Bulan suci Ramadhan sudah hampir berakhir. Dan karena pandemi, sudah pasti lebaran tahun ini saya tidak akan mudik sama seperti tahun lalu. Padahal jujur, saya kangen betul ingin bertemu ibu saya yang nun jauh di Blitar sana. Ya memang, tiap minggu saya dibantu teknologi bernama video call untuk menghubungi beliau. Tapi kok rasanya tetap ada yang kurang kalau belum bertemu langsung.

Meski sudah punya anak, ternyata saya masih kangen dimanja dan menjadi anak-anak lagi. Bersama ibu rasanya semua jadi mudah. Kapan pun ada masalah, saya berusaha cerita ke ibu dan meminta pendapat beliau. Tapi anehnya, semakin bertambah usia saya (tentunya juga usia ibu), beliau hampir tidak pernah memberikan pendapat yang bertentangan dengan apa yang akan atau bahkan sudah saya lakukan. Semua yang keluar dari mulut beliau adalah dukungan belaka. Dan doa tentu saja! Mungkin beliau berpikir di usia sekarang sudah waktunya saya mengambil semua keputusan sendiri dengan segala risiko yang menyertainya. 

Hal ini tentu berbeda sekali dengan saat saya berumur awal 20-an. Di usia itu sebagai mahasiswa dengan pemikiran yang sok idealis, pendapat saya hampir tidak pernah sama dengan beliau. Nggak tahu kenapa rasanya waktu itu semua pendapat beliau salah di mata saya. Jadi setiap kali bertukar pikiran yang ada ujungnya malah bertengkar. Waktu itu saya berpikir pendapat orang tua itu tidak sepenuhnya cocok dan benar untuk saya. Makanya saya meyakini dan berusaha mempertahankan pendapat saya.  

Saya masih ingat betul pertentangan pendapat pertama waktu itu soal pemilihan jurusan kuliah. Saya rasa ini adalah masalah klasik orang tua dan anak selepas pendidikan menengah atas. Ya memang tidak semua orang tua. Karena ada orang tua yang tidak ambil pusing sana si anak mau mengambil jurusan apa. Saya, karena lemah sekali dalam bidang matematika, berusaha mencari jurusan yang tidak ada unsur matematikanya. Waktu itu pilihan saya adalah Hubungan Internasional (HI), Hukum, Psikologi dan Komunikasi.

Dari awal ibu dengan tegas mengatakan bahwa beliau tidak setuju saya mengambil jurusan Hukum. Katanya menjadi hakim, jaksa atau pengacara itu ‘berat’, banyak dosanya karena tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah dengan jelas. Waktu itu tentu ibu belum kenal dengan netizen yang mati-matian membela seseorang atau sesuatu tanpa tahu benar salahnya. Saya yang masih polos akhirnya setuju-setuju saja, karena saya pikir masih ada tiga jurusan lain yang bisa saya pilih.

Tapi entah kenapa lama-lama saya cenderung memilih komunikasi. Lagi-lagi ibu tidak setuju. Alasannya beliau tidak suka melihat wartawan-wartawan di TV yang mewawancarai narasumber dengan berebutan menyodorkan mikrofonnya. Loh bu, lha masak menyodorkan pisang atau arem-arem ke narasumber? Ada-ada saja memang alasan ibu saya.

Padahal saya tahu persis kalau saya juga emoh menjadi wartawan. Bukan karena alasan yang sama dengan ibu saya ya. Tapi lebih karena saya sadar menjadi wartawan itu berat, butuh stamina tinggi dan harus sangat dinamis sementara saya bukan orang seperti itu. Saya lebih terpikir menjadi seorang Humas di perusahaan. Memang waktu itu karena minimnya pengetahuan dan pergaulan, saya hanya berpatokan pada pekerjaan yang sesuai dengan jurusan saja.

Demi menghalangi keinginan saya untuk memilih jurusan Komunikasi, ibu datang dengan pilihan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Alasannya karena nilai bahasa Inggris saya luamyan bagus dan menjadi guru adalah pekerjaan yang mulia dan menyenangkan. Apakah saya terima? Tentu tidak! Saya tidak mau pekerjaan yang sama dengan ibu. Ibu saya juga seorang guru, meski hanya guru agama Islam di sebuah SD di Kabupaten. Waktu ujian UMPTN/SNMPTN (saya lupa apa nama tepatnya karena terlalu sering ganti) saya memang memilih jurusan pendidikan Bahasa Inggris. Tapi tentu saja sebagai pilihan kedua. Pilihan pertama apalagi kalau bukan jurusan impian saya: Komunikasi.

