Pembahasan seputar hadis misoginis mungkin masih terdengar asing di beberapa kalangan, namun tidak bagi para feminis Islam.

Misogini adalah suatu istilah yang diambil dari 2 kata bahasa Yunani, yakni Miso (kebencian) dan Gyne (perempuan) yang kemudian disebut Misogynia. Ada juga yang menyebut istilah misogini berasal dari bahasa Inggris, yakni Misogyny.

Istilah ini berkembang pula dalam sistem kepercayaan sosial politik menjadi Misogynism atau Misoginisme, yakni adicita membenci perempuan. 

Misoginis, menurut Kamus Ilmiah Populer memiliki tiga varian makna: (a) Misoginis bermakna benci kepada perempuan; (b) Misoginis bermakna perasaan benci akan perempuan; dan (c) Misoginis bermakna laki-laki yang membenci perempuan.

Istilah misoginis kemudian dipasangkan dengan hadis Nabi saw. yang sahih dan memunculkan frasa ‘hadis sahih misoginis’.

Disebut demikian karena adanya kesan tekstual hadis yang bias gender. Hal ini dipahami oleh para feminis Islam dengan dipelopori oleh Fatimah Mernissi.

Menurut mereka, hadis sahih bernada misoginis membawa kesan merendahkan, mendiskreditkan atau kurang menghargai derajat perempuan.

Hadis sahih bernada misoginis dipandang tidak mencerminkan ideologi yang diusung para feminis: kesetaraan gender.

Ketidaksetaraan dalam hak-hak sosial, keterbatasan akses dan kesempatan, seakan perempuan mendapat urutan nomor dua setelah lelaki menjadikan para feminis merasa benar karena didukung oleh dalil-dalil tekstual yang mereka pahami, baik ayat Al-Qur'an maupun hadis sahih.

Kesesuaian antara hadis sahih yang dipahami secara tekstual dengan kondisi sosial perempuan inilah yang menghasilkan atau bahkan memperkuat ideologi kesetaraan gender.

Kesenjangan antara ajaran agama dengan penerapan ajaran agama pun sering ditemui. 

Ditinjau dari ajaran agama, hubungan antara laki-laki dan perempuan dinyatakan setara. Namun, pada kenyataannya peran laki-laki justru lebih dominan dibanding perempuan.

“Patriarkis!” kata para feminis. 

Berikut bunyi hadis sahih yang dinilai misoginis berkenaan tentang perempuan menjadi mayoritas penghuni neraka:

خَرَجَ رَسُولُ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الْمُصَلَّى فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ، فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ! تَصَدَّقْنَ فَإِنِّيْ أُرِيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ.

فَقُلْنَ: وَبِمَ يَا رَسُوْلَ اللّهِ؟ 

قَالَ: تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ.

قُلْنَ: وَمَا نُقْصَانُ دِيْنِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُوْلَ اللّهِ؟

قَالَ: أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ؟

قُلْنَ: بَلَى.

قَالَ: فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا، أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَ لَمْ تَصُمْ؟

قُلْنَ بَلَى.

قَالَ: فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِيْنِهَا.

Pada hari raya ‘Idul Adha atau ‘Idul Fitri, Rasulullah saw. keluar dari rumah menuju tempat shalat, beliau melewati para perempuan seraya bersabda:

“Wahai para perempuan! Hendaklah kalian bersedekah, sebab diperlihatkan kepadaku bahwa kalian adalah yang paling banyak menghuni neraka.”

Kami bertanya: “Apa sebabnya wahai Rasulullah?

Beliau pun menjawab: “Kalian banyak melaknat dan mengkufuri pemberian/kebaikan suami. Dan aku tidak pernah melihat (bagian) dari tulang laki-laki yang kurang akal dan lemah agamanya selain kalian.”

Kami bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, apa tanda dari kurangnya akal dan lemahnya agama?”

Beliau mengajukan tanya: “Bukankah persaksian seorang wanita setengah dari persaksian laki-laki?”

Kami jawab: “Benar.” Beliau melanjutkan: “Itulah kekurangan akalnya. Dan bukankah seorang perempuan bila dia sedang menstruasi tidak shalat dan puasa?” 

Kami jawab: “Benar.” Pungkas beliau: “Itulah kekurangan agamanya”. (Sahih al-Bukhari: 293).

