Bulan-bulan ini adalah musim gathering bagi mahasiswa baru. Sebagaimana acara kumpul-kumpul pada umumnya, gathering ini mempunyai tema. Kebetulan, gathering fakultas penulis bertema nineties alias tahun 90-an. Tema ini membuat penulis tergelitik untuk mengungkapkan kerinduan penulis terhadap beberapa hal di era ini.

Apa saja yang dirindukan dari era 90-an oleh penulis yang kelahiran 2001 ini?

Pertama, lagu-lagunya. Khususnya lagu-lagu KLa Project dan Nike Ardilla. Lagu-lagu dari ketiganya sangat mengena dalam kalbu. Setiap katanya membawa energi tersendiri yang membangkitkan semangat. Selain itu, makna lagu-lagunya yang mendalam juga membuat penulis ngaca terhadap kehidupan sendiri.

Mari kita mulai dari KLa Project. Band yang terbentuk tahun 1988 ini terkenal akan lagu-lagunya yang puitis. Mulai dari lagu-lagu yang galau seperti Tak Bisa Ke Lain Hati sampai lagu monumental seperti Jogjakarta. Liriknya yang puitis itu membuat setiap lagu memiliki footprint tersendiri dalam benak.

Ketika mendengar lagu Romansa, rasanya seperti berada di tengah taman bunga yang bersemi indah. Waktu berdendang Semoga, semua kerinduan terasa keluar dari sanubari. Apalagi ketika menyanyikan Lagu Baru. Semua problem kehidupan seperti tiada untuk sementara. “Lupakanlah problema, anggap saja tiada…

Kalau KLa Project puitis dan berkesan, Nike Ardilla mengingatkan kita bagaimana talenta dan kecantikan bisa berpadu. Suara Beliau sangat merdu dan khas. Sementara, penampilannya sangat mencerminkan seorang mojang geulis yang modis. Keduanya adalah potensi yang sangat besar bagi seorang pelaku industri musik.

Ternyata, Deddy Dores berhasil menangkap potensi ini. Dengan tangan dinginnya, ia berhasil mengarahkan Nike Ardilla menjadi seorang legenda era 90-an. Siapa yang tidak terkesan mendengar lagu-lagu seperti Bintang Kehidupan, Suara Hati, atau Sandiwara Cinta? Setelah pendengaran pertama, penulis sendiri were affected by it. Susah untuk melupakannya.

Sayang, Nike Ardilla meninggal pada usia 19 tahun di tahun 1995. Ketika kariernya sedang puncak-puncaknya. Berpulangnya Nike Ardilla membuat Indonesia kehilangan seorang legenda era 90-an. Bahkan, hari kelahiran dan kematian Beliau masih diperingati oleh para fans sampai hari ini. In death she soared.

Kedua, penulis juga rindu dengan satu sinetron di era tersebut, yaitu Si Doel Anak Sekolahan (SDAS). 

Sebenarnya, kerinduan ini tidak berpusat pada alur ceritanya. Itu sudah diobati dengan kehadiran Si Doel The Movie. Tetapi kepada gaya humor, potret realita, serta pelajaran yang diberikan oleh tontonan tersebut. Sungguh berbeda dengan sinetron zaman now.

Humor yang disajikan dalam SDAS berpusat pada interaksi tiga tokoh. Mereka adalah Babe Sabeni, Mandra, dan Karyo. Apalagi kalau mereka sedang berantem. Gesekan di antara tokoh-tokoh ini menghasilkan percikan humor yang sungguh jenaka. Lihat saja dialog berikut ini.

Mandra: Ngompa jugadimaki-maki juga, kapan senangnya sih saya?!

Babe: Entar, Perang Dunia Ketiga baru lu senang!

Dalam SDAS, berantem menjadi ajang improvisasi komedi bagi pelawak legendaris seperti Benyamin Suaeb, Mandra, dan Basuki Srimulat. Berbagai punchline Betawi dan Jawa pun digunakan untuk menyerang lawan main. 

Mulai dari “Idung Abang kayak jambu aer” sampai “Turun mesin, turun mesin! Turun bero kali!” Seperti halnya kita meledek saudara dan sahabat di dunia nyata.

Potret realitas inilah yang menjadi kekuatan terbesar SDAS. Tontonan ini tidak menyajikan sebuah dunia yang sangat kontras seperti sinetron zaman now. Tokoh yang protagonis terlalu sempurna macam malaikat, sementara tokoh antagonis terlampau jahat macam iblis. SDAS menyajikan sebuah dunia yang realistis. Tidak ada tokoh yang protagonis maupun antagonis.

Doel sebagai tokoh utama adalah seorang yang berintegritas namun plin plan. Sarah adalah wanita cerdas namun egois. Zaenab adalah sosok yang lembut namun kurang asertif. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Persis seperti kita semua di dunia nyata.

Ketika kita menonton sebuah tayangan yang realistis, kita pasti merasa seperti berkaca pada kehidupan sendiri. Dari cerminan tersebut, kita mampu mengambil pelajaran untuk kehidupan kita. Misalkan, kita harus konsisten dalam kejujuran seperti seorang Doel. Menyayangi keluarga seperti seorang Babe Sabeni. Bahkan menghindari kemalasan agar tidak bernasib seperti Mandra.

Kedua hal yang penulis rindukan ini mencerminkan karakteristik sebuah zaman. Zaman dimana masuk dapur rekaman membutuhkan perjuangan yang berat. Tidak seperti sekarang yang dipermudah oleh YouTube, iTunes, dan lain sebagainya. Sebuah era ketika sinetron masih mampu mencerminkan realita di masyarakat. Tidak seperti sekarang yang kebangetan dipolarisasi.

Maka dari itu, penulis selalu rindu dekade 90-an. Wish I lived through that decade. Menjadi saksi hidup terhadap suatu dekade dengan perkembangan musik dan hiburan yang dinamis.

Namun, sebagai bagian dari generasi post-millennial, penulis hanya bisa mengenang dekade ini dari lagu-lagu dan tayangan yang masih beredar sampai sekarang. Mereka memberikan kenangan tersendiri dalam sanubari penulis. Terima kasih dekade 90-an, telah memberikan warna dalam kehidupan ini.