1 tahun lalu · 823 view · 4 min baca menit baca · Lingkungan 29124Konflik.jpeg.jpg
pexels.com/photo/

Hak Asasi Manusia, Lingkungan, dan Etnis Rohingya

Kita tidak akan bisa berbicara soal hak lingkungan selama hak asasi manusia saja masih belum disuarakan. Kita tidak akan pernah bisa berbicara soal ruang hidup flora dan fauna jika sesama manusia saja masih tidak mendapatkan ruang di muka bumi.

Sebagai pemerhati lingkungan, saya pada akhirnya harus berbicara dahulu masalah kemanusiaan dan menawarkan solusi kemanusiaan tersebut dari sudut pandang lingkungan hidup.

Konflik Rohingya di era kesadaran dunia tentang pemanasan global agaknya seperti mundur ke belakang beberapa puluh bahkan ratus tahun. Masyarakat dunia yang saat ini sudah berbicara perlindungan flora dan fauna dari pemburuan liar rupanya masih juga menghadapi permasalahan pemburuan dan pembunuhan manusia oleh sesama manusia.

Terlebih isu tersebut dikaburkan oleh kepentingan politik dan golongan, terlalu lama usaha melihat isu secara jernih, mengklasifikasi, sampai kita lupa bahwa selama kita sibuk melakukan itu, nyawa penduduk Rohingya terus melayang.

Komunitas Rohingya di Jakarta, pada 14 September 2017 menerbitkan sebuah edaran berjudul “Systematic Genocide”. Sementara itu, Jejaring Hak Asasi Manusia Burma (Burma Human Rights Network) juga mengeluarkan laporan berjudul “Persecution of Muslims in Burma”.

Terhadap isi dua literatur tersebut kita bisa berdebat apakah pemusnahan ras atau genosida memang terjadi atau hanya bahasa hiperbola, apakah yang terjadi terhadap orang Rohingya ini masuk syarat dan kategori genosida? Apakah hanya terjadi pada yang beragama muslim saja? Saya pikir ini sederhana saja, tidak boleh ada pembunuhan atas sesama manusia, titik! Karena itu hanya satu kata, lawan!

Dalam lingkungan hidup, kita mengenal kata keanekaragaman. Contoh penggunaannya, misalnya, keanekaragaman hayati. Sedangkan dalam berbangsa dan bernegara, kita mengenal kata keberagaman. Kedua kata ini merujuk pada hal yang sama yang menunjukan majemuk, bermacam macam, yang adalah sifat semesta.

Jika Anda memandang segala sesuatu, maka Anda akan menemukan kesamaan adalah hal yang semu karena sesuatu yang identik tidak pernah ada, kesamaan dalam arti yang mana pun selalu mengandung di dalamnya perbedaan.

Perbedaan dalam sudut pandang lingkungan hidup selalu dilindungi, dilestarikan. Berlawanan dengan itu, sejarah dunia membuktikan pada kita bahwa manusia sering kali memiliki intensi untuk meniadakan mereka yang berbeda.

Di sinilah kita berhadapan dengan genosida dan persoalan hak asasi manusia (HAM), HAM adalah sebuah konsep bahwa setiap manusia memiliki hak untuk hidup. Karena itu, setiap manusia harus memiliki ruang dalam masyarakat. Masyarakat semacam ini disebut masyarakat inklusi, kota yang memberi ruang pada semua orang disebut kota inklusi.

Masalah yang terjadi pada etnis Rohingya adalah masalah masyarakat eksklusi, etnis Rohingnya di eksklusi oleh negaranya. Etnis Rohingya ini mengalami eksklusi spasial, yaitu dibatasi ruang geraknya secara spasial, terdapat larangan masuk bagi entis Rohingya ini 21 wilayah di negaranya sendiri.

Tidak terbatas pada itu, etnis Rohingya juga mengalami eksklusi sosial, yaitu diskriminasi bagi mereka sebagai warganegara. Mereka memiliki kartu identitas kewarganegaraan yang berbeda dari etnis lain di negaranya.

