“Jangan percaya akan keterbatasan. Tetapi besarkan harapan. Jangan terlarut dengan keraguan. Tetapi ciptakan-lah kemauan. Dan jangan berserah dengan keadaan. Tetapi bangkitkan-lah dengan keyakinan”.—Merry Riana 

Dalam hidup, bermimpi adalah sebuah ketergantungan cita-cita. Yang memang harus dipercayai, dan diyakini untuk melewati proses, dan tujuan keinginan. 

“Tidak ada kehidupan tanpa keinginan. Dan tidak ada cita-cita tanpa sebuah harapan”.—Larry Pages

Artinya, ketika kita menggantungkan sebuah cita-cita. Maka yang perlu kita siapkan adalah kekuatan pikiran, kekuatan iman dan kekuatan hati kita. 

Sebab, untuk mencapai puncak. Tidak mudah. Melainkan kita melewati banyak jembatan, jurang dan penghalang untuk tiba kesana.  Terkadang kita jatuh, lelah dan kehabisan energi.

Tetapi itu semua tidak menutup semangat dan jiwa optimistik kita untuk melangkah lebih jauh.

Perjalanan bagi kita itu sangat melelahkan. Meski itu walau terasa sakit. Namun kita yakin, ada sekujur harapan yang kita sediakan untuk masa depan.

Hidup itu memang tidaklah mudah. Kadang sulit, Kadang sukar. Dan bahkan kadang runtuh.

Ya... ! Begitulah proses, kita bisa merayap, duduk dan berdiri begini. Itu juga dikarenakan kita hidup diatas lantera seni dan cinta. Segala isi dan keluh kesah, kita  curahkan "kepemilik harapan".

Kita hanya berharap. “Melalui doa, kita  hanya bisa menggantungkan cita-cita. Dengan berkata; 

“berikan aku jalan Tuhan supaya aku menapaki kepuncak langit”

Mimpi itu mungkin kita berkamuflase tinggi.

Tetapi kita yakin. Bahwa ketergantungan cita-cita bisa menaklukkan sebuah harapan.

"bercita-citahlah setinggi langit bila engkau jatuh, engkau akan terapung diatas awan-awan" (Soekarno).

Cita-cita itu mengingatkan kita. Begitu apik dan pentingnya—arti sebuah harapan, hidup, dan sebuah mimpi.

Artinya, menjadi manusia dengan manusia lain. Tentu membutuhkan perjuangan, tenaga, semangat dan expektasi yang tinggi.

Tuhan sangat tahu apa yang menjadi keinginan dan sebuah impian hidup kita.

Untuk itu. Bercita-cita tinggi itu bukan-lah sebuah pengharapan rendah. Tetapi berkemauan besar dan berusaha keras.

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kalau mata kita tidak pernah tidur, tangan kita tidak pernah berhenti. Dan telinga kita tidak pernah bertutup.

Yakin dan percaya-lah. Tuhan pasti akan mengijinkan bahwa takdirmu diciptakan oleh usaha, kerja keras dan doa yang sungguh tak pernah berhenti, dan berputus asa.

Seberat apapun cobaan! Bila itu dilangkahi dan dirangkai dengan usaha. Maka seluruh tembok penghalang pasti akan retak.

Dengan itu kita lewati kebenaran sebagai jalan untuk menentang dan melawan dari arti sebuah kehidupan dan harapan. 

“Orang bilang, jangan bercita-cita terlalu tinggi, kalau kamu jatuh. Kamu akan merasakan sakitnya”. Begitulah ujarnya dalam harapan kita.

Apakah ada yang salah ketika kita mendengarkan ungkapan semacam itu?

Tidak! Boleh saja bagi mereka dalam soal menilai. Banyak hal yang harus ditelusuri dan digarisbawahi bagi kita.

Kenapa? 

Sebab banyak sekali faktor yang kemudian mereka katakan itu berdampak besar pada penafsiran yang berbeda-beda.  Baik dari faktor lingkungan, ekonomi, pendidikan,— maupun keluarga.

Selain daripada itu. Yang menjadi aspek dasar dalam soal keberhasilan dan kesuksesan seorang anak adalah—bukan-lah hanya dari segi keilmuan dan pengetahuanya saja. Tetapi dari pola pikir dan keadaban dia didalam lingkungan.

***

Oleh Karena itu, sangat normal-normal saja! Bagi mereka ketika memberikan aspek penilaian seperti itu.

Bagi kita kritik mereka–– "boleh" tapi menyalahkan–– "jangan". Ketika mereka memberikan pandangan, atau dukungan yang berbeda justru harus kita apresiasi dan manfaatkan itu sebagai bentuk multisains dan type choice keilmuan kita yang baru. Agar supaya dengan sendirinya khazanah keilmuan dan pemahaman kita akan tumbuh dan terus berkembang.

