Hari ini kuputuskan untuk agenda bersih-bersih kamar saja. Menata ulang sepatu pada tempatnya kembali. Maklum, kebiasaan meletakkan begitu saja setelah memakai agaknya membuat pandangan terganggu juga.

Lalalala. Awalnya aku bersenandung kecil sambil menatanya. Entah mengapa, senandung beriringan dengan melakukan pekerjaan rumah rasanya nikmat sekali. Sampai pada perasaan miris dan hati teriris-iris.

Ada yang tahu kenapa?

Ya, hanya dengan melihat sepatuku sendiri, hatiku bisa sebegitu terluka (apalagi melihat gebetan dengan pacar barunya). Mereka seolah menertawakanku sambil berujar, "Sepatu saja berpasangan, masa kamu sendiri terus?"

Oh, tidak! Sepatuku teramat kurang ajar padaku. Aku merasa ini konyol sekali. Bagaimana bisa benda mati mengejek "benda hidup"? Sungguh, lelucon yang nyata adanya.

Tapi, ya benar juga. Mereka saja berpasangan, masa aku sendiri saja? Pertanyaan dalam hati akhirnya menuntut jawaban yang entah apa itu. Mau bertanya 'di mana jodohku', bingung mau bertanya kepada siapa. Kalau kepada Tuhan berupa doa dan harapan, bukan pertanyaan.

Masa aku bertanya balik kepada sepatuku? Lah, bisa-bisa aku hilang kewarasan sejadi-jadinya.

Tidak sampai selesai, sepatu-sepatu itu kutinggal rebahan begitu saja. Aku ngambek. Begitulah, cerita yang penuh kesendirian. Sepatu saja dijadikan sasaran ngambek. Ada-ada saja aku ini.

Dalam rebahan, aku hanya ditemani bantal-bantal lucu dan gawaiku. Mereka adalah sahabat setia dan saksi bisu tangis dan tawa dalam menanti orang yang tepat. Bosan rasanya dengan orang yang datang lalu pergi lagi.

Terketiklah di mesin pencari Google, tentang apa saja yang berkaitan dengan 'jodoh'. Berbagai asumsi dan opini tersaji. Ada yang menuliskan, "Sesuatu yang memang untukmu tidak akan menjadi milik orang lain"; "Jodoh tidak akan tertukar"; dan masih banyak lagi motivasi dan kata mutiara lainnya.

Aku bukan orang yang haus motivasi. Bahkan aku bisa memotivasi diriku sendiri. Tapi, saat ini aku benar-benar merasa asing dan kehilangan 'aku'.

Hai jodoh, apa kabar?

Biasanya, aku kebal dari hal-hal konyol seperti ini. Aku datang ke undangan pernikahan seorang diri pun baik-baik saja. Masih haha-hihi; baik di sana dan sepulangnya. Tidak repot memikirkan jodohku di mana.

Lah, ini terlewat konyol. Hanya perihal menata sepatu saja langsung terkapar dalam kesedihan nan memilukan.

Benar saja, kita adalah manusia biasa yang tidak bisa menduga sedetik kemudian akan seperti apa. Yang dikira hujan bisa saja panas; yang dikira cerah ternyata tiba-tiba hujan.

Bisa jadi, jodoh yang kukira jauuuh bisa saja tiba-tiba mendekat. Atau, yang dekat sebenarnya bukan jodohku. Seharusnya ini wajar-wajar saja. Seharusnya!

"Dasar sepatu sialan!" Umpatku meluapkan kekesalan dalam hati seiring meratapi nasib diri.

Ya, memang banyak yang datang. Tapi, aku tak ada rasa apa-apa. Tak ada rasa yang spesial. Biasa-biasa saja. Meskipun mereka berniat serius. Masa mau dipaksa?

Tidak! Aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku adalah petualang nan tangguh; berjuang mendapatkan apa yang kumau. Ada poin-poin tersendiri untuk akhirnya aku bisa memutuskan mengakhiri kesendirian ini.

Aku yakin sekali mendapatkan jodoh impian. Kenapa? Karena aku mencari yang benar-benar kokoh untukku berlindung dan berjalan seiring nantinya; tidak berat sebelah.

Aku tidak mencari yang sempurna. Yang tampan, kaya raya, dan material lainnya. Tidak! Aku paham, tiada yang sempurna di dunia ini. Pun aku yang penuh kekurangan.

Dan, yang paling penting dia mau sama aku. Kalau aku mau, dia tidak mau; ya sami mawon (sama saja). Yang sama-sama mau dan tidak ada rasa keterpaksaan apa pun.

Itu baru jodoh!

Kalau misalnya sekarang saja melihat mukanya sudah ogah-ogahan, mending jangan lanjut deh. Kenapa? Bukannya main fisik, tapi ini masalah selera pribadi masing-masing. Karena jika kita memutuskan menghabiskan sisa hidup dengan seseorang, tiap hari akan bertemu dia. Dia adalah "hidup" kita.

Kalau aku, tidak harus rupawan. Fisik adalah pemberian Tuhan, tapi aku hanya ingin bersama dengan orang yang dengan memandangnya tidak ada rasa bosan. Ada. Pasti ada!

Miliaran orang di dunia ini, dan aku hanya membutuhkan satu. Pasti dapat. Jika hal-hal sepele saja bisa kita dapatkan, apalagi jodoh yang diatur oleh Pencipta.

Hai, jodohku!

Hari ini aku diingatkan oleh sepatu akan dirimu. Jauh di lubuk hatiku, besar keyakinan rasa ini engkau ada di belahan bumi yang entah di mana itu.

Terkadang aku biasa-biasa saja, tapi ini aku merasa sedih sekali. Di sisi lain ingin cepat berjumpa, di sisi lain ingin berpetualang dulu.

Mungkin, di saat ini kita sama-sama merindukan. Tidak mungkin, orang yang saling menunggu tidak merindukan satu sama lain. Meskipun kau entah seperti apa dan di mana, jodoh tetaplah jodoh.

Aku sering melupakan keberadaanmu dan berpusing ria menduga-duga siapa dirimu. Agaknya aku harus berterima kasih kepada sepatuku yang mengingatkan pada dirimu (jodoh). Bahwa kau benar-benar ada. Dan, semoga kita lekas jumpa dan bersama.