Kita lagi lagi bisa berdebat soal mengapa etnis Rohingnya diperlakukan berbeda, apa benar hanya karena agama mereka minoritas di negara itu? Atau ada hal lain? Tapi, bagi saya, masyarakat eksklusi adalah masyarakat yang jahat dan menentang sifat semesta yang beragam.

Berkaca dari lingkungan hidup, kita bisa melihat hutan sebagai rumah dari berbagai jenis spesies flora dan fauna. Boleh saya bilang, suatu ekosistem selalu bersifat inklusi. Meski begitu, manusia menyederhanakan hutan menjadi hukum rimba, yang kuat akan menang; yang lemah akan kalah.

Hukum ini tidak salah. Memang di rimba ada yang kalah tapi tidak pernah punah. Rimba tidak pernah mengeksklusi spesies tertentu, walaupun ada tanaman yang mengambil keuntungan dari tanaman lain, kita sebut mereka parasit, tapi parasit tidak diburu habis oleh spesies lain sampai punah, bukan begitu alam berkerja.

Setiap spesies di alam menghadapi tantangan berupa cuaca ekstrim, namun itu bukan dalam intensi untuk memusnahkan, tapi untuk berevolusi menjadi lebih baik, dan spesies lain sadar maupun tidak membantu proses ini.

Kehidupan dalam bentuk spesies yang beragam saling membantu satu sama lain lewat rantai makanan, lewat piramida makanan. Sifat altruis, berkorban demi sesuatu yang lebih besar dimiliki oleh mereka yang merelakan dirinya menjadi makanan yang lain. Energi yang tersalur tidak pernah sia sia, tidak ada energi yang terbuang.

Memang pada akhirnya ada saja spesies yang gagal menggunakan kesempatan yang diberikan oleh kehidupan untuk berevolusi, dan punah karena tekanan lingkungan seperti bencana alam, misalnya. Namun, tidak pernah karena kepunahan diakibatkan oleh kebiadaban dan kekuasaan haus darah dari flora atau fauna lain.

Membaca laporan angka korban jiwa Rohingya, saya pesimis bahwa dunia siap untuk memperjuangkan hak hidup flora dan fauna langka yang nyaris punah karena perburuan, di saat etnis manusia saja masih dibunuh dan mungkin terancam punah.

Mendengar aliran pengungsi yang ditolak, kapal-kapal yang terapung di lautan berisi etnis Rohingya yang tidak diberi ruang hidup di negara tetangga, saya yakin tidak akan ada juga ruang untuk flora dan fauna yang tak indah, yang tidak dibutuhkan manusia.

Melihat bagaimana tragedi Rohingya digunakan sekelompok pihak di tanah air untuk perebutan kekuasaan, saya sedih, sudah jelas kemanusiaan tidak memiliki ruang di hati dan pikiran mereka, hanya kekuasaan semata isinya. Lalu, di manakah tempat bagi wawasan lingkungan hidup?

Sebagai pemerhati lingkungan, satu yang dianggap penting bagi masyarakat dunia saat ini adalah pola pikir inklusi. Perbedaan tidak pernah menjadi penghambat. Memang menjadi masyarakat inklusi mungkin menjadikan kita lambat, namun kita akan kuat.

Ibarat berjalan dalam suatu kelompok, kita akan lambat karena semua menyesuaikan kecepatan jalan dengan yang paling lambat agar tidak ada yang tertinggal, namun karena bersama mereka kuat, dalam perbedaan mereka saling melengkapi. Menurut hemat saya, inilah toleransi, yang baru saja dipelajari manusia namun sudah lama dipraktikkan alam semesta.

Toleransi adalah kemampuan berbagi ruang kehidupan, berbagi kesempatan bertumbuh, berevolusi, bersama sama. Tanpa toleransi, alam semesta tidak akan memiliki keanekaragaman hayati. Begitu pula tanpa toleransi, suatu bangsa hanya akan berakhir dengan konflik antar etnis, agama atau golongan kekuasaan.

Toleransi adalah kebijakan semesta yang merasuk ke dalam hati dan pikiran manusia, memberi ruang pada perbedaan, menghormati kehidupan sebagai apa adanya. Toleransi menjamin dunia menjadi rumah bagi semua.

Artikel Terkait