Manusia merupakan makhluk berakal budi, dengan akal budinya manusia dapat mempelajari dan mencapai banyak hal dalam kehidupan. Namun, manusia tidak hanya terbatas pada kecerdasan. Intelektualitas manusia juga diiringi dengan emosi, yang merupakan salah satu atribut intrinsik dimiliki manusia. Emosi dapat mempengaruhi kontemplasi dan resolusi yang dibuat. Ada emosi negatif yang dialami manusia, seperti ketakutan dan amarah. Sebaliknya, emosi positif yang ada yaitu seperti kenikmatan dan kesenangan; emosi-emosi yang dimiliki manusia terkait erat dengan kebahagiaan.


Secara filosofis, kebahagiaan adalah konsep abstrak dan relatif yang diterapkan pada manusia, tetapi konkret sebagai hubungan dengan keilahian atau realitas yang lebih tinggi (kesadaran atau Atman), meskipun realitas ini tidak ada atributnya. Mengingat banyaknya kompleksitas dan kebingungan yang terkait dengan kebahagiaan dan cara mencapainya, para filsuf menganggap hal ini sebagai topik yang menarik dan berguna untuk dibahas. Aristoteles membahas kebahagiaan dan apa yang mengarah pada kehidupan bahagia dalam bukunya Etika Nikomakea, terkenal dalam bahasa Inggris-nya Nicomachean Ethics.


Pandangan etis Aristoteles memiliki peran signifikan karena menyangkut dengan pandangan politiknya. Memperhatikan kondisi kebahagiaan komunitas merupakan kewajiban politisi atau negarawan. Kewajiban tersebut harus ditaati ketika menyuarakan perspektif dan membentuk undang-undang kepada rakyatnya. Untuk lebih memahami kebahagiaan dalam masyarakat, seseorang harus memahami kebahagiaan dalam dirinya. Cara berpikir demikian yang digambarkan dalam etika Aristoteles sangat berbeda dengan Plato.


Dalam bukunya Republik, Plato menggambarkan pencarian definisi kebaikan dengan cara seseorang mencarinya dalam masyarakat. Ia berpandangan bahwa dengan begitu seseorang dapat lebih dalam memahami dirinya. Untuk menemukan karakteristik esensial dari kebahagiaan, Aristoteles mengatakan bahwa kebahagiaan itu harus menjadi tujuan itu sendiri, bukan hanya sarana untuk sesuatu yang lain.


Misalnya, kekayaan tidak bisa membuat seseorang benar-benar bahagia karena kekayaan adalah alat untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Aristoteles bermaksud menghilangkan anggapan bahwa kebahagiaan itu subjektif dengan menyatakan bahwa itu harus menjadi tujuan itu sendiri. Untuk memperkuat usahanya, ia menciptakan fondasi untuk penyelidikan lebih lanjut tentang apa yang merupakan kehidupan bahagia, apa kebaikan yang terkandung, dan bagaimana semua ini cocok dengan konsep jiwa.


Apa yang merupakan hidup bahagia? Mengetahui bahwasanya banyak orang kurang pemahaman tentang apa yang membuat hidup bahagia, Aristoteles mencoba membahas pandangan yang tak terhindarkan dari perdebatan dan penganut karena keistimewaannya. Secara khusus, pemahaman Aristoteles dapat dijelaskan dalam tiga bagian.


Pertama, perdebatan muncul bukan karena keunggulan kebahagiaan sebagai sesuatu yang harus dituju. Sebaliknya, perdebatan berkisar pada sifat kebahagiaan dan apa yang benar-benar membuat seseorang bahagia. Aristoteles telah menetapkan bahwa kebahagiaan harus menjadi tujuan itu sendiri. Contoh yang ia angkat untuk menolak pandangan umum yaitu yang didasarkan pada kekurangan. Ia mengemukakan bahwa orang miskin akan melihat kekayaan sebagai komponen penting untuk kebahagiaan.


Kedua, apakah kekayaan benar-benar merupakan komponen penting? Atau apakah itu hanya pemikiran idealis di pihak seseorang yang kekurangan harta? Contoh ini mendukung posisi Aristoteles karena kemiskinan yang diderita oleh orang tersebut mengubah persepsinya menjadi sangat bias pada apa yang luput darinya.


Hidup bahagia menurut Aristoteles terletak pada kajian-kajian yang berkaitan dengan kenegarawanan. Istilah kenegarawanan digunakan karena Aristoteles tidak hanya berbicara tentang kehidupan politik, melainkan lebih kepada kehidupan masyarakat; di mana sifat politik seseorang tentu memainkan peran penting. Pandangan Aristoteles tentang kebahagiaan terkait dengan pandangannya akan kebaikan. Kebaikan harus menjadi akhir dari suatu tindakan. Aristoteles menegaskan bahwa kebaikan adalah tujuan dari tindakan.


Yang terakhir, penalaran Aristoteles didasarkan pada asumsi rasional bahwa tujuan akhir lebih bernilai daripada kegiatan itu sendiri. Jika tidak demikian, lalu apa gunanya mengejar tujuan itu? Apabila dilihat lebih dekat, kebaikan tidak hanya menandakan akhir dari suatu tindakan, tetapi juga merupakan akhir dari tindakan. Kita menginginkan yang baik demi kebaikan itu sendiri dan hal tersebut diinginkan di atas semua tujuan lainnya.


