I used to think that football was more important than lifeand death, but Jean-Paul made me realize that, like every-thing else, it was totally without meaning. -Bill Shankly

Menikmati sepak bola tak cukup dengan membeli tiket lalu duduk manis 90 menit di tribun VIP menyaksikan 22 pemain berlari-lari di atas rumput hijau, ditemani kacang rebus, arem-arem, dan tahu asin. Lebih jauh, sepak bola bukan hanya tentang menang kalah, ada filosofi, ada taktik, ada proses, ada tangis dan tawa, ada cacian, ada pujian, ada kejutan, ada kekerasan, dan masih banyak lagi. 

Hal ini menunjukan bahwa sepak bola sangatlah kompleks dan dengan demikian dapat dikorelasikan dengan kehidupan sehari-hari, lebih-lebih mencakup konteks yang lebih luas.

Kalian tentu bakal tak percaya bahwa sepak bola mampu memicu perang negara? Namun, hal tersebut benar adanya, sepak bola mampu memicu perang. Seperti yang terjadi antara El Savador dan Honduras di tahun 1969 dan Perang Balkan di awal dasawarsa 1990-an. Meskipun begitu sepak bola juga pernah menjadi ajang perdamaian -menghentikan perang untuk sementara waktu-, salah satu contohnya adalah Kisah Christmas Truce antara serdadu Jerman dan Inggris di Perang Dunia I.

Sepak bola menjelma sebagai alat diplomasi dan perjuangan tatkala tim sepak bola Bosnia & Herzegovina, mengunakan sepak bola untuk meminta dukungan negara-negara di dunia untuk mengakui kemerdekaan mereka. Di masa perang kemerdekaan dengan Prancis, diplomasi serupa juga dilakukan oleh tim Aljazair bentukan FLN (Front de Liberation Nationale), yang dipimpin oleh Rachid Mekhloufi dan Moustapha Zitouni.

Mengapa harus sepak bola? Dari peristiwa di atas bisa dikatakan bahwa sepak bola dengan kesederhanaanya berhasil menjadi jembatan antara obyek atau wujud yang sama sekali sama sekali tidak ada hubungannya dengan sepak bola menjadi terhubung.

Mengambil contoh L’Etre et le Neant (Ada dan Tiada) dari Sartre. Secara konsep, L’Etre et le Neant adalah peniadaan striker dengan harapan adanya fluktuasi antara ada dan tiada dengan sesama striker. Bagaimana memainkan pemain -melalui pergantian- yang “taka ada” di bench. Dari konsep tersebut terbentuk sebuah pola 4-4-1-0, mudahnya Sartre menggunakan seorang pemain dengan tidak menggunakannya.

Jika melihat filosofi totaal voetbal racikan mujarap dari Belanda ramuan Rinus Michels, ia memanfaatkan karakter orang Belanda yang terbiasa memanfaatkan ruang sempit. Konsep yang digunakan adalah penafsiran ruang. Bagaimana menciptakan ruang agar bisa dieksploitir semaksimal mungkin, lapangan menjadi luas bagi sebuah tim dan sebaliknya menjadi sempit bagi tim lawan. 

Cattenaccio, sistem pertahanan gerendel khas Itilia diciptakan oleh Helenio Herrera dengan mencontoh taktik verrou karya Karl Rappan dan memanfaatkan inferioritas fisik orang Italia. Malahan, pada tahun 1872 di pertandingan internasional perdana antara Inggris dan Skotlandia pertama kali menampilkan permainan dengan gaya beda. Sepakbola di Inggris berkembang dengan mengagungkan dribel, sementara Skotlandia memainkan bola dari kaki ke kaki atau umpan panjang.

Sebegitu banyaknya nilai dan ide yang terkandung dalam sepak bola, membuat Edward S. Kennedy menganalisis lebih dalam persoalan-persoalan di sepak bola mengunakan ilmu sosial. Sebagai contoh, sebab adanya pemain pemberontak seperti Socrates, Diego Maradona, Eric Cantona, dan Zlatan Ibrahimovic, dll. 

Kita dapat melihatnya dari asal kota mereka. Socrates dari Brazil. Maradona dari Kawasan kumuh Buenos Aires, Cantona dari pesisir di Marsille yang terkenal keras, sedangkan Ibra berasal dari keluarga imigran dan miskin yang terpinggirkan di Rosengrad.

Cara penulis membedah sepak bola belum begitu lazim digunakan di Indonesia. Bagaimana tidak, dalam artikel ‘Hipster Sepak Bola? Yang Benar Saja’, penulis membuktikan tidak ada jarak antara sepak bola dengan filsafat, melalui pemikiran beberapa tokoh seperti Alan Badiou, Antonio Nagri, dan Slavoj Zizek. Perang antara Honduras versus El- Savador dapat di telaah mengunakan pemikiran Badiou, ‘state of situation’. 

Pada saat gelaran Piala Dunia 2010, Zizek telah memprediksi babak final melalui konsep The Real. Secara konsep The Real merupakan negasi -semacam ketidakmungkinan- dari semua simbol maupun imaji yang mengepung rutinitas kehidupan manusia.

Contoh tekahir, kapan-kapan saksikanlah derby antara PSIM melawan Persis Solo di Mandala Krida. Jangan lupa mengenakan jersey Persis Solo, lalu berjalanlah menuju tribun selatan, tribun yang sering ditempati Brajamusti. Berdirilah di sana sambil dan nyanyikan chant “Alap-alap Sambernyawa”. Tak sampai lima menit, Anda pasti langsung merasakan The Real secara terperinci.

Seperti itulah. Sejatinya tak ada relasi yang berjarak antara sepak bola dengan filsafat. Beberapa filsuf sendiri pernah bersinggungan langsung dengan olah raga si kulit bundar ini. Albert Camus saat menempuh pendidikan SMA di Algeria, sering bermain sepak bola dengan posisi sebagai penjaga gawang. Pada medio 1960-an, Sartre juga pernah menjadi pelatih di Stade Saint-German.

Buku ini sangat menarik untuk dibaca karena buku ini ditulis dengan sudut pandang beragam. Ada begitu banyak tafsir tercipta dalam 2 x 45 menit, boleh jadi atas beragamnya tafsir itulah mengapa buku ini diberi judul ‘Sepak Bola Seribu Tafsir’.