32354_94363.jpg
Pixabay.com
Cerpen · 5 menit baca

Halaman Kosong
Kisah Romantis Berakhir Tragis

Siang itu pukul 14.10 aku pulang ke rumah. Di depan pintu terdapat bungkusan paket. Kubuka pintu lalu mengambil bungkusan paketan itu. Rasa penasaranku terkalahkan oleh rasa lelahku sepulang kerja. Bungkusan kubiarkan saja tergeletak di atas meja. 

Setelah mencuci badan, kurebahkan tubuh di atas ranjang untuk tidur. Di dalam tidur, kubertemu Rachel. Dalam keyakinanku, aku sedang bermimpi. Rachel memintaku membuat kisah bahagia tentangnya atau lebih tepatnya tentang kita. Di dalam mimpi itu dia memberiku sebuah buku. Lembaran-lembaran buku itu putih dan polos, belum ada setitik noda tinta mengotorinya.

“Kamu ingin mengawali kisah kita seperti apa?” tanyaku.

“Seperti dandelion dan angin.”

“Ah, aku tidak paham maksudmu.”

Rachel tidak menjawab, dia mengamit tangan kananku mengajaknya berjalan menuju ladang ilalang. Sebuah pekarangan kosong tak terawat yang ditumbuhi rerumputan liar, dandelion dan ilalang.

“Coba kamu pejamkan mata, dengar dan rasakan!”

Aku menuruti perintah Rachel. “Gelap,” kataku.

Rachel menggeleng pelan menunjukan dia kecewa terhadap kesanku. “Coba kamu tutup matamu lagi, kali ini agak lama, ya.”

Aku menutup mata. Terasa tangan Rachel menutup mataku. Tangannya lembut dan tercium aroma tubuhnya yang mulai merusak konsentrasiku.

“Sekarang katakan apa yang kamu rasakan?”

Aku merasakan detak jantungku yang berdetak kencang, berdekatan dengannya membuatku sesak nafas.

“Hey..! Kamu dengar aku?”

“Emm…hening aku tidak mendengar apa-apa.”

“Rasakan dengan hatim”

***

Pukul 14.50 aku terbangun dari tidur. Keringat dingin membasahi wajah. Bayangan mimpi itu terasa sangat nyata. Wangi tubuh Rachel tertinggal di hidungku.

“Lagi mimpi yang sama, apa yang ingin kamu sampaikan Rachel. Bayanganmu selalu mengikutiku, apa kamu tidak tenang di alammu?”

Aku meraih foto di samping tempat tidur. Mengusap wajah Rachel dan mencium segala kenangan tentangnya. Itu foto terakhir aku dan Rachel sebelum dia meninggal setahun yang lalu. Hingga kini aku tidak mengerti penyebab kematiannya. Dia pergi ketika aku ditugaskan kerja ke luar kota selama sebulan. 

Sepulang dari sana dia telah tiada. Tetangga menemukannya tak bernyawa, diduga dia meninggal bunuh diri dengan menenggak obat serangga. Meski hasil otopsi medis mengatakan seperti itu, aku merasa ada kejanggalan dengan kematiannya. Aku mengenal Rachel melebihi dirinya. Kesakitannya adalah kesakitanku- tetapi dia tidak sebodoh itu mengakhiri masa hidupnya- meninggalkanku sendirian di dunia ini.

Pandanganku mengarah ke paket bungkusan itu. Aku mulai membuka bungkusan paket itu sebuah buku bertuliskan Angin karya Rachel M. Tanganku seketika gemetar. Bagaimana ada buku karyanya? Apa dia menulis dari kubur?

Aku membuka halaman pertama buku, halaman kedua, ketiga dan seterusnya. Aku amati setiap inci buku darinya. Buku ditulis setahun lalu sehari sebelum dia meninggal. Pengirim buku sebuah penerbit kenamaan di kota. Rupanya dia menulis buku selama aku ke luar kota. 

Di balik buku itu kutemukan catatan dari penerbit isinya tentang permohonan maaf penerbitan buku itu terlambat. Alasan teknis—padahal tertera Rachel telah membayar uang untuk penerbitan buku secara indie itu. Ah sudahlah! Aku semakin pusing dengan semua teka-teki ini. Mimpi yang yang sama dan buku misterius semakin meyakinkanku- tabir di balik kematian Rachel. Di halaman persembahan dia mencantumkan namaku.

Aku persembahkan kesucian dan cinta yang tulus hanya padamu. Maaf bila caraku menjaga cinta ini telah melukaimu tetapi sungguh aku melakukannya demi kita.

Air mata jatuh membasahi halaman buku. Begitu pedihnya sebuah cinta yang telah menjadi kenangan. Dan begitu pahitnya sebuah perpisahan itu.

“Maaf Rachel aku telah gagal menjagamu, maaf maaf sayang..aku tidak berguna!” Seketika kutinju meja dan kursi yang ada di hadapanku. Kuhancurkan segalanya kecuali buku itu.

