“Kok jadi aku yang salah, kan kamu yang dandannya kelamaan”.

“Tapi kalau kamu jemputnya lebih awal, kan aku bisa lebih cepet dandannya”.

Memang bukan rahasia umum kalau cewek selalu benar dan cowok selalu salah. Konsep yang terkesan egois ini kalau dipikir-pikir memang terjadi bukan tanpa sebab. 

Kenyataannya cewek memang selalu saja bisa menemukan celah terhadap kesalahan cowok, bahkan saat cewek melakukan kesalahan mereka mengungkit kesalahan lama si cowok dan membuat cowok merasa salah dan mbatin “Lah kok dadi aku seng salah?

Ungkapan “cewek selalu benar dan cowok selalu salah” sejatinya adalah kalimat yang diciptakan oleh cowok sebagai bentuk perlawanan engan bahasa yang sangat halus. 

Namun, yang terjadi malah diamini oleh dan dianggap sebagai prinsip yang harus dipegang erat-erat dengan penuh kebanggaan oleh cewek. Hey, percayalah ungkapan tersebut itu bukan pujian, melainkan sindiran, Sayang.

Kenapa ini menjadi penting untuk dibahas? Karena dari sini kemudian muncul beberapa hal yang malah menghilangkan sisi menarik dari cewek.

Salah satunya adalah percakapan di atas tadi. Atau bahkan berkembang dengan cocoklogi “hargai cewek dong, ibumu juga cewek”. Padahal, kalau mau dihargai selayaknya ibu, sifat kalian juga harus seperti ibu dong!

Ibu dan cewek adalah dua hal yang berbeda. Ibu itu pasti cewek (dalam konteks jenis kelamin) sedangkan cewek belum tentu ibu (dalam konteks kedudukan). Artinya jika kalian belum menjadi ibu, maka derajat kalian belum setara dengan kami. Jadi tidak ada istilahnya cewek selalu benar, karena semua di mata Allah adalah sama. Asyek.

***

Hal menyebalkan selanjutnya adalah tentang kepastian. Beragam ungkapan seperti “Halalkan atau tinggalkan” serta “Bukti cinta bukan I Love You, tapi Qobiltu”.

Kepastian dalam hubungan umumnya sering diminta oleh pihak cewek. Ya, mungkin mereka sering terjebak dengan hubungan yang tidak jelas arahnya, kemudian ditinggal begitu saja. Atau memang pihak cewek merasa umurnya sudah tua dewasa, dan bukan waktunya untuk main-main lagi dengan perasaan.

Sebenarnya cowok juga berpikir demikian, namun ada beberapa hal yang dipertimbangkan. Kalau kita bedah isi otak dari cowok ketika membincang nikah, maka kita akan menemukan beberapa hal:

 

Pertama, Nafkah. Sebagai kepala rumah tangga tentu saja harus memberikan nafkah. Dan untuk mencapainya perlu mendapatkan pekerjaan yang mapan terlebih dahulu, nggak bisa modal cinta doang.

Kedua, Melamar. Ini bukan hanya soal mental, melainkan budaya. Melamar tidak hanya sekedar membawa niat, tapi juga bingkisan. Dan tentu saja perlu modal ekonomi yang cukup.

Ketiga, Resepsi. Pesta pernikahan ini lebih seperti undangan “mantu” dari pada nikah. Daftar undangan pun lebih banyak kerabat dari orang tua. Karena itu jika acaranya tidak meriah, yang terkena gunjingan adalah orang tua, dan kami tidak ingin itu terjadi. Namun tentu saja dalam masalah pendanaan kami tak ingin orang tua terlalu terlibat.

Keempat, Masih kuliah. Mungkin ada cowok yang mampu menikah sambil kuliah, namun sebagian dari kami merasa ada perbedaan kepentingan. Berpendidikan itu tujuannya membanggakan orang tua, sedangkan menikah itu kepentingan pribadi. Apakah salah, jika kami mendahulukan kepentingan orang tua daripada kepentingan pribadi? 

Kelima, Tanggungan pribadi. Terkadang ada saja cita-cita si cowok yang memang harus didahuukan dari pada keinginan pribadinya, seperti: menyekolahkan adiknya, mencapai jabatan tertentu dalam pekerjaan, menuntaskan hobi, dll.

