Secara kimia dan fisika, otak manusia sama seperti kerbau. Aspek pembeda manusia dengan hewan sebagai spesies adalah kerja.

Meski Sartre memandang manusia adalah entitas bebas atau suatu pengada, Karl Marx berpendapat manusia tetap memiliki sifat dasar—yaitu kerja. Hakikat manusia adalah bekerja.

Kerja dalam konteks ini merupakan usaha daya cipta manusia untuk mewujudkan suatu hal di dalam realitas yang sebelumnya tidak ada dan hanya ada di dalam realitas abstrak yang bernama imajinasi.

Apakah keledai punya imajinasi?

Kalau memang ada, saya tertarik untuk mengetahui seperti apa imajinasi keledai atau imajinasi seekor ikan. Kelihatannya keren jika dijadikan film atau stimulus untuk mengobati pecandu.

Lantas apa dan bagaimana tujuan kerja manusia di masa sekarang?

Pasar selalu mendikte bagaimana hidup yang baik mestinya dijalani; menikah, punya anak, (istri/suami), rumah sendiri, mobil, tabungan, investasi dan lain sebagainya.

Konsumerisme selalu menang dan syahwat asketik selalu bertekuk lutut di hadapan mimpi akan hidup yang bergelimang gengsi ala borjuis.

*

Filsafat moral dan etika bahkan di zaman sekarang rasanya itu usang sekali. Terkesan katrok bin norak kalau digunjingkan buat jadi kaca pertanyaan menjemukan tentang; apa sudah tepat cara kita menghabiskan kontrak di bumi? yang konon katanya sebagai khalifah~

Setidaknya COVID-19 jadi salah satu exploit atas sistem kapitalistik yang nyaris gagal menjembatani seluruh manusia tanpa sekat sosial-ekonomi untuk hidup bahagia lewat 'kompetisi' ala primus inter pares yang berdarah-darah.

Di tengah pandemi—saat ini—kita hidup untuk hidup.. seperti kata om Darwin, survival of the fittest.

Berfilsafat memang nggak bikin perutmu kenyang atau bisa buat bayar cicilan mobil, sekurang-kurangnya itu tetaplah perlu untuk menjaga akal tetap waras di tengah kegilaan yang melanda; saat orang rela membayar Rp. 15.000 untuk Sweet Ice Tea dan Rp. 2500 untuk Es Teh Manis dengan gembira.

Anda bisa saja punya segudang argumen untuk mempertahankan "selera kelas" yang Anda biasa konsumsi. Nyatanya, itu cuma berbagai gimmick demi menyangkal kebenaran yang bersahaja: pada dasarnya manusia ingin terlihat lebih unggul dan berbeda dari manusia lain, lewat harga dan merek.

Berbagai kenyataan sosial masyarakat industri yang mendorong konsumsi sebagai ukuran keberhasilan benar-benar mereduksi kesadaran sosial individu akan otonomi diri dan kebebasan pikirnya sendiri. One dimensional man, kalo kata tokoh sekolah Frankfurt, Herbert Marcuse.

Peran agama sebagai agen penjelas batas hal yang sakral versus hal yang profan, gagal total mengerem laju ketimpangan sosial-ekonomi. 

Agama di tengah masyarakat industri nyaris mandul menjadi pembebas hegemoni pasar atas konsumsi kolektif, sehingga kualitas modal sosial mandek perkembangannya.

Melawan modernitas dengan aksi stoikisme juga bukan hal yang heroik. Sama halnya dengan memandang sinis kemajuan jaman, itu juga bukan berarti sikap anti-kemapanan ala bocah Punk.

Masyarakat modern sendiri sudah menjadi Juggernaut yang akan menggilas siapapun yang mencoba melawan arus.

Modernitas dan kemajuan jaman bukan untuk dilawan apalagi jadi sumber pertikaian.

Renungkanlah! apakah cicilan yang anda punya benar-benar keinginan anda, atau hanya tipu daya lingkungan sosial yang memaksa Anda bekerja bagai kuda hanya untuk diakui sebagai bukan orang yang gagal menghargai hidup?

Sejauh mana 'eksistensi mendahului esensi' manakala konstruk sosial masyarakat industri difabrikasi untuk memenuhi hasrat konsumsi belaka? Di situ kebebasan tidak lebih dari sekedar kutukan untuk hidup di dalam cangkang kerdil ekonomi uang.

Hidup untuk bekerja, dan bekerja untuk makan, lalu makan untuk hidup. Itu sebuah siklus biadab yang menjepit imaji mahsyur manusia; yang katanya makhluk paling luhur dengan anugerah kehendak bebas melakukan dan menjadi apa saja di muka bumi.

Di bawah panji kapitalisme, patut diakui inovasi dan kreativitas proses serta faktor-faktor produksi melaju dalam kecepatan optimum. Demikian adanya land-grabbing, minimum wage, eksploitasi alam, perampasan ruang hidup rakyat oleh negara, melahirkan anak haram peradaban: kemiskinan. Bukan hanya kemiskinan, melainkan rantai kemiskinan.

Orang miskin dihadapan kelas menengah dipandang sebagai parasit malas yang belum bekerja cukup keras sesuai standar mereka.

Di depan partai politik, orang miskin dan kemiskinan hanya menjadi jargon dan lumbung suara yang akan berlalu begitu musim kawin politik usai. Kalau di hadapan negara, kemiskinan itu dipelihara keberadaanya, supaya tetap miskin.

Siapa yang teralienasi oleh keberadaan orang miskin?

Kelas menengah memandang kemiskinan adalah wabah dan anomali yang mesti disingkirkan jauh-jauh.

Mendirikan tembok tinggi, membangun kompleks megah dengan pemgamanan ketat yang jauh dari perkampungan kumuh kota, adalah salah satu bentuk pengasingan kelas menengah terhadap segala bentuk sikap dan simbol anti-kemapanan.

Di lain sisi, sebagian orang miskin memandang orang-orang borju korup, culas, licik dan pelit—segala bentuk kebudayaan dan pola konsumsinya dianggap kikir dan mesti dijauhi dengan sikap sinis penuh prasangka.

Pertentangan kelas yang saling mengalienasi antara borjuis dan proletar mengantarkan pada kita kalau ternyata proses kerja sebagai bentuk objektivikasi sikap serakah manusia, membuat kerja menjadi rantai yang dibuat untuk mengekang diri sendiri tanpa sadar.

Meromantisir kemiskinan dalam bincang soal kapitalisme tentu begitu menjemukan. Hanya saja kapitalisme dan kemiskinan itu seperti dua sisi mata uang, dapat dibedakan tapi tidak dapat dipisahkan.

Sudahkah Anda minum kopi seharga Rp75.000 satu cup?