Sudah ku panggil kau bung! Tapi nampaknya kau tak menengok perjuanganku melahirkan mereka yang sosialis. Kota ini tempat bergaya dan memupuk tepuk tangan, hampir tercekik pula merasakan ketertindasan atas diri sendiri. Prinsip ala 4.0 Revolusi Industri adalah bergundik dengan teknologi dan digital, bung dulu kau seorang sosialis yang dikenal ramah akrab dan jenaka tanpa layar kaca sebagai pembohong publik. 

Revolusioner itu bergulat dengan diri sendiri Bung, lebih baik kau pergi dan lari dari perjuangan yang monoton seperti Gie yang kritis dan ideal atas prinsip juang, hilang dan dingin bersama lembah mandalawangi. Belok kiri yang sendiri itu gundah sekali Bung, kau tau Nietzche berkelana sambil mencipta dalam imaji yang membuatnya gila. Kepalan Amorfati pun tak mengokohkannya, afro saja yang membuatnya keblinger dan kontradiksi. Layaknya hidup yang dimaknai se fatum dan brutum ego-nya si Mao Tse Dong. 

Bung berdua merasakan hotel prodeo, yang lain merasakan jeruji besi atas dirinya sendiri. Mencoba coba dan akhirnya bunuh diri sendiri, waktu yang fana adalah belati nestapa kepedihan dan yang abadi adalah duka Bung! Disini orang-orang menjual diri untuk sebuah nama dan kelas. Kalau sedikit berjalan kau akan lihat di pojokkan sana ada yang resah dan lunglai untuk kelalain dan langkah tanpa setting, seakan takdir saja yang membawanya kesana dan kemari. Beberapa yang tidak naif menyimpulka hal itu "kebodohan".

Tapi tidak dengan perempuan yang ingin ala bung berdua, kaku dan melupakan jati diri bahwa Progresif dan revolusioner bukan hanya dari tulisan, namun dari hati, pikiran dan tindakan. Bahwa ketertindasan adalah setengah dari kenaifan akan diri sendiri yang tak mampu bebas apalagi merdeka. Bung berdua ini harusnya menjanjikan dulu orang-orang yang lupa zaman, bahwa jalan yang ideal itu penuh "kemunafikan" Seperti kata Gie "lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan" atau kita yang selalu ingin menjadi Alpha, primordial, chauvinis juga terkadang sebagai pelintir sejarah.

Kekeliruan yang paling brengsek adalah tidak berani memaki diri sendiri Bung, memaki negara, penguasa dan korporat seakan dienakkan tangan serta lidah kita handal dan pandai sekali. Bung yang diberikan mesin tik oleh Jean Paul Sartre melawan tanpa henti memaki dan meludahi ketertindasan, melupakan ke aku-akuan tidak ego dan mengancam kebrutalan. Adapun Bung tak melihat dia yang mencoba coba seperti mu, matinya dalam bongkahan batu sisifus tak mengelinding lagi. 

Absurdnya kita adalah bercinta dengan takdir, Bung juga pasti tak akan setuju akan hal itu. Jalan juang si individualis yang sombongnya berdikari adalah "amorfati" Berdamai dengan takdir adalah keberanian tanpa henti. Menyudahi tekanan dan kelabakan, Bung yang tak pernah lari dari perjuangan beberapa yang lain kalah dalam ketertindasan, entah Bung berbudi baik mana yang akan mengahancurkan besi egonya orang-orang terkungkung. 

Bung berdua ini, jatuh dan tersungkur bangkit dan melawan lalu hilang secara perlahan ditelan bumi tapi tidak dengan masa. Lantas aku yang aku dan mereka yang mereka, hilangnya tak kentara memang tak berjodoh dalam asa hanya rasa sebatas ucap bahkan tak bisa apa-apa. Lompatan yang indah memang selalu berakhir naas, kalau saja bung berdua ini juga patah lututnya apakah bisa bangkit? Tentunya bisa, para Alpha yang sudah senantiasa menghardik ketertindasan. Bung yang gemar menulis ini memang menukil esensi perlawanan, tapi tak cuek tak jengkel tak ego tak sinis pada realita. 

Bahwa berani adalah pergi meninggalkan yang membuat tertekan, untuk itu bung yang lainnya pernah pergi ke mereka orang-orang kalah, sederhana, bijak, arif dan sebenarnya juga bimbang apakah melampaui waktu dengan demikian rupanya.  Lintasan laju apolistik, digerbangi kehendak dungu dengan begitunya bung banyak yang menyerah karena tak setangguh fatum brutum amorfati. Yang ia komen hanya diri sendiri, karena bung yang membunuhnya dengan alter ego

Bahkan tak ada firdaus lagi untuk diri yang bercokol dengan jati diri yang lain, andai bisa seenak Dita Indah yang duduk di kursi parlemen hingga melupakan Cordoba. Atau juga seperti Mahbub Djunaidi Bung kebanggan yang cakap berpolitik tanpa ada cerita cinta-cintaan monyet di dalamnya. Terlalu memikirkan Regina Olsen dan Soren Kiekengard, membuat transfigurasi juang jadi mempersembahkan diri untuk cinta. Bung pasti sedang memaki si bodoh yang seperti monyet. 

Kapan bung berdua disorot, sepertinya saat sudah tak ada lagi, ataukah memang tak ingin di sorot karena lampunya yang membuat kepanasan? Terbakar bung, berada lama di bawahnya macam terpangang mentari sejengkal saja. Tapi tak sehangus dan gosong rasa percaya yang dimainkan ala ular tangga, naik dan turun. Tujuan berjuang adalah meninggalkan diri sendiri, bung berdua atau bung yang lainnya esensi juang adalah bukan meniru kalian namun mewarisi spiritnya. 

Tulisan para bung adalah munafik bagi yang tak berjuang, dan bom bunuh diri bagi yang tak mengenal jati diri. Mati dan redup, apabila ingin menjadi bung dan membanggakan bung apalagi beralter ego dan menukil fakta yang ada seperti bung, bermimpi setiap hari akan mati layaknya puisi Andre Tratvosky. Begitu adanya mereka yang bergundik dengan  idealisnya, tak banyak menyingkap fakta juang dengan cinta adalah hal paling menjijikan dari orang-orang modern.