Jika dikerucutkan, sebagian besar pertimbangan tersebut adalah faktor ekonomi. Nah, ketika kami curahkan hal tersebut biasanya cewek akan mengatakan “kami siap kok menemani cowok dari bawah”.

Iya, cowok akan sangat senang ditemani dari bawah, namun ego kami mengatakan bahwa keringat adalah milik cowok, dan orang yang kami cintai tidak boleh berkeringat juga.

***

Namun, terlepas dari itu semua. Benarkah bukti cinta adalah pernikahan? Bukankah sekedar nikah tanpa persiapan adalah guyon yang dikemas secara serius? Bahkan menurut data sih, pernikahan di bawah 18 tahun itu 50% berahir dengan perceraian. Dan faktor utama perceraian adalah masalah ekonomi.

Lantas jika menikah mendekatkan rejeki, kenapa banyak kasus pernikahan kandas gara-gara faktor ekonomi?

Menikah itu bukan sekedar memikirkan resepsinya nanti menunya rawon atau bakso. Lebih dari itu. Menikah memiliki tujuan memelihara keturunan, hidup berbahagia baik suka maupun duka secara bersama dengan jangka waktu seumur hidup. Karena itu diperlukan persiapan yang matang.

Percayalah, kami tidak melamar sekarang karena sedang melakukan persiapan. Kami tak ingin ketika sudah menikah nanti dianggap jarang pulang hanya karena banyak hobi yang belum kami tuntaskan. Kami juga tak ingin memberi kalian makan cinta saja. Beras sekarang agak mahal, telor ayam harganya sering naik kalau hari raya dan tahun baru.

Jadi dik, tidak ada hubungannya antara kesiapan menikah dengan keseriusan mencintai, justru tidak serampangan menikah dalam rangka mempersiapkan segala sesuatu dengan matang adalah bukti cinta kami kepada kalian.

***

Hal menyebalkan terakhir adalah tentang penampilan. Dengan sangat rahasia, kami sering mempertanyakan penampilan kalian yang terkesan berlebihan. Kami bahkan menduga kalau berdandan adalah siksaan bagi cewek yang dibungkus dengan kecantikan.

Alasan tersebut datang karena kami baru tahu kalau skin care ternyata sangat banyak jenisnya, mulai dari bedak, lipstick, eyeliner, pelembab, dan banyak lagi yang jumlahnya bisa saja setingkat dengan penduduk satu RW. Belum lagi harus memakai high hill, kami paham kalau sandal versi jinjit tersebut sangat menyakitkan ketika dipakai.

Coba deh renungkan, sebenarnya kalian berlama-lama dandan itu suka nggak sih? Tujuan kalian dandan itu memang ingin self love atau cuma takut dikatain nggak bisa dandan? Karena sejauh yang kami amati, ketika wisuda, pernikahan atau acara resmi lainnya, cewek selalu dandan secara berlebihan, bahkan cewek yang biasanya tidak pernah dandan.

Kami pun sebenarnya paham ketika kalian sudah berdandan dengan MUA yang agak mahal, kemudian mulai resah karena waktu azan sudah tiba. Yah, kami paham kalian resah antara pengin salat atau mempertahankan hasil coretan yang sudah dibayar mahal.

Bukan apa-apa sih, kami agak kasian saja melihat kalian yang mulai membuat budaya baru dengan menyiksa golongan kalian sendiri. Ini juga menjadi urusan cowok loh. Paling tidak hal ini membuat kami jenuh ketika ngajak kencan karena harus menunggu kalian berdandan dengan cukup lama.

Kalau boleh jujur, meski kalian tidak dandan pun kami sudah klepek-klepek kok. Atau kalau memang ingin terlihat tidak “kumus-kumus” yasudah tidak usah terlalu berlebihan.

***

Kiranya itu hal-hal menyebalkan tentang cewek dalam pandangan cowok. Besar harapan saya para cewek mulai paham kalau cowok juga butuh dimengerti. Meski saya paham kalau harapan tersebut terkesan mustahil. Panjang umur perjuangan.