Mahasiswa
1 tahun lalu · 216 view · 4 menit baca · Budaya 29774_36127.jpg
Fine Art America

Hakikinya Suara Minoritas

Analogi Lain tentang Intoleransi

Sebelum saya beranjak menulis artikel ini, saya perlu menguraikan pertanyaan yang masih membesit di pikiran saya tentang betapa ketidakkuatannya menjadi golongan yang dicap sebagai ‘kaum minor’. Pelbagai bentuk minoritas yang ada di muka bumi ini, seperti agama, ras, suku minoritas, maupun orientasi seksual yang minoritas.

Bentuk-bentuk minoritas tersebut tidaklah abstrak. Mereka nyata di pelupuk mata kita, wahai teman. Tak ayal jika keberadaan mereka kita sebut perusak, penyusah, dan segala embel penebar aura kenegatifan. Itulah hal yang masih kita dengar dari mulut ke mulut sampai sekarang.

Apakah minoritas jarang merasa tenang?

Tentu iya. Apalagi dalam kondisi lingkungan dengan manusianya yang masih bobrok dengan open minded/look forward minded. Tanpa disadari, perlahan mereka berusaha menunjukkan belang asli untuk si minor.

Gerakan yang bersifat anti sosial terus ditegakkan agar si minoritas merasa tidak nyaman untuk melakukan kebajikan nyata bagi sekitarnya, terus mengekang, kalau bisa mengenyahkan dari lingkungan tersebut. Dengan situasi tersebut, sang minor akan selalu berjuang habis-habisan demi kesetaraan yang diidamkan. Berjuang lebih ekstra, tepatnya.

Luaskah kebebasan minoritas itu?

Kalau berbicara aspek ini, bisa dari banyak sisi. Misalnya, dalam hal kesempatan berkuasa di suatu institusi/organisasi sosial, yang kita lihat dan cermati sekarang adalah jarang sekali ada seorang kepala sekolah/camat/bupati/gubernur yang bertitel minoritas (di negeri ini).

Sedikit cerita, ketika saya masih mengeyam bangku SMA, ada seorang guru (salah satu guru favorit). Kebetulan dia beragama Kristen Protestan yang masih hebat dalam mendidik anak muridnya dan beliau mengutarakan keinginannya bahwa ingin naik pangkat sebagai Kepala Sekolah.

Saya sangat excited mendengarnya, sebab yang saya cermati, beliau sangat berpotensi untuk memajukan suatu institusi dengan bobot yang beliau miliki. Tetapi, dengan senda guraunya ia berkata, “Sepertinya sulitlah Daddy (panggilan kami khusus untuknya) naik pangkat. Kan tahu Daddy di kualifikasi pertama saja ga lolos.”

Saya menangkap maksudnya, getirnya fakta bahwa ketidaksetaraan masih hidup di abad 21 ini. Ini menyimbolkan betapa terkekangnya kebebasan para minor di negeri ini yang katanya bertoleransi tinggi, termasuk untuk duduk di suatu posisi penting.

Keahlian mereka yang sebenarnya bisa dianggarkan jadi terbelenggu akibat paham dinasti kepemimpinan keberpihakan etnis di negeri ini. Faktanya, keadaan ini masih dialami di hampir seluruh minoritas di berbagai penjuru dunia, apalagi Indonesia.

Bisakah mereka berdiri sejajar dengan mayoritas?

Mungkin, namun perlu waktu panjang. Kita tak bisa melulu sama, sebab Tuhan memang menakdirkan kita untuk berbeda. Tak ada yang bisa menyalahkan kehendak dan ciptaan-Nya, bahkan seorang pemuka agama sekali pun.

Kembali ke nasib minor, sikap tak pantang menyerah harus selalu digalakkan untuk mencapai tujuan yang hirarki ini. Semua pihak ingin disetarakan, bahkan sebuah pohon kaktus pun perlu disiram seperti tanaman-tanaman lainnya. Apalagi seorang makhluk yang berakal sehat? Sekiranya tidak usah dijawab lagi.

