Sebuah syair arkais di bawah ini sengaja saya buatkan untuk Anda sekalian yang terhormat. Syair yang menjadi gerbang masuk ke artikel tema Halloween ini. Cita rasa arkais sedikitnya akan membantu arah trajektori atau lintasan waktu tentang Halloween yang kuno ini. Inilah syairnya:

How Dost Thou?

Hark now, she will cometh hither
Hark now, I shall see thee anon
Hug as Kickie-wickie
Gandermooner by her troth
lubberworth
Hallow e’en
Hallow e’en

She doth nay shun that
Prepareth to square
The lady shall cometh
She nay caterwauling
Hallow e’en
Hallow e’en

Itulah mengapa kata-kata Halloween mengandung kata e'en yang merupakan kontraksi dari kata even yang sering dipakai era Elizabethan English. Di era itulah Halloween bermula. 

Dan, Ketuhanan merupakan salah satu penyebab adanya kehantuan. Begitu pula sebaliknya, ada hantu ada Tuhan. Silakan dibolak-balik saja, hantu-tuhan; tuhan-hantu.

Ketuhanan dan manusia menciptakan alam pikiran unik pada pribadi atau golongan tertentu yang penuh dengan penghambaan (idols), membangun kebesaran, menciptakan kemesraan, perasaan tenang, rasa ekstasi, bercandu takjub yang luar biasa akan sesuatu yang bernama Tuhan.

Sedang hantu sebaliknya, relasi horor, ketercekaman, hal-hal buruk, kutukan, kesialan, dan lainnya. Baik Tuhan ataupun hantu sudah lama mengisi hiruk pikuk kebudayaan manusia.

Yang menarik, ketika Tuhan dan hantu berkumpul jadi satu dalam sebuah selebrasi. Itulah Halloween Party, sebuah pesta pora hedonis komersial yang mendunia. Halloween mempunyai roh E pluribus Unum, dirayakan dengan berbeda, namun tetap satu tujuan, yaitu kemeriahan. 

Setiap tanggal 31 Oktober, sebagian belahan dunia merayakannya. Festival yang mencampuradukkan semua seni menghantui dan menuhani yang berasal dari bangsa Celtic (Kelt) ini, suku bangsa nenek moyang bangsa Eropa.

Ketuhanan Bangsa Kelt menghasilkan apa yang disebut dengan Samhain, yang merupakan sumber pokok di mana lahir sebuah hari ketuhanan dan kehantuan yang bisa dipertemukan atau sebuah Ketuhanan Yang Maha Menghibur. 

Walaupun sebagian besar peringatan-peringatan hari agama waktu berasal dari kepercayaan yang muncul dalam sebuah kehidupan spiritualitas yang sehat, namun tetap saja memunculkan penyakitnya.

Roh-roh suci yang kesepian tak dapat hiburan dari Tuhan, akhirnya kembali ke dunia untuk canda-ria dalam bentuk pesta-pesta yang bersalut kehantuan. Seperti halnya kepercayaan tentang "Samhain" yang mengizinkan jiwa-jiwa orang mati untuk kembali ke rumah-rumah duniawi mereka pada malam Halloween.

Ketuhanan dan kehantuan yang membangun sebuah psikotik yang unik. Mereka mencoba menalarkan Tuhan dengan sesuatu yang dekat dengan mereka, termasuk keberadaan hantu. Dan, akhirnya menimbulkan psikopatik yang unik bernama Halloween ini. 

Halloween sudah menyita satu kewarasaan waktu luang orang untuk dikonversi menjadi pesta-pesta yang menghancurkan identitas diri dan subkesadaran. Ikon dan aktivitas hiburan populer seperti Halloween ini cukup menggambarkan apa yang menonjol dalam imajinasi dan cita-cita pada pribadi masing-masing. 

Trick or Treat, itulah ucapan wajib di malam Halloween, yang menuntut sebuah pemenuhan "Beri kami coklat atau kami jahili". Ini adalah tanda psikopatik masyarakat di mana pesimisme lebih kuat daripada optimisme, dan juga di mana sinisme melebihi idealisme.

Kejahilan-kejahilan di malam Halloween cukup membuat kenyamanan sebagai dasar budaya cukup terganggu. Mereka sudah jauh dari kaum Epikurean yang mampu dengan bijak membedakan keinginan alami yang perlu, seperti makan secukupnya; dan keinginan alami yang tidak perlu, seperti makanan yang enak.

Mereka sudah lupa akan kehidupan sederhana yang disarankan oleh Epikuros. Halloween adalah antitesis dari Ataraxia, yaitu ketenteraman jiwa yang tenang, kebebasan dari perasaan risau, dan keadaan seimbang yang sangat menegaskan akan sebuah kebijaksanaan (phoronesis).

Terkait dengan Ketuhanan, Halloween telah menyajikan ilustrasi liturgi tentang perjalanan roh manusia yang bebas keluyuran. Dengan Halloween, mereka menjadi punya kuasa dan hak untuk mengejek iblis. 

Halloween merayakan kemenangan Tuhan sekaligus hantu melalui parodi yang kacau. Mereka ragu dengan Ketuhanan, sehingga ketakutan dan kekuatan kegelapan, mereka modifikasi menjadi sebuah pesta yang menghibur dan melindungi yang mengalahkan kekuatan Tuhan. . 

Kesenangan memanglah kodrat alamiah. Namun, ketika menyentuh level hedonisme, maka itu merupakan hal yang kurang produktif. Halloween menawarkan kesenangan dan permainan dalam sebuah kekonyolan yang menakutkan.

Tema-tema utama Halloween kadang juga menggambarkan kekerasan psikotik. Ketika adat istiadat mencerminkan budaya, maka begitu pula denagn kostum dan topeng Halloween yang menggambarkan kedok-kedok kejiwaan yang sakit di masyarakat. 

Tuhan telah gagal menghibur hamba-Nya. Jiwa-jiwa kembali ke bumi untuk kembali menemukan asasinya, yaitu berbagai macam hedonisme yang siap direguk bersama-sama hantu buatannya masing-masing. 

Ke manakah surga Tuhan? Sehingga mereka, para roh suci, ingin kembali lagi ke dunia?