Penulis
1 tahun lalu · 93 view · 5 menit baca · Agama 75180_43613.jpg
http://www.atribecalledwoman.com/authentic-love-need/

Hakikat Agama Cinta Kasih yang Terlupa

Intoleransi dan Ekstremisme Berakar Ego

Sungguh ekstremisme dan intoleransi beragama sudah lama ada. Berulang-ulang kali terjadi sejak dulu, bahkan sejak zaman lampau. Telah bermula sejak pertama manusia mengenal keyakinan dan agama.

Sebagai contoh, pada awal mula Islam, Nabi Muhammad mengalami intoleransi bahkan ekstremisme. Bukan sekedar didiskriminasi namun hingga diusir dan diupayakan untuk dibunuh. Pada sejarah Kristen disebutkan Yesus mengalami hal serupa, ia berakhir dengan disalib.

Betapa agama-agama tersebut bermula dari perjuangan melawan intoleransi dan ekstremisme. Hingga akhirnya berbuah hasil, agama/keyakinan itu menjadi besar, dengan pengikut yang bertumbuh menjadi massa yang setia turun temurun.

Namun,setelah agama itu menjadi besar, apakah kemudian introleransi dan ekstremisme tersebut akhirnya ikut berakhir? Sayangnya tidak. Ekstremisme dan intoleransi tetap belum berujung. Bahkan ia berubah menjadi sesuatu yang berbalik arah, bahwa agama/keyakinan itulah yang kemudian menjadi alasan dibalik semua sikap ekstremisme dan intoleransi.

Jika dilihat-lihat memang di Indonesia masih terbilang lebih sedikit terjadi ekstremisme dan intoleransi beragama. Betapa kita layak bersyukur keadaan di negara ini masih lebih baik dibanding negara-negara lain yang mengalami konflik berkepanjangan karena perbedaan agama/keyakinan.

Lihatlah diskriminasi yang dialami umat Muslim di Amerika pasca insiden 11 September. Memang semakin lama jumlahnya makin sedikit. Namun masih ada mereka yang mengalami tekanan psikologi karena diskriminasi di negara minoritas Muslim itu.

Betapa pula kita marah melihat suku Rohingya teraniaya, terbunuh dan terusir di negara mayoritas Budha, Myanmar. Konflik yang terjadi menahun lamanya. Sampai saat ini belum kunjung usai.

Kita juga terlalu pilu melihat para umat non Muslim terbunuh pada serangan bom-bom bunuh diri  yang mengatasnamakan Islam. Sungguh bencana yang terjadi tak terhitung jumlahnya pada bertahun-tahun lamanya.  

Tak perlu lebih banyak dipaparkan contoh. Sungguh telah sama-sama kita ketahui bahwa terlalu banyak ekstremisme dan intoleransi beragama terjadi di seluruh dunia. Ada yang berupa kejadian besar, sesuatu yang tetap terjadi menahun dan turun temurun. Hingga ada yang berupa sesuatu yang terjadi dalam keseharian tanpa diumbar menjadi kabar berita.

Beruntung kita, bahwa Indonesia masih jauh lebih minim bencana karena ekstremisme dan intoleransi beragama. Tapi sedikit bukan berarti tak ada. Kita sedih saat di negeri ini hal tersebut masih juga terjadi, saat sebuah gereja diserang, saat seorang pendeta dibunuh, saat kiai dianiaya, saat ada pengeboman tempat-tempat umum, saat seorang penganut keyakinan/agama didiskriminasi penganut agama lain. Betapa kita miris, marah dan geram menerima kenyataan bahwa semua tindakan itu mengatasnamakan agama sebagai alasan.

Ibarat api, intoleransi dan ekstremisme tetaplah api. Walau kecil, ia akan tetap membakar, merusak dan merugikan. Ekstremisme dan intoleransi yang acap terjadi lama kelamaan akan dianggap sebagai sesuatu yang biasa terjadi. Saat telah dianggap biasa terjadi, maka ia akan semakin sering terjadi. Jika terus ia dipupuk maka akan berkembang pula ia menjadi suatu sesuatu yang besar, bencana beruntun.

Belum lagi semakin banyak bensin yang menyiram api itu. Bahkan ada tokoh-tokoh agama yang memupuk kebencian pada umatnya untuk membenci penganut agama lain. Sehingga tersulutlah, merambatlah api itu dari mulut ke mulut, menyebar pula melalui sosial media. Api kebencian itu merambat luas, lalu berkembang menjadi benih-benih perbuatan ekstremisme dan intoleransi.

Sungguh, betapa eksremisme dan intoleransi itu jauh dari cinta dan kasih sayang. Bukankah sebenarnya semua agama mengajarkan tentang cinta dan kasih sayang? Lalu mengapa ia berbalik menjadi alasan untuk lupa akan cinta dan kasih sayang pula?

Kita mungkin juga sering terlupa, apakah hakikat paling dasar untuk sebuah agama? Tak perlulah kita mengkaji terlalu dalam. Cukup sederhana saja: bahwa agama menuntun semua manusia untuk menjadi pribadi yang berbudi baik, gemar melakukan kebaikan, tentu saja dengan cinta dan kasih sayang.

Sampai sekarang bukankah tak ada yang mengajarkan sebaliknya? Adakah agama yang mengajarkan penganutnya untuk berbuat jahat? Tidak ada. Semua agama adalah kebaikan. Semua agama adalah cinta dan kasih sayang.

