Perlu saya amini di hadapan Tuhan, bahwa saya sangat bersyukur atas banyak nikmat yang Allah berikan. Untuk mengatakankan apa saja nikmat itu? Sudah pasti saya tidak akan sanggup menyebutnya satu persatu. Tetapi jika diminta untuk mengatakan salah satu nikmat itu, di tulisan ini saya ungkapkan, nikmat apakah itu.

Hari ini, berulang kali saya bersyukur kepada Tuhan, telah menganugerahi kepada saya seorang abang kandung yang amat penyayang. Seseorang yang pengertian, yang tak pernah sungkan menegur ragam kesalahan yang saya lakukan. Ya. Ini abang saya. Dan perlu saya akui, bahwa dia adalah sosok yang amat penyayang, peduli, dan sangat pengertian.

Selama saya hidup, ada satu pelajaran yang kerap ia tanamkan dalam pikiran saya, bahwa kita sebagai manusia, harus selalu menanamkan kepekaan, dan menumbuhkan rasa emosional yang kuat terhadap lingkungan. Kepekaannya yang kuat dalam bersosialisasi dan kerap menghadirkan empati, menjadikan ia orang yang dibutuhkan di keluarga kami. Dan karena sifatnya yang juga asik dan gemar membantu, tak jarang membuat pergaulannya menjadi luas, dan menjadikan ia sosok pribadi yang disenangi.

Saat dirumah, kami sering kelahi. Walaupun sebenarnya sudah sedari dulu saya menyadari. Bahwa perkelahian kami, semuanya memang dilandasi oleh kesalahan dan kenakalan saya yang usil ini. Saat saya nakal, ia selalu menegur. Dan cara menegurnya cukup keren, ia menegur tanpa terkesan sedang menggurui. Ia sekedar ingin memberi tahu kepada saya, bahwa prilaku dan perbuatan itu tidak baik untuk dilakukan. Tetapi karena saya yang—waktu itu—suka membangkang dan kerap keras kepala, maka jangan heran, jika tangannya senantiasa mendarat di kening saya.

Saya pikir, wajar-wajar aja sih, jika adik-kakak sering berkelahi. Karena akan menjadi perihal yang amat membosankan jika hubungan adik dan kakak selalu adem-ayem, dan tidak menciptakan gerakan perkelahian. Selain—perkelahian—itu bisa menciptakan suasana keramaian, itung-itung juga melatih skill bela diri dan memperkuat sistem kekebalan. Haha.

Tetapi jangan salah. Selain berkelahi, dahulu kami juga pernah menciptakan kerja sama tim dengan baik. 

Suatu hari, kami pergi bersepeda, dengan posisi dia yang mengayuh pedalnya, dan saya dibonceng di depan dengan posisi mereng ke sisi kiri. Nah pada saat itu, kami sedang jalan-jalan, hingga masuklah kami ke dalam sebuah gang. Singkat cerita, di tengah perjalanan, tiba-tiba ada seekor anjing yang menggonggongi kami dari belakang. Awalnya mendengar gonggongan itu kami biasa aja. Tetapi setelah melihat ke belakang, ternyata anjing itu sedang mengejar kami dengan kencang, sambil mengulurkan lidahnya, yang sepertinya sudah lama tidak makan. Oh, sial.

Melihat fenomena itu. Saya sangat panik, sedangkan abang saya? Jangan ditanya. Pastinya lebih panik. Karena pikir saya, ia punya segenggam tanggungan menjaga diri dan adiknya dari bahaya serangan anjing gila yang tengah mencari mangsa. Dan karena kepanikan yang tak terbendung lagi. Seketika itu ia langsung tarik nafas, lalu mengayuh pedal sepeda sekencang-kencangnya. Bayangkan, kawan. Saking kencangnya, saya teringat muka Valentino Rossi di tengah kepanikan itu.

Saya yang posisinya dibonceng di depan, merasakan hembusan nafasnya yang terengah-engah di atas kepala saya. Saya berusaha membantu, dengan menaikkan badan saya agar tidak menjejak di besi sepeda. Tujuannya sih supaya jadi ringan. Ternyata malah buat abang saya jadi kesulitan.

Setelah cukup jauh menyelamatkan diri. Kondisi lajunya sepeda saat itu sudah sangat tidak terkendali. Karena kecepatannya sudah di atas rata-rata, juga banyaknya bebatuan yang terserak di jalanan. Akhirnya berhasil membuat kami terjatuh di tepi aspal gang yang penuh kerikil-kerikil kecil nan tajam-tajam.

Setelah tergeletak dan bergesekan dengan aspal jalan. Tentu kekhawatiran kami berdua otomatis belum terhenti. Karena dalam pikiran kami, ada kejaran dan gigitan anjing yang mesti kami hindari. Nah, pas kami lihat ke belakang, entah gimana ceritanya, ternyata anjingnya sudah balik ke belakang, sembari dipanggil oleh tuannya yang tidak begitu peduli bagaimana keadaan kami. Ah dasar, bisik saya.

Kejadian ini, selalu buat saya ketawa sendiri ketika mengingat fenomena mengerikan ini. Walaupun waktu itu ada banyak luka yang menjejal di sekujur tubuh kami, tetapi hal ini akan menjadi kenangan manis yang pernah kami lalui. Saya tidak jamin apakah abang saya ingat apa tidak dengan kisah ini. Tetapi yang terpenting, setidaknya kisah itu menjadi bukti bahwa sesering apa perkelahian kami terjadi, sejatinya naluri seorang abang terhadap adiknya akan tetap melekat untuk selalu melindungi.

Dan sampai hari ini, ia di mata saya, selamanya akan tetap menjadi sosok yang elegan, dan pribadi yang sangat saya segani. Selain karena ia adalah abang saya, ia juga menjadi sosok yang berperan besar dalam perjalanan hidup saya. Banyak kebaikan, banyak pelajaran yang ia berikan, tentang bagaimana harusnya bersabar, dan mengambil langkah tepat dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Terimakasih abang. Sudah menjadi abang kandung terbaik, yang tak pernah berhenti men-support, menyayangi, dan selalu mengerti akan keadaan yang saya lalui.

Happy birthday my best brother, Hafiz Fauzan Azim ❤️