Pada perjalanan matahari menuju peraduannya, hangat sore itu bersalut suara-suara pujian berlanggam merdu penuh pikatan.

Kunikmati saja tanpa peduli artinya. Kubiarkan berseliweran bebas interpretasi rentet prosa-prosa yang penuh simbolik, hiperbolik, metaforik dan personik, tersebut di telinga. 

Toh, ujung-ujungnya bertumpuk-tumpuk tersebut manjadi sebuah simpulan sederhana dan otoriter: Muhibbin (para pecinta).

Pecinta yang sudah tak peduli pada tataran sintaksis dan gramatikal susunan pujian-pujian yang berirama mendayu-dayu itu yang kekinian disebut sebagai hagiografi (manaqib) atau literasi kisah orang-orang suci.

Kemudian kupadukan dengan sebuah literasi super ketat yang berbentuk silabus sebuah matakuliah berbasis teologis koptik ortodoks yang diampu oleh Dr Lisa Agaiby dari perkuliahan dalam jaringan oleh Kampus  St. Athanasius sebagai berikut:

The aim of the unit is to introduce students to the literary genre of hagiography that developed in the 4th century and traces its origins to the Life of Antony attributed to Athanasius of Alexandria. 

In this unit, students will  an appreciation of the interrelationship between hagiographical text, liturgy and iconography in establishing the cult of a saint. 

The unit will follow the developments of the hagiographical genre and the associated cult of the saints, through Late Antiquity and the Middle Ages, by focusing on both monastic accounts and martyrologies, and finally, consider the liturgical implications of hagiography as a means of understanding the role of the saints in the present day.

Gaya khas redaksi sebuah silabus yang penuh dengan tuntutan- tuntutan yang memanjang tanpa jeda. Penuh dengan harapan rumpang-rumpang akademis tentang teks hagiografi (manaqib) "Life of Antony" dari kisah suci seorang santa atau santo Athanasius darI Alexandria.

Pemaknaan hagiografi berdasakan tujuan dan target silabus di atas adalah hagiografi adalah bagian dari genre literasi.

Lebih pusing lagi ketika hagiografi dihubungkan secara interkoneksi dengan liturgi, ikonografi dan martirologi. Hagiografi dalam praktek nyata bukan hanya yang kita kenal sebagai "manaqib" saja.

Manaqib ini bukan literasi eksklusif pada satu golongan saja. Manakib adalah genre literasi yang secara umum mencatat kebaikan dan perbuatan para pribadi suci. 

Penekanannya pada hal ajaib sebagai sumber otoritas orang suci itu, seperti karamah dan barakah. 

Hagiografi dalam manaqib juga sarat dengan  gagasan hierarki kewalian, orang suci hingga nabi.

Gaya literasi pada hagiografi mirip dengan otobiografi dan biografi invidual, namun dikemas dalam format literasi yang menarik.

Keunikan hagiografi  ini pernah dikaji dengan cermat oleh Franz Rosenthal, yang mengatakan bahwa model literasi hagiografi Yunani ini dibawa kepada bangsa Arab lewat Hunain bin Ishaq.

Sudah tentu, kata "hagiografi" berasal dari Bahasa Yunani yang artinya karya literasi yang berupa biografi dengan menguduskan tokohnya. 

Dalam konteks agama Kristen dan terutama Katolik, hagiografi erat hubungannya dengan literasi tentang kehidupan para Santo dan Santa.

Sedang Hagiografi menurut KBBI artinya buku atau tulisan yang memuat riwayat hidup dan legenda orang-orang suci, atau dengan kata lain Hagiografi adalah riwayat hidup orang-orang suci.

Pengertian hagiografi dalam bahasa Arab disebut dengan “sirah al-qiddisin” dan lebih umum disebut sebagai "manaqib".

Hagiografi merupakan dalam definisi kerennya sebagai literature form the lives and legends of sains, atau sumber-sumber tulisan yang menceritakan tentang kehidupan dan legenda orang suci.

Dalam pandangan dan pengertian tersebut, maka ia adalah Yunani banget, ketika hagiografi merujuk pada "hagiografis". Hagio artinya mulia, suci, dan grafis artinya tulisan. 

Hagiografi seringkali bersifat hiperbolis (berlebih-lebihan) dan sering bercerita tentang kejadian aneh di luar nalar normal serta tidak atau kurang mengakar dalam kejadian keseharian kita.

Apakah hagiografi merupakan gaya literasi yang "logico empirico?"

Ambil saja bentuk hagiografi dalam format manaqib, pertama bahwa dalam cataan hagiografi terdapat rawi (penyampai /pelapor) dan saksi (orang yang melihat) kejadian dan peristiwa yang diperlihatkan tokoh. 

Tentu saja untuk rawi dan saksi ini agar sampai pada akurasi data yang valid perlu diuji (takhrij) dari personalitas seperti kejujuran dan pengakuan dari hal yang bersifat banyak (mutawatir)

Meski memang mirip dengan telaah hadits, tetapi dalam kajian sejarah tidak terlalu ketat, karena aspek yang diambil dari hagiografi adalah ibrah. 

Tidak seperti hadits yang berimplikasi hukum dan peribadahan yang harus benar-benar otentik dan penuh disiplin otoritas. Sedang manaqib lebih longgar. 

