Al Habsyi menggunakan agama untuk mengujar kebencian. Bagi orang ini, agama hanya sebagai tameng yang digunakan untuk menjalankan strategi dalam mengutarakan kebencian. 

Seharusnya agama mengajarkan kita tentang kebaikan, bukan sembarangan menghina orang ataupun pemerintah yang sah. Apa yang seharusnya, sungguh berbeda dengan apa yang terjadi dalam hidup Al Habsyi ini.

Orang ini mengutarakan kebencian dengan amat sangat sambil menggunakan atribut atribut agama yang ditempelkan di atas kepala dan juga di tubuhnya. Atribut keagamaan dari luar, atau yang secara eksternal tidak pernah bisa menutup apa yang menjadi atribut yang sebetulnya, yakni di dalam. Secara internal.

Agama bukan sekadar pakaian luar, melainkan agama harus tercermin dari dalam diri. Sifat agama adalah sifat internal yang menceritakan akan kisah hidup atau narasi-narasi yang harusnya muncul dari dalam hati.

Jadi kalau kita mengeklaim bahwa kita memiliki agama dan kita saleh dalam beragama, maka yang seharusnya muncul adalah kata-kata yang mengutarakan kebenaran bukan permusuhan.

Apa yang diucapkan oleh Al Habsyi di dalam pidatonya di hadapan para massa yang jumlahnya hanya puluhan ribu itu adalah cerminan dari betapa buruknya dan bobroknya kondisi internal orang ini. 

Apa yang keluar dari mulut dan lidah terpancar dari hati. Orang yang hatinya penuh dengan kebencian akan mengejar sesuatu yang tidak jauh-jauh dari kebencian.

Salah satu contoh yang paling ultimate adalah Rocky Gerung. Orang ini memiliki banyak sekali dendam kepada Presiden Jokowi, entah datang dari mana. Entah Jokowi sudah berbuat apa kepadanya sehingga dia berani-beraninya menghina presiden di dalam acara yang sudah mulai sepi rating.

Setali tiga uang dengan Rocky Gerung, Habsyi adalah orang yang juga sama di dalam ucapannya begitu terlihat tidak suka Jokowi dan pemerintahan yang sah. Ada yang salah dengan kedua orang ini. Pemikiran mereka sudah dipenuhi dengan asumsi-asumsi dan narasi narasi kebencian yang sebenarnya tidak pernah nyata di dalam dunia ini. 

Pendek kata, fiktif. 

Di dalam ilusi mereka, hal yang fiktif itu justru menjadi sangat real bagi mereka dan kelompok mereka. Ternyata Rocky Gerung dan Al Habsyi membagi kisah hidup yang mirip-mirip. Harus dikatakan dengan tegas bahwa ini terkait dengan keluarga.

Mereka yang menanam kebencian kemungkinan besar memiliki permasalahan di dalam dirinya yang mereka tidak pernah bisa selesaikan. Rocky Gerung, kita coba lihat saja orang imut-imut dan amit-amit ini. 

Coba kalau bicara tentang keluarga, apa sih yang bisa dia katakan kepada istrinyanya kalaupun ada? Dia dikenal dengan sebutan papi Rocky di kampusnya tempat dia mengajar. 

Coba tanya saja mahasiswa-mahasiswi yang pernah ia ajarkan. daripada melihat dia berbicara tidak karuan di acara nggak jelas. Coba tanya saja kehidupan dia saat dia ada di kampus. Kalau kalian tahu, kalian akan terkaget-kaget dan ternganga melotot tidak percaya. Itu baru Rocky Gerung. 

Sekarang kita bahas tentang Al Habsyi yang baru-baru ini menjadi viral lantaran ucapannya yang tidak senonoh di atas panggung 212. Di atas panggung 212 mengkritik keras pemerintahan tanpa dasar.

Dan ternyata kisah keluarganya juga mirip-mirip dengan Rocky Gerung. Setelah dibongkar oleh salah seorang penulis, ternyata orang ini memiliki problem di dalam rumah tangga.

2 tahun yang lalu, ia digugat cerai oleh istrinya. Cerita ini sudah lama, namun lagi-lagi terangkat. Vira memenuhi media massa dan media online saat ini.

Karena memang orang suka dengan hal-hal yang bersifat timbal balik. Kalau bahasa sederhananya sih karma. Ketika Al Habsyi berkoar-koar di atas panggung, dia tidak sadar bahwa dirinya pun bermasalah. Kalau mau dihina, penghinaan itu juga banyak menghantam dirinya. 

Jadi kalau hidup kita tidak baik-baik amat, mbok ya jangan kita mencoba-coba untuk mengkritik secara brutal dan tidak ada ampun. Seolah-olah hidup kita ini suci sekali tanpa cacat tanpa noda. Memangnya Al-habsyi itu adalah malaikat? 

Jangankan malaikat, jadi manusia saja masih sulit. Menjadi manusia itu proses seumur hidup, Bung. Ini sebelum kita menjadi orang yang mengkritik sana-sini. 

Coba kita pikir dalam-dalam terlebih dahulu. Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh mengkritik di dalam kesalahan kita. Akan tetapi, tekanan pada artikel ini adalah bagaimana kita menjadikan orang lain pun manusia yang juga memiliki kesempatan yang sama dengan kita untuk berubah.

Kecenderungan manusia di dalam beragama adalah mereka merasa yang paling suci dan yang paling benar. Sehingga orang-orang yang berbeda dengan kita sedikit saja langsung dicap sebagai orang yang bersalah total, kafir, dan bau neraka. Ini adalah kebiasaan yang harus kita hindari bersama-sama. Yang juga harus dihindari oleh Al Habsyi yang sudah keblinger agama itu.

Seharusnya agama itu membuat kita waras, bukan membuat kita menjadi orang yang brutal. Sayangnya, bagi mereka kelompok Al Habsyi, Rocky Gerung, dan segalanya menjadikan agama hanya sebagai panggung politik.

Sungguh miris sekali hidup mereka ini. Pada akhirnya dunia melihat bahwa mereka mereka ini tidak layak mendapatkan sebuah tempat di hati masyarakat. Terbukti dengan rating ILC yang makin jeblok dan juga jumlah hadirin 212 yang menyusut drastis. Kritis hampir tidak ada harapan. Semoga kita semua kita menjadi makhluk yang memanusiakan manusia. 

Saya teringat apa yang dikatakan oleh pahlawan Indonesia yang sudah tiada, yaitu Sam Ratulangi: Sitou timou tumou tou. Artinya, manusia menjadi manusia dengan sempurna ketika mereka berhasil dan bisa untuk memanusiakan manusia.

Akhir kata, untuk Al Habsyi, hati-hatilah dalam berbicara kalau tidak mau dibongkar masa lalu Anda. Tolong menjaga marwah agama Anda. Karena di dalam menjaga marwah agama Anda, Anda pun menjaga marwah keluarga Anda.

Supaya nanti tidak ada rekam jejak-rekam jejak lainnya yang terbongkar oleh netizen negara +62 ini. Hati-hati dalam berkata-kata, karena kata-kata itu akan berdampak luas di dalam hidup kita.