Kesetaraan atau equality memang belum sepenuhnya utuh, tetapi itu tidak dinilai dari kuantitasnya, melainkan dari nilai aksinya, bagaimana kita yang menjadi mayoritas harus mempunyai pikiran yang strukturaltif dan komprehensif dalam menafsirkan keberagaman yang ada.

Kadang saya berpikir, kalau Tuhan ingin kita berbeda, mengapa dengan senonohnya ada kelompok dengan asas yang tak jelas (mungkin apatisme dan/atau fanatisme) menghakimi pihak yang memang dinodai atas dasar rasnya yang minoritas? Lalu, mereka makhluk ciptaan siapa? Apakah mereka masih pantas membela Tuhan di saat Tuhan sedang menggelengkan kepala atas aksinya? Itu patut disesuaikan dengan kostum ala suci mereka.

Siapkah penindas minoritas melihat fakta sebenarnya?

Hal ini sebenarnya masih menerka-nerka alirannya. Motif batik dari setiap daerah berbeda coraknya, begitu juga dengan para penindas ‘wong cilik’ katanya. Beberapa kejadian dalam beberapa tahun ini membuka intuisi kita dengan jelas sebenarnya.

Pengeboman di Paris tahun 2015, pengeboman sebuah klub malam di Orlando tahun 2016, serangan bom di Brusel, pengeboman di Manchester, Manila hingga Jakarta tahun 2017 ini. Motif dari semua serangan tersebut beragam. Mayoritas dari korban tersebut ialah penduduk mayoritas itu sendiri, bahkan mereka terkena luka jiwa dan batin terparah.

Belakangan, situasi pelik di negeri ini kian tak berujung arahnya. Banyak pihak bersikeras mengklaim kelompoknyalah yang terdepan membela keadilan insan. Nyatanya, banyak pihak yang dirugikan, khususnya minoritas.

Rasanya problematika ini tidak perlu dikampanyekan ke mana-mana, tidak perlu dijilid-jilidkan, dan tidak pantas untuk dipersenjatai untuk kepentingan pribadi yang bersifat sublimatif. Ketakutan terbaru saya, yakni isu yang sudah lama padam (seperti PKI dan etnis Cina) akan tegur sapa di tahun politik 2019 mendatang.

Saya tidak pernah merasa gembira atas identitas saya yang tergolong mayoritas (hanya di negeri ini), sebab menurut saya yang terpenting ialah bagaimana kita umat manusia bisa hidup dalam satu harmoni dan bisa menyatukan kemajemukan yang memang sudah mengakar di dalam ideologi bangsa ini.

Menjadi pihak yang sedikit kuantitasnya di suatu tempat bukanlah suatu kesalahan. Yang salah ialah penyalahgunaan kondisi sebagai kelompok yang besar jumlahnya dengan mencampuradukkan hasrat kepentingan politik belaka yang merupakan kebodohan modern negara ini miliki. Harapnya, hal tersebut tidak akan dilakukan berkala di setiap momentum politik dan pergantian kekuasaan.

Kita selalu memandang sebelah mata minoritas, bahkan asal kita sadari perekonomian negara ini sekarang banyak yang didominasi oleh pihak minor yang selama ini mereka hakimi. Tak usahlah berlagak arogan di negeri sendiri walaupun sebagai mayoritas, persepsi tersebut dengan perlahan membelenggukan pikiran agar selalu mengaktifkan sifat etnosentrisme. Sebab, ketika Anda mencap orang lain sebagai biang kepelikan, di situlah identitasmu perlu kau ubah.

“Justru itu, toleransi yang merupakan sumber dari perdamaian, dan intoleransi yang merupakan sumber dari gangguan dan pertengkaran.” –Pierre Bayle–