Persecutors normally pride themselves on possibly the falsest principle imaginable: that those who have truth on their side have the right to constrain those who are in error. ~ Robert Challe

Persekusi memiliki sejarah panjang sejak awal penciptaan manusia. Ia pernah dan masih hadir di tengah-tengah kita sebagai budaya yang berulang. Turun-temurun, dalam berbagai ras dan agama, baik sebagai pelaku (persecutors) maupun korban (persecuted), persekusi tak pernah lekang oleh zaman.

Mengatasnamakan kebenaran, terkadang persekusi menjadi sesuatu yang halal dilakukan sekelompok orang. Ada something in common antara saya dan Anda di dalam sebuah kerumunan sehingga secara kolektif dianggap sebagai kewajaran.

Definisi persekusi vis a vis etika dan moral menjadi bias. Betapa tidak, ketika ditanya apa landasan orang-orang melakukan persekusi, mereka menjawab: menegakkan kebenaran. Persekusi pelaksanaan teknis dari ber-al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahi al-munkar (memerintahkan kebaikan dan melarang kejahatan).

Demi kebenaran, tak jadi soal menebar kebencian. Karena saya benar, saya memiliki hak untuk membenci Anda. Veritas odium varit, membenci adalah anak kandung kebenaran, begitu kata Agustinus (400 SM) mengutip Terence.

Ada pepatah dalam bahasa Jerman: Angriff ist die beste verteidigung (serangan adalah pertahanan terbaik). Dengan logika ini, terkadang mereka yang menganjurkan kebencian malah menjadi sesuatu yang tidak bersalah dan lumrah. 

Dalam beberapa kasus, persekusi memang tidak hanya dilakukan mewakili agama atau keyakinan tertentu. Definisinya yang tidak ekslusif membuka gagasan kepada kita bahwa akan terus ada jenis persekusi baik dan persekusi buruk dari sudut pandang pelakunya. Motifnya dipenuhi pembenaran-pembenaran tersendiri.

Selebihnya, persekusi dilakukan atas inspirasi titah kitab suci sebagai summum bonum dan ditafsirkan sebagai compelle intrare—memaksa mengikuti dan memeluk keyakinan. 

Di zaman Romawi, persekusi menjadi ajang pertunjukan dan hiburan. Colosseum adalah saksi bisu yang mencatat bahwa pernah terjadi di mana persekusi muncul dari kesadaran dan konsensus masyarakat. Ia dengan sengaja digelar sebagai bentuk hukuman dari “si baik” kepada “si jahat”.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, retorika sudut pandang korban (victim-oriented rethoric) Hitler dalam Mein Kampf yang diimani jutaan masyarakat Jerman saat itu yang memandang persekusi (Verfolgung) itu baik jika mengetahui cara efektif untuk melakukannya adalah inspirasi terwujudnya holocaust, tragedi memilukan dalam sejarah. 

Masih kata Agustinus yang dikutip Pascal (1657), The wicked in persecuting the good blindly follow the dictates of their passion; but the good, in their persecution of the wicked, are guided by a wise discretion, even as the surgeon warily considers where he is cutting, while the murderer cares not where he strikes.

Ada pembenaran untuk persekusi oleh “si baik” kepada “si jahat”, bahwa apa yang dilakukannya dituntun kebijaksanaan.

Pembenaran terhadap persekusi adalah sesuatu yang berbahaya dalam membina tatanan masyarakat. Dalam pandangan pandangan Leo Strauss, mustahil bagi kita untuk menerima justifikasi persekusi. Tidak ada tempat dalam nurani kita untuk menerima gagasan persekusi atas nama kebenaran sekalipun. Pemaksaan eksternal dengan kekerasan tidak bisa dikategorikan sebagai menerima kebenaran.

Apa yang dialami oleh Haddad Alwi di Sukabumi beberapa waktu yang lalu merupakan cerminan bahwa persekusi secara konsensus masih dipandang sebagai senjata ampuh untuk mengekspresikan keinginan.

Alih-alih menggunakan pendekatan persuasi, persekusi diminati sebagai shortcut untuk meraih “kemenangan” instan. Ia masih menjadi cara efektif untuk memaksa pihak lain mengikuti aturan main kita. Yang menyedihkan, mereka menggunakan pertimbangan moral untuk membenarkannya.

Di negara kita, persekusi bukanlah barang baru. Ia senantiasa hadir menghiasi tatanan sosial kita. Pelakunya akan selalu menjadi crazed gang bagi masyarakat. Kebencian yang ditebar akan selalu memicu kebencian pada level berikutnya. 

Kita perlu memulihkan kesadaran tentang apa pun motifnya, persekusi tidak layak untuk dijadikan alat rekayasa sosial. Mengingat, kebencian adalah bak api dalam sekam ketika ia mulai dinyalakan. Jangan sampai persekusi menjadi sebentuk ekspresi frustrasi dari keluh kesah ketidaksetujuan yang dibenarkan.

Perlu ada exit strategy dari budaya persekusi yang selama ini mengakar pada masyarakat kita. Persekusi hanyalah peninggalan masa lalu yang perlu dihapuskan dan dikubur dalam-dalam.

Proses persekusi tidak menampilkan apa pun selain langkah menuju masa depan kekerasan dan penindasan. Adanya pemahaman dalam Islam, misalnya, bahwa persekusi adalah bentuk tathbiq al-syariah (aplikasi syariah) bukanlah merupakan indikasi kembalinya ke tradisi Islam dan tidak menunjukkan gejala kebangkitan agama, secuil apa pun.

Kita masih terus berharap, apa yang terjadi pada Haddad Alwi adalah yang terakhir kalinya. Perlu ada kesadaran komunal bahwa merasa memiliki hak untuk memaksa dan menganiaya orang lain yang dipandang memiliki kesalahan, adalah seperti yang Robert Challe katakan; the falsest principle imaginable, prinsip paling keliru yang bisa dibayangkan.