihat ketika aku berdiri. Sinar jingga matahari semakin terasa pekat menemani. Kulihat ke barat, Sang Surya akan pergi meninggalkanku sendiri. Aku sadar, aku sudah tiga jam lamanya berada di sini. Menanti kedatangan seseorang yang amat kucintai. Namun sepertinya, hanya senja-lah yang datang tanpa kuundang.

"Kau harus pulang."

"Bagaimana jika Felix datang?"

"Dia takkan datang. Ayo pulang."

Dengan berat hati, kuturuti perkataan Lia, kakakku. Sebenarnya, aku tak mengajaknya untuk ikut bersamaku menemui Felix, kekasihku. Tetapi dia memaksa. Aku pun lebih terpaksa meng-iyakannya. Wajar, jika aku marah padanya selama perjalanan pulang. Bahkan hingga setibanya di rumah, tak ada sepatah kata yang keluar dari mulutku. Sengaja kulakukan agar dia tahu bahwa aku sungguh marah padanya. 

"Salsa, buka pintunya. Kau harus minum obat."

Kudengar dia mengetuk pintu. Dia pasti tahu kalau aku takkan membukakannya. Lagipula, aku juga sudah bosan terus-menerus minum obat yang entah untuk apa. Dia selalu bilang bahwa aku sakit. Tetapi dia sendiri tak bisa memberi tahuku tentang penyakitku. 

Padahal aku merasa sangat sehat. Dia memang aneh. Dan dia akan lebih aneh lagi jika aku berhubungan dengan Felix. Seperti tadi contohnya. Namun, jika kau ingin tahu, ada contoh lain yang lebih parahnya.

Saat itu, Felix sedang main ke rumahku. Kami memilih duduk di teras karena tidak ada orang di rumah. Kakakku juga belum kembali dari pulang kerja. Aku seorang diri. Tetapi untungnya, Felix datang untuk menemani. Sore itu pun kami habiskan untuk berbincang dan bersenda gurau.

Felix selalu memujiku tentang betapa cantiknya aku. Dia sangat senang melihat wajahku merona hanya karena gombalan murahannya. Aku tersipu dibuatnya. 

Hingga akhirnya aku tak menyadari bahwa kakakku sudah pulang. Lia datang menatapku dengan tidak wajar. Kemudian tatapannya beralih ke arah sampingku. Tempatnya Felix berada. Seketika itu juga, raut wajahnya berubah menyiratkan perasaan malu.

"Kau sedang apa?" Tanya Lia dengan nada tidak suka.

"Felix datang. Kau tidak buta, kan?"

"Sejak kapan?"

"Sejak tadi."

"Cepat masuk. Bilang pada Felix kalau dia harus pergi."

"Kau mengusirnya?" Tanyaku tidak percaya.

"Ya," jawabnya tegas. "Cepat masuk."

Tanpa sempat berkata apa-apa pada Felix, aku diseret masuk olehnya. Pintu ditutupnya dengan kasar dan langsung dikuncinya. Sementara dari jendela, kulihat Felix menatapku iba. Dia mengangguk, mengatakan bahwa dia tidak apa-apa. Tak lama pun dia pergi.

"Kau ini kenapa?!" Aku langsung marah.

"Masuk kamar dan minum obatmu." Perintahnya.

"Dasar gila!" Makiku sambil berlari dan sengaja menabrak pundaknya.  

Di hari selanjutnya, Felix tak menghubungiku lagi. Pesan singkatku tak ada yang dibalas. Panggilan dariku pun selalu ditolaknya. Ini tak biasanya terjadi. Felix bukanlah orang yang seperti itu. Aku tahu sekali. Aku yakin ini pasti ulah kakakku lagi. Aku pun bertengkar lagi dengannya malam itu saat makan bersama.

"Kau yang mengancam Felix, bukan?" Tuduhku langsung tanpa basa-basi.

"Apa maksudmu?" Tanyanya tidak mengerti.

"Felix tidak menghubungiku lagi. Itu pasti karena diancam olehmu, kan?"

"Kenapa pula aku harus mengancamnya, Salsa?" Dia masih tidak mengerti.

"Karena kau tidak suka kalau aku berhubungan dengan Felix. Makanya kau melakukan itu agar Felix menjauhiku!" Nadaku meninggi.

Lia melempar sendoknya secara asal dan bangkit dari duduknya. "Cukup Salsa, cukup! Kau benar-benar sakit!" 

"Kau aneh!"

"Diam!" Dia menggebrak meja. "Kau harus kubawa dokter."

Aku menatapnya dengan benci sebelum akhirnya pergi masuk ke kamar. Aku langsung menelungkupkan badan dan menangis. 

Melepaskan rasa lelah atas semua yang terjadi. Terlebih lagi dengan menjauhnya Felix tanpa ada tanda-tanda tuk kembali. Aku sangat membutuhkannya karena itu aku sangat mencintainya. Hanya dia yang mampu mengertiku daripada kakakku sendiri. Aku takkan mampu membayangkan jika dia benar-benar pergi dari hidupku. Mengingat itu, isakku pun semakin kuat.

Tak lama, kurasakan pintu terbuka. Deritannya terdengar memasuki telingaku. Kupejamkan mata karena kuyakini itu pasti kakakku. Aku sedang tidak ingin bicara padanya. Namun kurasa, dia tak menghiraukannya. Terbukti dengan guncangan pelan di pundakku yang sudah pasti dilakukan olehnya. 