Mengacu pada asbab al-wurud hadis ini bahwa Nabi saw. diperlihatkan oleh Allah Swt. kondisi neraka yang kebanyakan penghuninya adalah perempuan karena mereka berani mendebat dan mengkufuri pemberian atau kebaikan suami.

Nabi saw. pun memberi peringatan kepada perempuan Madinah kala itu, bahwa perempuan juga memiliki kekurangan, yakni “kurang akal dan lemah agama”.

Peringatan Nabi saw. ini ditujukan untuk menyadarkan perempuan Madinah, yakni Anshar dan Muhajirin agar tidak lagi suka mendebat dan mengkufuri pemberian atau kebaikan suami mereka.

Adanya keterikatan sosial dan kuantitas perempuan Anshar yang kala itu lebih dominan atas lelaki, menjadikan perempuan Muhajirin gampang terpengaruh budaya perempuan Anshar.

Perempuan Muhajirin sudah mulai berani mendebat bahkan mengkufuri pemberian atau kebaikan suami mereka yang saleh. Padahal Nabi saw. tahu, bukan seperti itu sikap mereka ketika masih di Makkah.

Penyebutan perempuan ‘kurang akal’ disini dikarenakan dalam masalah persaksian, persaksian kaum lelaki lebih kuat dibanding perempuan. Dua banding satu. 

Perempuan juga disebut ‘lemah agama’ dikarenakan perempuan memiliki masa menstruasi (libur ibadah syar'i), sedang lelaki tidak.

Dalam hadis ini, Nabi saw. juga memberi masukan untuk para perempuan supaya gemar bersedekah dalam rangka menyeimbangkan kekurangan ibadahnya (berkat ganjaran sedekah).

Meski dalam teks hadis disebut ‘kurang agama’, namun pada hakikatnya perempuan tetaplah berpahala karena meninggalkan ibadah syar'i sebab larangan dan keharaman.

Konteks kurangnya akal dan lemahnya agama disini tidak dapat digeneralisir pada bidang lain. Oleh karenanya, barang tentu hadis ini tidak dapat dijadikan hujah (alasan kuat) untuk menomorduakan kedudukan perempuan. 

Di sisi lain, jika dipahami secara kontekstual, sebenarnya hadis ini tidak bertujuan merendahkan perempuan.

Interpretasi terkait penghuni neraka disini bukan dikategorikan berdasarkan jenis kelamin tertentu.

Lalu mengapa teks harus memvisualkan perempuan, bukan laki-laki saja?

Boleh jadi dalam hadis ini Nabi saw. sekaligus memprediksi kondisi perempuan di masa mendatang (baca: akhir zaman). 

Perempuan memang rawan mendapat dosa, utamanya perihal aurat, seperti berpakaian tapi telanjang dan lainnya. 

Kasus-kasus dan amal perbuatan semacam inilah yang hakikatnya menjadi sebab mengapa menghuni neraka, bukan jenis kelamin. Laki-laki tentu bernasib sama ketika melakukan hal yang demikian (bertentangan dengan ajaran Islam).

Sejauh ini dapat dimengerti bahwa kaum feminis berusaha untuk memberi tafsiran baru terhadap hadis Nabi saw., tanpa mengikutsertakan disiplin ilmu lain yang penting dan terkait, apalagi yang mereka kritisi adalah hadis sahih.

Karena untuk memahami secara utuh matan dan sanad hadis, bukan hanya menggunakan pendekatan rasio/nalar, melainkan wajib menguasai 'ulum al-hadis seperti ilmu dirayah, riwayah, al-jarhu wa al-ta'dil, asbab al-wurud al-hadis dan lainnya.

Dikhawatirkan, penilaian para feminis bahwa suatu hadis itu misoginis berasal dari pemahaman tekstual saja.

Selain itu, perasaan tertindasnya kedudukan perempuan nampaknya juga turut dipengaruhi oleh westernisasi pemikiran yang tak berprinsipkan Islam dan lebih kepada dorongan nafsu belaka.

Nah, karena berkaitan dengan hadis sahih atau hadis yang kredibel, maka kurang etis saja bila menyebut hadis Nabi saw. misoginis atau dalam kata lain Nabi saw. mensabdakan kebencian terhadap perempuan.

Padahal jika meninjau secara menyeluruh sebaran hadis-hadis Nabi saw., tentu banyak dijumpai redaksi hadis yang mengayomi, menjunjung tinggi, bahkan mengistimewakan martabat perempuan. 

Sekian.

Al-haqqu minallah. Wallahu a'lamu bish-shawab.