Penekanan mendalam Aristoteles tentang pengetahuan yang terkait dengan kebaikan tidak sepenuhnya berbeda dengan Plato. Meskipun keduanya melihat kebaikan dari dua sudut pandang yang berbeda, mereka berdua melihatnya tidak hanya sebagai tujuan (bagi Aristoteles) atau wujud tertinggi (bagi Plato), tetapi juga menghubungkannya dengan pengetahuan. Relasi antara pemahaman Aristoteles tentang kebaikan dan pandangannya tentang kebahagiaan dijelaskan lebih baik dengan melihat pandangannya tentang jiwa.


Analisa jiwa milik Aristoteles mengidentifikasi dua jenis keutamaan yang berbeda: keutamaan karakter dan keutamaan intelektual. Keutamaan karakter berhubungan dengan keadaan emosi seperti hasrat, amarah, ketakutan, kepercayaan diri, iri hati, kegembiraan, cinta, kebencian, kerinduan, kecemburuan, belas kasihan, dan secara umum perasaan apa pun yang disertai dengan kesenangan atau penderitaan.


Keinginan dan tindakan bisa selaras dengan penalaran atau tidak. Keutamaan karakter, yang diperoleh melalui kebiasaan, melibatkan pengaruh dari nalar. Kunci untuk memahami keutamaan karakter, dan salah satu aspek Etika Nikomakea yang paling terkenal, adalah doktrin tentang arti. Setiap keutamaan berada di antara dua tindakan ekstrem.


Keberanian, misalnya, adalah keutamaan; kurang keberanian berarti pengecut, dan itu salah satu ekstrem. Tetapi, memiliki terlalu banyak keberanian menjadi gegabah, dan itu juga merupakan kesalahan. Orang yang biasanya gegabah tidak dikagumi (walaupun ia mungkin lebih dikagumi daripada pengecut). Jika keberanian adalah tindakan mulia, maka seseorang harus memahami tingkat keberanian yang sesuai.


Penjabaran di atas merupakan keutamaan karakter. Keutamaan karakter hanyalah salah satu dari dua jenis keutamaan yang dibedakan oleh Aristoteles. Keutamaan intelektual lebih tinggi dalam hierarkinya, hadir di bagian jiwa yang rasional. Bagian kalkulatif dari jiwa rasional terhubung dengan keutamaan yang berkaitan dengan seni dan kebijaksanaan. Dalam penerapannya biasa diketahui sebagai kebijaksanaan praktis.


Di sinilah kita memikirkan tentang apa yang harus dilakukan. Kebijaksanaan praktis memainkan peran penting dalam kaitannya dengan keutamaan karakter. Kebijaksanaan praktis digunakan untuk memahami bagaimana keutamaan karakter dan keutamaan intelektual berkombinasi menjadi satu.


Kebijaksanaan praktis berputar pada pemahaman akan kebenaran dan selalu melibatkan akal. Dalam menggunakan kebijaksanaan praktis, seseorang menerapkan elemen-elemen dari apa yang diperlukan untuk keutamaan yang lebih tinggi (pemikiran abstrak). Sasaran dari kegiatan tersebut untuk memoderasi keinginan dan tindakan agar lebih sesuai dengan alasan, melalui kontemplasi terhadap tindakan apa yang terbaik untuk situasi tertentu.


Hal ini berkorelasi dengan bagian jiwa yang ilmiah dan rasional. Dengan berkontemplasi, seseorang dapat berpikir jauh lebih abstrak dan memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang sebab-sebab. Kita dapat mengetahui, tidak hanya bagaimana sesuatu dapat terjadi, tetapi juga mengapa itu terjadi.


Ekstraksi dari analisis soal perpaduan keutamaan karakter dengan keutamaan intelektual yaitu keseimbangan. Doktrin keseimbangan yang digunakan Aristoteles ini juga dikenal sebagai keseimbangan emas (the golden mean). Keseimbangan emas memuat keadilan, yaitu memperhitungkan tindakan dengan tidak menggapai kelebihan, dengan kata lain tidak sepihak.


Kesimpulan dari kebahagiaan menurut Aristoteles yaitu kebaikan sebagai tujuan akhir dari tindakan, dengan pengaturan keutamaan karakter dan keutamaan intelektual. Dua keutamaan ini tidak dapat terpisah satu sama lain, menghilangkan salah satu dari mereka itu mustahil. Keutamaan karakter adalah aspek emosi dari sifat manusia yang dibawa sejak lahir. Rasionalitas, yang merupakan poros penggerak keutamaan intelektual, patut mendampingi perasaan untuk kebijaksanaan mengendalikan diri dari keburukan dan kemaksiatan.


Intelektualitas dan perasaan dapat dipisahkan dan seseorang harus menguasai kedua hal itu dengan baik. Keutamaan dapat dihasilkan dari berpaut pada titik sentral atas dua kutub terujung. Aristoteles mengatakan keutamaan ini baiknya diterapkan sebagai kebiasaan. Karena kebiasaan dapat memupuk kehidupan yang bahagia dengan mengembangkan kebaikan dan mengatur emosi untuk meraih kesenangan dan kesakitan dengan cara yang benar.




Sumber: Aristotle, W. D. Ross, and Lesley Brown. 2009. The Nicomachean ethics. Oxford: Oxford University Press.