Suprioritas dan personalitas tokoh yang dituliskan dalam hagiografi sebagai pelaku sejarah (agent of history) bisa saja bersifat idiografis dan diakronis.

Sebush konsensus dalam ilmu sejarah yang mengatakan bahwa sejarah bersifat idiografis (menuturkan peristiwa dan kejadian) serta diakronis (memanjang dalam waktu). 

Dalam konteks ini, seorang pelaku sejarah adalah manusia yang berada dalam ruang dan waktu. Atau orang-orang suci tersebut.

Kehidupan manusia (tokoh) inilah yang menjadi sejarah, jika dituliskan secara kronologis dengan berbagai peran dan pribadi  beserta aktivitasnya dalam sebuah idiografis yang disiplin.

Banyak tokoh dalam sejarah Islam yang dituliskan oleh muridnya atau yang menulis sendiri autobiografi (catatan memoir) kemudian menjadi warisan bagi para murid, keluarganya ataupun kelompoknya.

Dalam sejarah Islam, banyak ulama yang kiprah dan sejarah hidupnya dimuat dalam kitab manaqib yang ditulis oleh para muridnya. 

Dalam manaqib tentunya ada peran rawi dan saksi, seperti para sahabat, murid, dan keluarga dari tokoh yang dituliskan dalam manaqib.

Jika ditemukan kitab biografi ditulis sendiri oleh tokohnya maka bisa disebut autobiografi.

Oleh karena itu, untuk menguji otentitas dari karya tersebut, perlu konfirmasikan pada orang-orang terdekat atau yang pernah berhubungan dengan tokoh tersebut. 

Jika benar, maka catatan yang disandarkan pada tokoh tersebut bisa diakui atau dekat sebagai sumber sejarah atau bernafaskan literasi logico empirico.

Dalam hal ini sesuai kaidah ilmiah sejarah, maka perlu kritik internal dan eksternal untuk sampai pada otentisitas peristiwa atau tokoh.

Realitas karamah yang dialami sang tokoh (manusia) perlu dikaji ulang dalam kaitannya dengan fakta individual atau peristiwa yang dirasakan dan dilihat sendiri yang tak melibatkan orang banyak, atau yang ada di luar ruang dan waktu berupa mimpi dan ekstase (hilang kesadaran). 

Karena fenomena tersebut berlaku dalam ranah kajian non empiris, maka dibutuhkan penjelasan dengan menggunakan interpretasi filsafat, tasawuf, psikologi, dan teologi.

Dalam sebuah hagiografi elemen-elemen puisi yang harus dipahami sebagai puisi, tidak boleh sebagai prosa atau bahkan sebagai peristiwa sejarah yang valid dan otentik. 

Prosa atau tuturan kisah-kisah dalam kitab agama yang juga tidak boleh dipahami secara tekstual, literal, sebagai kebenaran yang sejarah yang valid. Harus memperhatikan bahasa-bahasa yang bersifat metaforik, simbolisasi, dari si penulis dan si pembaca.

Begitu pula elemen-elemen kultural, filosofis dan politik yang melatarbelakangi pemunculan kisah-kisah itu. 

Singkatnya, kisah-kisah tersebut bisa jadi tidak memuat laporan sejarah tentang apa yang benar-benar terjadi, melainkan memuat idea-idea si penulis tentang apa yang mereka percaya pernah terjadi, yang kemudian ia coba komunikasikan kepada para pembacanya. 

Gagasan bahwa prinsip-prinsip logika dalam literasi hagiografi mungkin rentan terhadap revisi atas dasar empiris-empiris yang banyak memiliki akar.

Ketika literasi hagiografi dihadapkan bukti empiris (juga data empiris, indra pengalaman, pengetahuan empiris, atau a posteriori), maka hagiografi harus siap  digali sebasgai suatu sumber pengetahuan yang diperoleh dari observasi ataupun rumit eksperimen.

Dalam pandangan empirisis, seseorang periwayat hagiografi hanya dapat mengklaim memiliki pengetahuan saat seseorang memiliki sebuah kepercayaan yang benar berdasarkan bukti empiris tersebut. 

Hal ini bertolak belakang dengan pandangan rasionalisme yang mana akal atau refleksi saja yang dianggap sebagai bukti bagi kebenaran atau kebohongan dari beberapa proposisi.

Kisah-kisah literasi dalam hagiografi bisa jadi dijalin dari dua lapisan, yakni lapisan sejarah, dan lapisan idea. 

Beberapa dari kisah ini bisa jadi diambil dari kejadian nyata yang melibatkan tokoh-tokoh nyata.

Namun, tak menutup kemungkinan kisah itu telah diperkaya dengan idea, iman, harapan si penulis dan kelompoknya.

Atau, bahkan seringkali kisah itu tidak pernah terjadi dalam sejarah, namun lewat kisah itu si penulis menjadikannya sebagai bahan untuk memuliakan tokoh panutannya.

Dalam kasus ini, hagiografi di atas menempati status "Historicizing literature" yang bukanlah sejarah (history) meskipun ia melibatkan tempat, dan tokoh tertentu yang ada pada sejarah.

Tentunya ia  jauh dari bentuk literasi logico empirico dan hanya berbentuk sastra bergenre relijius yang darinya pembaca diharapkan dapat mengambil pesan moral dan keindahan sastranya saja.