"Salsa, bangun. Sudah sore."

Apa? Aku langsung membuka mata dan menegakkan tubuh. Kulihat jam di dinding, dan ternyata benar. Sudah pukul empat sore. Padahal aku  tak merasakan pagi. Segera kutatap Lia. Raut wajahku tak karuan lagi bingungnya. 

"Kenapa kau tak membangunkanku? Kau tahu, aku ada kuliah pagi," kataku. 

"Kau sudah bangun tadi pagi tapi kau tidak mau berangkat kuliah. Kau lupa?"

Apalagi ini? Aku semakin bingung. Aku masih menatap dia dengan bertanya-tanya.

"Kau marah semalaman. Bahkan hingga pagi. Dan begitu aku pulang, aku lihat kau tidur. Sudah, mandi dulu sana."

Dia berlalu. Kini, akulah yang tak mengerti. Aku tak mengerti mengapa aku tak mengingat apapun yang terjadi pagi tadi. Apakah waktu berjalan secepat itu hingga aku tak menyadari? Entahlah. Aku tak peduli karena aku langsung memasuki kamar mandi.

Seusai mandi, Lia mengajakku ke dokter. Dia bilang, aku tidak ingin kuliah tadi pagi karena merasa kurang enak badan. Oleh karena itu, dia langsung membawaku untuk diperiksa. Padahal kenyataan sebenarnya, aku sendiri tidak ingat jika aku telah berkata begitu padanya.

Di ruangan pemeriksaan, dokter bilang, tak ada yang mengkhawatirkan dariku. Hanya saja, aku tetap harus disuntik entah untuk apa katanya tadi, aku lupa. Kami bergegas pulang setelah membeli obat di apotik. Sekitar pukul tujuh malam, aku dan Lia sudah tiba di rumah dan memutuskan untuk makan malam bersama. 

"Tadi pagi kau bilang ingin bertemu Felix malam ini." Lia memulai percakapan. 

Aku kembali tak ingat jika sudah mengatakan itu padanya. Oleh karena itu, aku hanya diam tak menjawab. 

"Pergilah."

Sontak, aku mengangkat kepala. Suapanku juga tertahan di ujung bibir. Aku rasa aku sudah salah dengar. 

"Kau bilang apa?" Tanyaku memastikan.

"Pergi sana temui Felix."

"Lalu kau?"

"Di rumah."

Aku tersenyum senang. Tak ada hal lain yang lebih penting untukku kecuali segera bersiap. Langsung kupeluk Lia dengan erat sebelum pergi menuju kamar. Aku tak mau pusing memikirkan kenapa dia bisa berubah. Yang kupikirkan saat ini hanyalah bagaimana aku harus mengatakan betapa aku merindukan Felix. 

Senyumanku tak luntur sepanjang aku bercermin. Kusemprotkan pengharum badan dan kuambil tas di atas meja belajar. Aku sudah siap akan berangkat begitu melihat buku diaryku terbuka dengan selembar kertas terlipat berwarna merah muda di atasnya. Kulihat jam di tangan, masih ada waktu untuk membereskan ini semua.

Tanganku langsung meraih kertas merah muda tersebut yang kuyakini itu adalah surat. Merasa penasaran, kubuka lipatannya. 

Untuk Caca

Ca, kau gadis yang sangat baik. Kasih sayangmu tulus. Rasa cintamu murni. Aku tahu kau sangat mengharapkanku. Hingga kau lupa bahwa kau juga harus mengharapkan dirimu sendiri. Aku juga tahu bahwa kau sangat mencintaiku. Dan kau pun kembali terlupa bahwa kau juga harus lebih mencintai dirimu sendiri. 

Jangan kejar aku, Ca. Karena aku tidak lari. Jangan mencariku, Ca. Karena aku tidak pergi. Ingat, hatimu hanya akan menjadi milikmu dan untukmu. Jangan pernah membaginya atau kau akan tersakiti nantinya.

Felix.

Aku tidak mengerti. Kenapa Felix mengirimiku surat seperti ini? Benakku ingin berteriak bahwa surat ini bukan dari Felix. Akan tetapi tulisan tangan serta panggilan Caca yang tertera membuatku tak bisa berkutik. Aku jadi bingung. Rasa penasaranku membuatku meraih buku diaryku. Mungkin dengan membaca buku diary itu akan lebih memperjelas. 

13Okt'19

Hari ini, tepat dua tahun setelah kepergian Felix. Aku masih saja dihantui bayang-bayangnya. Aku sangat mengikhlaskan kepergiannya. Namun, akan terasa sangat sulit jika aku membuat ruang untuk merelakan rasaku ini tuk pergi bersamanya. Aku takkan bisa. Takkan pernah bisa. Layaknya ia yang tak pernah bisa membalas perasaanku padanya. 

Air mataku luruh tanpa kusuruh. Tubuhku lemas hingga aku menahannya di atas meja. Dibalik buramnya penglihatan, mataku melihat kalender yang rupanya sudah kutandai merah di tanggalnya. Tepat tanggal hari ini. Hatiku sesak seketika. 

Sungguh, ini menyakitkan. Sosok yang selama ini telah kuanggap kekasih hanyalah halusinasiku semata. Maka, cintaku padanya pun hanya sebatas halu belaka. Aku tersenyum miris begitu menyadari alasan dibalik tingkah kakakku selama ini.