Minggu ini masyarakat Indonesia sedang diguncang oleh pemberitaan yang viral di media sosial, media massa, maupun TV tentang sebuah Disertasi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berjudul “Konsep Milk Al-Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non-Marital”.

Tetapi kemudian, judul tersebut berubah menjadi “Hubungan Seksual di Luar Pernikahan Tak Melanggar Syariat”.

Bahkan di akun Indonesia Bertauhid, tersebar meme “Menuju Halalisasi Zina”. Secara sederhana, kata tersebut membuat masyarakat Indonesia resah.

Keresahan tersebut tidak terlepas dari masyarakat Indonesia yang mengalami euforia Islam, mengalami kegagapan dalam berislam dan Islamisasi dalam berbagai lini kehidupan seperti gaya hidup, wisata, ekonomi, dan lain sebagainya.

Tidak heran manakala di grup-grup WhatsApp banyak orang yang “sok” ahli berbicara tentang substansi disertasi dengan penyelewengan makna bahwa zina itu halal. Bahkan ada yang menulis di status Facebook bahwa disertasi tersebut adalah disertasi comberan.

Tanpa bermaksud menggurui nitizen yang mahabenar, tulisan ini merupakan hasil pengalaman akademik saya mengenal Muhammad Syahrur. 

Saya menempuh pendidikan S1 di jurusan Aqidah Filsafat Fakultas Ushuluddin dan S2 di jurusan Filsafat Islam Prodi Agama dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saya mengenal Muhammad Syahrur ketika sedang duduk di bangku Pascasarjana pada mata kuliah “Pemikiran Islam Kontemporer”; kala itu dosen pengampu adalah Prof. Dr. M. Amien Abdullah.

Pada mata kuliah tersebut, Muhammad Syahrur merupakan salah satu tokoh pemikir Islam kontemporer yang dijadikan bahan kajian. Kala itu yang dibahas adalah tentang pemikiran Syahrur tentang jilbab.

Karena pemikiran Syahrur masuk ke dalam mata kuliah wajib di jurusan Filsafat Islam, maka mahasiswa Filsafat Islam maupun mahasiswa di kajian Studi Islam pasti dan mengenal sosok pemikiran Muhammad Syahrur. Bahkan nama Syahrur sering kali disebut di forum-forum akademik pemikiran Islam kontemporer.

Di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, banyak hasil penelitian, baik itu Skripsi, Tesis, Disertasi, dan paper jurnal-jurnal yang mengkaji Muhammad Syahrur, dan mahasiswa UIN adem ayem saja dengan hasil penelitian tersebut.

Tetapi mengapa ketika masyarakat Indonesia mengalami fase kondisi mabuk agama, satu disertasi pak Abdul Aziz menggegerkan masyarakat Indonesia yang sudah lama “tertidur” dalam literasi.

Mengenal Muhammad Syahrur 

Muhammad Syahrur adalah pemikir Islam kontemporer yang lahir di Damaskus Syiria. Syahrur lahir pada tanggal 11 April 1938. Pendidikan dasar Syahrur dimulai di Madrasah Abdul Rahman al-Kawakibi di Damaskus dan tamat tahun 1957.

Pada maret 1959, Syahrur mendapatkan beasiswa pemerintah untuk menempuh pendidikan di Moskow Rusia untuk belajar tekhnik Sipil (al-handasah al-madaniya). Pada tahun 1965 ketika Syahrur telah menyelesaikan gelar Diploma, Syahrur kemudian mengabdikan dirinya di Fakultas Teknik Sipil di Universitas Damaskus Syiria.

Tidak lama setelah itu, Syahrur diutus oleh kampusnya untuk menempuh pendidikan Magister dan Doktoral di Ireland National University di Irlandia dengan spesialisasi mekanika pertanahan dan fondasi. Syahrur meraih gelar magister pada tahun 1969 dan gelar doktoral pada tahun 1972.

Di tahun itu juga, Syahrur kemudian diangkat menjadi dosen tetap pada Fakultas Teknik Sipil Universitas Damaskus dengan mengampu mata kuliah Mekanika Pertanahan dan Geologi.

Dalam konteks pemikiran Islam, Syahrur telah berhasil menulis karya buku yang fenomenal dengan judul Al-Kitab wa Al-Qur’an Qira’ah Mu’asyirah dan Nahwa Ushul Jadidah li al-Fiqh al-Islami. Kesemuanya karya Syahrur tersebut berbahasa Arab.

Syahrur menawarkan gagasan pemikiran Islam yang dekonstruktif dan rekonstruktif yang unik. Keunikan tersebut tidak terlepas dari latar belakang Syahrur sebagai seorang teknik yang ahli dalam ilmu matematika.

Karena latar belakang Syahrur yang bukan Studi Islam, sedangkan para pemikir Islam pada umumnya adalah berlatar belakang keilmuwan Islam, maka pemikiran Syahrur banyak dianggap oleh sebagian ulama sebagai kontroversial.

Profesor Quraish Shihab dalam bukunya “Jilbab Pakaian Wanita Muslimah” mengatakan bahwa Syahrur adalah seorang cendekiawan yang berusaha menampilkan pendapat baru. Tetapi karena kelemahannya dalam disiplin ilmu agama, maka apa yang ditulis oleh Syahrur sangat sulit diterima.

