Kalau Anda sedang di negara yang notabene liberal seperti Amerika, Anda, mau tidak mau harus bisa ngempet dalam hal apa pun. Warga Amerika yang sering kita bincangkan tentang kebebasannya, ternyata mereka juga menganut budaya ngempet.

Hanya untuk masalah berkendara, pengemudi harus ngempet untuk tidak melanggar peraturan ketetapan kecepatan dalam berkendara. Bila di pinggir jalan Anda melihat ketetapan kecepatan berkendara sebesar 60km/jam dan Anda melanggar kecepatan tersebut, bersiap-siaplah, karena secara gaib, polisi akan muncul tepat di kaca spion mobil Anda dan menggiring Anda ke jalan yang direstuinya.

Jangan heran jika banyak kecelakaan karena tidak memakai metode ngempet dalam berkendara.

Di Indonesia, kalau Anda ingin mempercepat urusan, Anda rela mengeluarkan beberapa uang demi kelancaran dan kecepatan urusan tersebut. Dari mulai dalam lingkup pemerintahan maupun swasta. Beda Amerika beda Indonesia.

Jika Anda ingin mempersingkat pembuatan sejenis Kartu Keluarga dengan memberi suapan terhadap pegawai pemerintahan setempat melalui Kantor Pos, suapan yang Anda kirimkan tadi akan dikembalikan dan Anda segera mendapat khotbah secara live dari pegawai pemerintahan setempat tepat di ruang tamu Anda. Di sana Anda akan merasa malu jika tidak menggunakan budaya ngempetNgempet untuk tidak menyuap.

Bukan maksud untuk membanding-bandingkan, tapi saya melihat beberapa Negara Eropa yang liberal lebih memakai budaya ngempet di segala bidang. Jarang toh kita dengar berita kemiskinan seperti di sana? Mengapa? Karena mereka ngempet untuk tidak KKN. Di mana tujuan utama ketika mereka menjabat sebagai pegawai pemerintahan adalah untuk melayani, mengayomi dan mensejahterakan rakyatnya.

Pernahkah Anda mengobrol dengan kakek atau nenek Anda? Jika Anda merasa bosan karena mereka secara berulang-ulang membicarakan hal dan ucapan yang sama, maka cobalah untuk ngempet. Berbeda jika Anda menggunakan metode ngempet terhadap mereka.

Anda akan terlihat lebih mulia jika Anda rela, ikhlas dan ngempet untuk mendengarkan dan membicarakan hal yang sama dari mereka secara berulang-ulang dan berjam-jam karena Anda tahu, ketika di usia senja nanti Anda mendambakan seseorang yang rela mendengarkan celoteh Anda selama berjam-jam sambil menunggu kapan Anda berhenti menjadi tua.

Sadar atau tidak, sebenarnya setiap manusia dibekali sebuah roso untuk meng-implementasi-kan ngempet. Misal, jika di meja makan ada sebuah hidangan berupa rendang, ayam bakar, sayur sop, sate, kentang balado, apel, nanas, pisang, opor, ketoprak, tempe, tahu, telor balado dsb.

Physically, tangan kita tidak mungkin mengambil semua hidangan dan menjadikan satu dalam piring kita karena nafsu belaka. Karena alam bawah sadar kita telah sadar juga terhadap metode ngempet. Karena ngempet kita sadar bahwa perut tidak mungkin menampung semua hidangan.

Karena ngempet juga kita menjadi sadar bahwa banyak orang yang lebih ngempet terhadap makanan daripada kita. Bukan ngempet karena kekenyangan, tapi karena mereka tak mampu membeli satu liter beras untuk mencukupi isi perut dalam sehari-hari karena keterbatasan ekonomi.

Tapi ada juga manusia yang menerapkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai asas, juga sebagai ideologi dalam menyantap makanan. Semua hidangan ditata, dihias, dihamparkan sedemikian rupa hingga membentuk bukit Tursina dengan silaturahmi sebagai perekat antara makanan satu dengan makanan lainnya dan mem-Bhinneka Tunggal Ika-kan dalam sebuah luasnya samudera nafsu bernama piring.

Saya tidak tahu pasti apa mungkin terdapat segerombolan fakir miskin dalam perutnya atau tekstur dan kelenturan lambungnya melebihi batas normal. Entahlah. Justru yang lebih menakutkan ketika dia menjadi pemimpin jutaan manusia kemudian menggunakan semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam menyantap makanannya tersebut untuk digunakan dalam kepemimpinannya.

Kita beralih ke ruang lingkup mainstream. Cinta. Pria berhasrat ingin memiliki setiap wanita yang menurutnya pantas untuk dinikahi. Tapi karena dalam menjalin sebuah hubungan cinta, setiap pria mengenal dan memahami kata 'setia'. Karena kata itulah yang menjadi senjata utama pria untuk ngempet untuk tidak melakukan selingkuh ataupun poligami. (ingat! ini berlaku hanya untuk mereka yang mengenal dan memahami kata 'setia').

Sebab, jangankan untuk diselingkuh atau dipoligami, wanita dibentak saja sudah menderita hatinya.

Bener toh, ladies? Juga dalam berpakaian. Jika Anda tidak ngempet dalam berpakaian, Anda akan memakai semua baju Anda dan saya pun yakin Anda adalah orang gila. Sepakbola. Jika Anda melanggar ngempet, sudah jelas Anda akan mengalami offside, out ball, kartu kuning, dan kartu merah.

Lebih ekstrem jika Tuhan tidak ngempet terhadap pertumbuhan gigi dan alis-alis para wanita setelah reformasi. Mereka akan lebih lama untuk memodifikasi karena alis mereka tidak ngempet untuk tumbuh. Lalu mereka telat berangkat kerja kemudian ujung dari ketidakmampuan untuk ngempet adalah lahirnya produk kejahatan dan keburukan sehingga hancurnya perekonomian sebuah negara hanya karena kepanjangan alis.

***

Dalam bahasa agama terdapat puasa atau bahasa gaul sosialnya adalah ngempet. Budaya dan metode tersebut telah mencakup seluruh aspek kehidupan. Dari cara berpakaian, makan, melihat, mendengar, berbicara, tumbuh, ibadah, politik, cinta, dsb.

Bagi masyarakat mainstream yang beragama Islam, dalam setahun mereka hanya merayakan dan menggunakan metode budaya ngempet hanya dalam kurun waktu sebulan, kemudian mereka meyakini bahwa Idul Fitri adalah puncaknya.

Tapi bagi masyarakat yang pemaknaan dan pemahamannya terhadap puasa lebih luas, mereka tidak hanya menggunakan metode dan budaya puasa atau ngempet dalam sebulan saja, tapi mereka paham bahwa 11 bulan adalah cara mereka menghormati, memaknai dan memahami bahwa ngempet bukan hanya sebagai metode dan budaya, tapi juga sebagai ouput mereka berpuasa selama sebulan.

Dan puncak dari puasa atau ngempet adalah rasa syukur Anda terhadap apa pun yang terjadi dan rasa terima kasih Anda terhadap Tuhan yang berikan kepada Anda. Cobalah, mungkin sulit, tapi dengan puasa atau ngempet Anda akan memahami hakikat Anda sebagai manusia.

“Bagi saya, ngempet sudah menjadi budaya, metode dan merupakan substansi dari kehidupan. Bagaimana tidak, banyak manusia yang tidak bisa melakukan sebuah kesederhanaan dalam ngempet, sehingga beberapa dari mereka terperosok dalam jurang kenikmatan sementara dan keduniawian semata.”