Aku memungut buku itu yang terjatuh di lantai. Buku ini berbeda dengan apa yang dia katakan dalam mimpi. Bukanlah buku dengan lembaran-lembaran kosong melainkan satu narasi yang utuh karya novel. Lalu apa yang kutulis?

“Rasakan dengan hatimu!”

Aku terhenyak dari tempat duduk. Suara yang begitu nyata mengusik sadarku. Kulihat sekeliling rumah yang kosong. Aku pusatkan konsentrasi membaca wasiat Rachel. Aku membaca kata demi kata, merasakan, mendengar dan melihat suasana cerita. Aku melihatnya terdiam memandang bulan. Wajah bulan melengkung sabit. Seseorang bernama Adam mendekati Rachel dia menawarkan kesunyian kepadanya. 

Adam mengetahui Rachel seorang introvert yang mampu menghabiskan waktunya dengan menulis-juga mencintaiku. Sampai di bab pertama aku merasakan kecemburuan kepada Adam. Kesunyian yang diberikan Adam berwujud malam-malam penuh bunga. Bunga-bunga gugur di musim kemarau yang basah. Dan bunga yang telah kutanam di hati Rachel dicabut oleh Adam.

Duri bunga itu melukai Adam, namun Adam bersikeras menanam bunga lain di hati Rachel. Aku mencengkeram buku itu. Hampir saja buku itu kurobek-terbakar amarah. Rachel tidak tinggal diam, dia berjuang mempertahankan bunga dariku. Dia berontak mempertahankan mahkotanya. Mahkota bunga telah jatuh ke tanah pada bulan di mana aku pergi ke luar kota. 

Rachel menyirami bunga itu dengan air mata dan darah. Iya darah mengucur dari bibir tipisnya. Rachel telah membisu, dia hanya mampu menangis. Dia menanam bunga itu tidak di hatinya lagi namun dalam matanya. Rachel tersiksa dengan sejuta bunga yang diberikan Adam. Bunga-bunga beracun yang membunuh Rachel secara perlahan. 

Ketika Adam datang di malam sehari sebelum kematiannya. Rachel telah membakar seluruh hatinya-agar tak ada bunga yang tumbuh di hati. Dia melakukannya untuk menjaga kesetiannya kepadaku. Sesudahnya halaman berisi halaman kosong-ini artinya Rachel telah tiada. Aku baringkan tubuhku ke ranjang memeluk buku itu. Aku menangis sekeras-kerasnya memanggil nama Rachel. Baru kusadari, aku..aku yang membunuh Rachel dengan cintaku. Dia terbunuh karena menjaga cintaku. Dan Adam- biadab itu siapa dia?

“Sayang, aku sudah membaca bukumu aku sangat menyesal telah meninggalkanmu sendirian.”

Aku memeluk Rachel membenamkan air mata penyesalan pada hatinya. Kita terjatuh dalam keheningan yang dalam. Batas antara kematian yang kekal. Aku memiliki, menjaga dan mencintai seutuhnya diri Rachel. Angin musim berembus membuyarkan dandelion ke angkasa. Aku dan Rachel terbang mengikuti arah angin. Menuju lembah, bukit-bukit dan pegunungan. 

Di titik gigil Rachel membeku, kurasakan bibir Rachel yang dingin. Aku terus menyelimuti tubuhnya dengan tubuhku sebelum waktu menjadi beku. Dan sebelum kenangan menjadi abu. Rachel meski suratan takdir kita telah berakhir- kali ini di sisa halaman kosong akan kuawali kisah kita kembali. Kita mengulang perjumpaan mimpi yang indah- aku mencintaimu!

***

“Lihatlah sayang orang-orang mendatangi rumah kita?” kata Rachel saat kita jalan-jalan mengunjungi rumah kita.

“Biarkan saja biar meraka mengabadikan cerita kita.”

Aku mendengar sayup-sayup obrolan mereka.

“Tragis sekali ya nasib Adit aduh…aduh.. udah ganteng pinter kayak gitu mah sampai bunuh diri kayak gini, kalau dia depresi kehilangan istrinya kan bisa nikah lagi ya?”Ucap salah seorang tetangga.

“Adit sangat mencintai Rachel, sejak Rachel meninggal Adit sering teriak-teriak seperti orang gila. Iya memang sangat disayangkan suami istri yang romantis itu berakhir tragis seperti ini.”

“Tak ada yang mengerti cinta selain pemilik cinta itu sendiri, aku membisikkan di telinga Rachel.”

Rachel menyandarkan kepalanya ke bahuku. Kita terbang bergandengan tangan menuju langit. Sesaat Rachel melihat sebuah mobil yang berhenti di halaman rumah kami. Muncul sosok laki-laki dari pintu mobil. Raut wajah Rachel ketakutan, dia memelukku. Trauma itu masih terasa meski wujudnya sudah menjadi arwah.

“Jadi Si Bos yang melukaimu?”

Rachel mengangguk. Aku langsung terbang mengambil pisau dapur lalu menusukkan ke perut Si Bos.