Dalam buku Nahwa Ushul Jadidah li al-Fiqh al-Islami inilah terdapat konsep Milk Al-Yamin yang dijadikan pijakan tafsiran disertasi pak Abdul Aziz. Buku tersebut menurut Syahrur ditulis selama 20 tahun dengan melewati tiga tahapan proses. Syahrur mengatakan bahwa buku tersebut adalah tawaran pembacaan kontemporer terhadap Alquran, bukan petunjuk penafsiran atau hukum.

Sepengetahuan saya, tawaran pemikiran yang ditawarkan oleh Syahrur adalah membaca teks melalui pendekatan hermeneutika yang berbeda dengan hermeneutika pada umumnya, seperti pemikiran hermeneutika Khaled Abou El-Fadl atau Nasr Hamid Abu Zayd.

Terlepas dari banyak cendekiawan Islam yang meragukan pemikiran Syahrur karena Syahrur tidak memiliki “otoritas” pengetahuan agama. Tetapi menurut Wael B. Hallaq (Pemikir Hukum Islam di Columbia University), apa yang ditawarkan oleh Syahrur dalam karya-karyanya memiliki kedalaman keilmuwan yang belum tertandingi oleh pemikir Islam kontemporer lainnya.   

Terlepas dari pemikiran Syahrur yang mengundang kontroversi, Syahrur telah berhasil memperkaya khazanah pemikiran Islam kontemporer, dan cendekiawan muslim “harus” mengakui itu.

Tidak Ada Kebenaran Mutlak dalam Pemikiran 

Sebuah pemikiran tidak terlepas dari latar belakang sang pemikir. Latar belakang sang pemikir sangat dipengaruhi oleh kondisi politik, ekonomi, sosial budaya kala pemikir tersebut hidup.

Begitu juga dengan pemikiran Syahrur. Sebagai pemikir Islam yang lahir di Syiria sebagai Negara Islam, dan menempuh pendidikan Barat yaitu di Rusia dan Irlandia. Kedua budaya antara budaya Islam di Arab dengan budaya Barat yang menjunjung kebebasan tercermin dari hasil pemikiran Syahrur.

Hal itu bisa dilihat dari pemikiran Syahrur yang membela hak asasi perempuan dan mengkritik kondisi perempuan Islam di Arab, juga kepedulian Syahrur tentang perempuan dalam konteks poligami, jilbab dan hukum warisan dengan menjadikan perempuan Barat sebagai argumentasi pemikirannya.

Dalam kajian Filsafat, pemikiran tidak harus homogen (sama). Heterogenitas (keberagaman) pemikiran menjadi bukti bahwa Studi Islam kaya dengan pemikiran-pemikiran yang progresif.

Di samping itu, dalam kajian Filsafat tidak ada kebenaran mutlak. Sebuah pengetahuan dalam hal ini pemikiran Islam tidak absolut benar. Dialektika dialog dalam pengetahuan (pemikiran) sangat dibutuhkan agar pengetahuan itu terus berkembang dan tidak mengalami kemandekan (statis) atau kejumudan berpikir.

Mengutip pemikiran Karl Mark Poper filosof Filsafat Ilmu dari Vienna Austria, bahwa ilmu pengetahuan yang telah ada itu bisa difalsifikasi dengan pengetahuan baru setelahnya. Dalam konteks ini, pemikiran Syahrur bisa difalsifikasi karena tidak ada kebenaran mutlak dalam ilmu pengetahuan (baca pemikiran).    

Lantas pertanyaannya, kenapa masyarakat Indonesia kaget dengan pemikiran Syahrur padahal buku-buku Syahrur telah masuk ke Indonesia sejak puluhan tahun yang lalu?

Miskinnya Bacaan Literasi Netizen

Pemberitaan di media massa yang mana sang penulis yaitu pak Abdul Aziz mendapat teror dan ancaman, kemudian pergeseran substansi pemikiran Syahrur dalam disertasi tersebut dan penghakiman sepihak dari netizen dengan “asal” berkomentar tanpa tahu siapa Muhammad Syahrur dan apa pemikirannya.

Menunjukkan jika netizen adalah masyarakat yang miskin literasi. Netizen lebih mudah menuding, cepat marah, asal berkomentar tanpa membaca isi disertasi secara utuh.

Padahal kalau kita mau menahan emosi dengan cara meluangkan waktu membaca minimal rangkuman disertasi tersebut atau membaca karya-karya Syahrur, niscaya kekerasan simbolik terhadap penulis disertasi tidak terjadi.

Karena bagaimanapun, disertasi adalah wilayah akademik. Dibutuhkan ruang dialog untuk mendiskusikan pemikiran Syahrur dengan menghadirkan narasumber yang kompoten, baik dari ahli tafsir, ahli hukum Islam, ahli filsafat Islam, dan ahli studi Islam.

Ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersikap reaktif, media Indonesia Bertauhid giat melancarkan meme provokatif dan netizen yang asal berbicara, maka mereka itulah orang-orang yang mempertontonkan kebodohan, yang sejatinya malas membaca tapi suka mempersekusi.