Pelecehan seksual memang tak pernah memandang gender seseorang. Tetapi sayangnya, hal ini merupakan sesuatu yang tabu di pandangan masyarakat Indonesia. Suara lantang pembelaan di luar sana bahkan terkadang hanya memihak pada satu jenis gender saja. Banyak dari masyarakat yang tidak menyadari bahwa perempuan ataupun laki-laki dapat menjadi korban. 

Jika diperhatikan lebih lanjut, kini sangat marak kejadian demi kejadian yang mengungkap keberingasan tak peduli kesetaraan gender. Kadang kala juga terdapat suatu kelompok yang mendukung feminisme tapi menolak jauh-jauh edukasi mengenai toxic masculinity. 

Di sisi lain, ada kelompok yang memberikan supportnya penuh untuk membela pelecehan pada kaum laki-laki tapi terlalu menyalahkan prinsip feminisme yang diperjuangkan oleh banyak orang. Sepertinya pemandangan seperti ini adalah pemandangan budaya yang mengakar di negeri kita tercinta.

Perilaku menyayat hati mengenai penyimpangan terhadap kesetaraan gender ini tidak lain dan tidak bukan dilakukan oleh oknum-oknum yang terlalu ingin hak mereka dipenuhi. Akan tetapi, mereka menggoreskan catatan hitam tidak memenuhi hak orang lain, termasuk dari pemilik gender lain.

Yang lebih mengerikan, saat ini pelecehan seksual tidak hanya terjadi di tempat-tempat umum saja, melainkan juga tempat-tempat dimana seharusnya seseorang selain merasakan nyaman juga merasa aman. Pelecehan membuat rasa aman hilang dan menimbulkan ketakutan hingga trauma mendalam bagi banyak orang. 

Beberapa alasan seseorang untuk melakukan pelecehan juga terkadang tidak masuk akal. Sebatas pakaian yang membuat korban terlihat lebih wah dari yang lain di sisi pelaku dijadikan alasan, make up yang dikenakan dijadikan alasan, bentuk tubuh yang terlalu jauh lebih atau jauh kurang dari ekspektasi juga bahkan dijadikan alasan. Tidak ada yang tidak dapat dijadikan alasan oleh para oknum pelaku yang terlalu ingin memenuhi nafsu dan emosi mereka.

Beberapa bentuk pelecehan yang sering terjadi pada perempuan dan laki-laki. Diantaranya adalah siulan, komentar yang menjurus pada arah seksisme, komentar mengenai kondisi tubuh, lirikan mata yang dimain-mainkan, menyentuh anggota tubuh orang lain, dan lelucon yang tidak lucu mengenai pandangan rendah terhadap gender lawan. 

Bentuk-bentuk pelecehan tersebut nyata terjadi pada kedua gender, bukan salah satunya saja. Bahkan terlampau sering terjadi di sekitar kita. 

Kemaskulinan laki-laki merupakan hal yang cukup sering diolok-olok oleh oknum yang tidak paham maknanya. Kaum adam dipaksa untuk bergaya dan bertindak layaknya mereka mempunyai jiwa yang sangat kokoh. Padahal mereka pun memiliki hak untuk mengekspresikan siapa mereka sebenarnya. 

Mereka berhak untuk menunjukkan jati diri serta perasaan mereka pada dunia. Mereka butuh dihargai untuk segala yang melekat pada diri mereka.

Semua laki-laki tentu tidak memiliki sifat yang sama. Mereka akan berbeda satu sama lainnya. Sifat ini tidak dapat mereka pilih, tapi mereka selalu mengharapkan sebuah penghargaan akan sifat mereka. Sebab perbedaan sifat mereka bukanlah suatu kesalahan pribadi yang dapat dijadikan alasan untuk meremehkan atau melecehkan mereka.

Laki-laki boleh menangis, laki-laki boleh bersikap lembut, dan laki-laki juga boleh memakai pakaian dengan warna apa saja sekalipun itu merupakan warna terang. Mereka tidak dapat dikatakan lemah hanya karena mereka menangis, hanya karena istri mereka ikut bekerja mencari nafkah, hanya karena mereka tak dapat dominan dalam hubungan dengan wanita, dan hanya karena gerak-gerik mereka terlihat agak feminim. 

Sedangkan pada perempuan, biasanya pelecehan terhadap mereka dibungkus dengan sebab kodrat, pakaian, dan standar kecantikan. Perempuan mendapat bentuk pelecehan tidak secara langsung di khalayak umum saja, tetapi juga di jejaring sosial. Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh L'Oreal Paris melalui IPSOS Indonesia, 1 dari 3 perempuan di Indonesia mengalami pelecehan seksual di ruang publik selama pandemi.

Anggapan mengenai kodrat juga menghantui perempuan dalam upaya meraih impian dan cita-cita. Tak jarang impian wanita harus pupus karena dibatasi oleh lingkungan sekitar mereka. Padahal apabila menyinggung soal pendidikan, jika diteliti dari sumber apapun, pendidikan juga merupakan hal yang wajib dituntut oleh perempuan, bukan hanya oleh laki-laki saja. 

Perempuan harus menuntut ilmu sebab sifat dari ilmu yang mereka miliki adalah abadi dan dapat turut mencerdaskan generasi yang mereka lahirkan. Tak ada batas untuk perempuan dalam mengekspresikan siapa diri mereka selagi ekspresi mereka bernilai positif, yang ada hanyalah batas untuk seseorang mengomentari dan ikut campur terkait ekspresi perempuan tersebut.

Jangan pernah labeli diri kita sebagai manusia terlalu superior yang seringkali menuntut hak tanpa memperdulikan hak milik orang lain. Perilaku pelecehan dapat menimbulkan bullying, trauma psikologis, kekerasan, ketakutan, gangguan kesehatan, perasaan tidak aman dan nyaman, bahkan menimbulkan rasa ingin bunuh diri pada beberapa orang. Jangan takut untuk menggagalkan perbuatan pelaku, laporkan, dan tegur langsung para oknum tersebut. Tenangkan korban dan sharing pada orang lain agar dapat membantu. 

Hak akan tetap menjadi sebuah hak, tidak dapat dipisahkan dari manusia dan harus dipenuhi dengan memperhatikan kewajiban yang juga dimiliki. Rasa aman juga berhak didapat oleh laki-laki dan perempuan, bentuk perlindungan untuk keduanya harus didukung serta dijalankan oleh semua pihak tanpa terkecuali.