Pada Islam ia muncul di urutan nomor satu dalam rangkaian 99 nama Allah. Pada Nasrani, terang-terangan disebutkan bahwa Tuhan adalah cinta kasih. Pada Budha, disebutkan dalam membentuk batin luruh (Brahma Vihara), umat Budha menempatkan Matta-Karuna (cinta kasih-welas asih) dalam  urutan pertama. Pada Hindu, bernama tattavamasi (semua mau bahagia, tidak ada yang mau menderita. Untuk itu, banyak menyayangi, janganlah pernah menyakiti.

Lalu jika pada semua agama/keyakinan menekankan perihal pentingnya kasih sayang dan cinta, mengapa masih berkobar kebencian yang kemudian mewujud begitu banyak sikap ekstremisme dan intoleransi dalam beragama?

Seorang filsuf Jerman, Nietzsche berkata bahwa manusia terlahir dengan sifat paling purba, yakni keinginan untuk berkuasa. Hal itu berlaku untuk semua manusia, apapun kondisinya dan seberapa pun umurnya. Nietzsche mengatakan bahwa bahkan anak kecil  mewujudkan keinginan berkuasanya dengan menangis. Anak kecil yang menangis itu akan merasa keinginannya untuk berkuasa terpenuhi saat para orang dewasa terganggu dengan tangisan dan rengekan mereka.

Nietzsche mencontohkan pula bahwa para pengemis juga kadang berhasil memuaskan keinginan berkuasa mereka. Caranya dengan menjajah para orang kaya dengan rasa iba dan simpati. Mereka merasa berhasil berkuasa jika telah membuat orang lain tak nyaman karena merasa iba dan kasihan.

Sifat paling purba, keinginan berkuasa manusia itu berakar pada ego. Ego yang menjadi-jadi membuat manusia ingin berkuasa atas semua hal. Termasuk dalam beragama dan berkeyakinan.

Ego membuat manusia ingin berkuasa atas manusia lain, berpantang pada perbedaan, berkeinginan diikuti dan diakui sebagai yang paling benar, paling hebat. Bahkan paling beragama dan paling beriman.

Ego berapi kecil akan mewujud pada hal keseharian. Serupa muslimah yang memandang rendah muslimah yang tak berhijab dengan pandangan sinis. Begitu pula muslimah berhijab besar memandang sinis pada muslimah berhijab kecil. Lalu muslimah bercadar memandang rendah muslimah yang tak bercadar.

Serupa umat Yesus yang menilai iman sesamanya berdasarkan seberapa acap ia datang kegereja. Berdasarkan pula pada seberapa banyak simbol salib yang terlihat ia kenakan atau bawa padanya dalam keseharian.

Begitulah ego berapi kecil telah membuat kita untuk tak hanya melakukan sikap sinis,memvonis dan berlaku kasar.

Ego itu akan sangat memungkinkan berkembang menjadi ego yang lebih berapi besar, menjadi sesuatu yang membakar, merusak dengan berbagai tindakan intoleransi atau bahkan ekstremisme. Maka terjadilah penyerangan tempat ibadah, pembunuhan, pembantaian, peperangan. Sungguh, betapa terkadang kita lupa, bahwa saat itu bukanlah Tuhan yang kita sembah. Bahwa justru ego kitalah yang kita sembah dalam beragama. 

Begitulah ego telah mengalahkan kita, menaklukkan kita untuk berkali-kali lupa mengimplementasikan sebenar-benar hakikat beragama, yakni memperbaiki budi pekerti, menyempurnakan akhlak, merangkul dengan cinta dan kasih sayang, menyebarkan kedamaian.  

Berapa banyak kita menghabiskan energi dan waktu demi menegakkan ego dan keinginan berkuasa? Berapa banyak kita menghabiskannya untuk memvonis, menilai dan membenci orang lain? Berapa banyak kita menghabiskannya untuk berperilaku intoleran dan bersikap ekstrim?

Apakah sudah cukup banyak  kita menghabiskannya untuk memperbaiki diri? Demi memperlihatkan betapa nilai-nilai ilahi agama/keyakinan itu telah terpancar pada masing-masing kita? Demi diri yang lebih baik? Demi kehidupan diri kita lebih baik? Demi lingkungan yang lebih baik? Demi negara yang lebih baik?

Jika sebenar-benar kita beragama dan berTuhan, bukankah otomatis negara ini akan menjadi negara yang damai tak peduli berapa banyak perbedaan keyakinan/agama di dalamnya? Karena semua agama mengajarkan hal yang sama : kebaikan budi, kasih sayang dan cinta.

Sekali lagi, semua agama mengajarkan kasih sayang dan cinta. Pada Islam ia muncul diurutan nomor satu dalam rangkaian 99 nama Allah. Pada Nasrani, terang-terangan disebutkan bahwa Tuhan adalah cinta kasih.

Pada Budha, disebutkan dalam membentuk batin luruh (Brahma Vihara), umat Budha menempatkan Matta-Karuna (cinta kasih-welas asih) dalam  urutan pertama. Pada Hindu, bernama tattavamasi (semua mau bahagia, tidak ada yang mau menderita.

Dengan begitu maka memang benar adanya bahwa intoleransi dan ekstremisme sama sekali tidak layak mendapatkan ruang sekecil apapun, sesedikit apapun.

Artikel Terkait