Perpedaan pendapat kedua adalah kelanjutan setelah saya lulus sarjana. Ibu ingin saya melanjutkan sekolah lagi. Saya diminta mengambil sertifikasi Akta IV. Akta IV ini adalah surat ijin bagi para lulusan sarjana (S1) untuk bisa mengajar. Rupanya menjadikan saya seorang tenaga pendidik masih menjadi obsesi beliau. Lagi-lagi saya tidak mau. Akhirnya ibu menyerah dengan menyodorkan pilihan untuk melanjutkan S2 dengan jurusan terserah saya. Saya yang sudah tidak enak hati tentu menolak. Dengan gaji kecil seorang guru SD menyekolahkan saya hingga sarjana saja pasti berat, apalagi kalau saya melanjutkan hingga S2. Akhirnya saya lebih memilih langsung bekerja.

Berikutnya adalah perdebatan ketiga menjadi yang paling alot. Soal pasangan hidup saya. Ibu bersikeras agar saya mencari jodoh seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Alasannya sederhana: biar saya dapat uang pensiunan suami. Kalau diingat-ingat sekarang saya tertawa dengan alasan ibu ini. Tapi waktu itu wah yang ada saya marah sekali. Apalagi kebetulan orang yang saya pacari dengan serius sama sekali bukan calon PNS. Saya merasa ibu menghalangi kebebasan saya dalam menentukan hidup yang akan saya jalani. Karena masalah ini saya bahkan sempat marah pada ibu lumayan lama hingga akhirnya harus backstreet. Memanglah jatuh cinta itu membuat akal sehat dan mata menjadi buta ya.

Tetapi setelah waktu berselang jauh hingga saya sudah mau usia kepala empat ini, saya pikir-pikir lagi pelan-pelan eh kok ya benar pendapat ibu waktu itu. Soal mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris saya rasa sama sekali tidak ada jeleknya. Mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris kan tidak melulu harus berprofesi menjadi guru. Dan sampai kapan pun Bahasa Inggris ini akan tetap diperlukan. Terbukti di beberapa perusahaan tempat saya pernah bekerja, karyawan yang lancar berbahasa Inggris punya keuntungan sendiri. Lebih menonjol dari yang lain dan bisa membangun networking dengan para atasan yang memang terdiri dari para ekspatriat itu.

Pun demikian jika saya nurut mengambil sertifikasi Akta IV. Mungkin sekarang saya bisa menjadi seorang guru. Apalagi kesempatan beasiswa untuk guru itu terbuka luas sekali. Atau jika seandainya saya mau sekolah S2 Komunikasi, mungkin karir saya akan bisa lebih berkembang daripada saat ini. Waduh, kalau ingat ini saya sedikit menyesal juga. Sekarang dengan kondisi sudah punya anak dan pekerjaan yang tiada henti, keinginan bersekolah lagi terpaksa saya bungkus rapi dalam peti mimpi sementara waktu.

Nah, kalau soal jodoh saya no comment. Setidaknya sampai saat ini saya tetap pada pendirian untuk tidak memilih jodoh berdasarkan pekerjaan apalagi harus seorang PNS. Ya meski tidak bisa dipungkiri, sekarang tingkat kesejahteraan PNS lebih baik daripada sebelum-sebelumnya. 

Untuk masalah ini saya seratus persen mengamini pendapat dan nasihat ibu bahwa perempuan harus bekerja dan menghasilkan. Ibu bekerja akan lebih mandiri dan merasa aman karena tidak tergantung sepenuhnya dengan suami. Bahkan ibu bisa membantu menopang kebutuhan rumah tangga jika dibutuhkan. Bekerja ini tidak selalu dalam konteks berada di kantor atau keluar rumah loh ya. Di masa sekarang yang serba digital ini ibu rumah tangga pun bisa memiliki pendapatan meski hanya dari rumah.

Merunut dari apa yang telah saya alami, saya akhirnya bisa menjawab pertanyaan apakah pendapat ibu saya itu benar atau tidak. Memang tidak ada yang mutlak ya dalam hal ini. Sebagai manusia kadang pendapat orang tua juga dipengaruhi oleh emosi dan ego. Merasa apa yang mereka katakan adalah yang terbaik bagi anak-anaknya. Meski pada kenyataannya tidak semua selalu seperti itu. 

Tapiiii setelah sampai di usia ini saya bisa berpendapat dengan kepala dingin dan hati legowo bahwa tidak ada salahnya jika kita mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh orang tua. Bagaimana pun mereka sudah hidup lebih lama dari kita, anak-anaknya. Pengalamannya tentu tidak bisa kita tandingi dalam semalam. Jadi ya misal ada perbedaan pendapat, mungkin kita bisa menjauh sejenak sambil memikirkannya dengan hati luas dan kepala dingin.