Tetapi yang membuat kita terjebak dari mereka adalah ketidakmampuan kita mencerna dan menganalisa pandangan mereka secara baik.

Sehingga banyak sekali penafsiran makna yang dianggap bertentangan sekali antara pengetahuan kita dan keilmuan mereka.

Salah satu fakta, dan realita-Nya ialah kecendrungan penghasilan ekonomi rendah.

Faktor ini biasanya terjadi dalam ruang lingkup pendidikan dan kelas ekonomi. 

Banyak seorang anak yang berpengharapan tinggi. Namun tidak bisa tercapai karena diakibatkan oleh efek ekonomi lemah. Dan banyak sekali—seorang anak putus sekolah karena diakibatkan rendahnya motivasi, minimnya pemahaman dan kurangnya daya minat belajar.

Alasan itu, khususnya sebagai anak, lingkungan dan keluarga bahwa-sanya keluasan pengetahuan orang tua. Itu  harus mencari potensi dan akar masalahnya seorang anak seperti apa.

Poin pokoknya, adalah apakah kita kemudian salahkan orang tua, anak atau lingkungan? Tidak!

Yang patut untuk kita gali dan tarik jawabanya, ialah bagaimana kemudian pendidikan dasar orang tua. Itu membentuk stakeholder. Dalam artian bahwa anak itu harus disesuaikan dengan tingkat dan kebebasan dia dalam berfikir.

Ini-lah, yang harus orang tua catat dan pahami kemauan dan keinginan seorang anak. Jangan pengharapan anak dipaksakan oleh kemauan orang tua. Tidak boleh!

Sebab ketika, anaknya bercita-cita ingin menjadi dokter diubah oleh orang tuanya.

“kamu harus menjadi hakim”. Itu yang  salah! 

Anaknya berharap ingin menjadi guru digantikan oleh tuanya menjadi teknokrat. Itu yang salah! 

Secara akademis, jelas-jelas kapasitas dan bakat seorang anak. Itu sangat bertentangan dengan harapan dan kemauan orang tuanya.

Oleh Karena itu, kenapa harapan dan mimpi seorang anak gagal dicapai?

Karena orang tua mengikat hidup mereka diatas kelumpuhan dan kemacetan akalnya yang lemah. Sehingga ingin bebas dikurung, ingin liar diikat.

“Bagi mereka hidup dipenjara lebih baik daripada hidup dirumah”.

Fenomena seperti ini bagi saya bukan orang tua yang disalahkan. Tetapi kemauan, motivasi, dan harapan seorang anak harus diberikan ruang, dan tempat kedudukan yang tinggi.

Artinya kekuatan pikiran, iman dan keyakinan seorang anak adalah—“investasi masa depan yang baik”. Jika ini yang terapkan pada setiap anak. Maka hidup mereka akan menentukan nasib.

Selain daripada itu. Kapan seorang anak bisa mengubah nasib menjadi baik. Sementara harapan dan kemauan seorang anak tidak relevan dengan cita-cita orang tua?

Ada cerita fakta yang menarik, ketika saya beranjak untuk pulang kampung. Ketika tiba dirumah. Singkat cerita. Banyak yang saya tesik dan yang saya celuti di dalam kehidupan lingkungan, keluarga dan tetangga.

Mereka mengatakan begini;

“Jangan sekolah tinggi-tingi,  cukup jadi sarjana saja. Standar kelulusan S1-kan, sudah banyak. Untuk apa lanjut S2. Habiskan biaya saja. Lihat, apakah ekonomi dan status kedudukan dan pangkat jabatan orang tuamu tinggi. Tidak,  menjadi S1 sudah cukup, jangan lagi lanjut S2. Kasian orang tua. Mereka hanya hidup menggantungkan nasib dengan berpenghasilan satu kali setahun.” Apakah kamu tidak merasa cukup atau puas sudah menjadi sarjana?

Dengan suara dan hati kecilku "tersenyum" dan mengatakan begini; Oh..Iya!

Bagiku frasa yang mereka bangunkan itu adalah doa. Tidak ada yang nyelutuk terhadap mereka. Melainkan itu adalah ideal-Nya hidup dalam berlingkungan.

Wajar saja, ketika perkataan itu harus disampaikan kepada saya. Biar kedepanya saya bisa menjadi manusia untuk memanusiakan manusia lainya. Dan itu butuh dorongan, butuh keringat, semangat dan perjuangan yang keras.

Mereka hanya tahu bahwa-sanya anak yang paling berharga adalah harta, bukan pendidikan. Istilah mereka, pendidikan adalah tanah, emas, rumah mewah, dan peternakan banyak.

Artinya, hidup mereka tidak akan bahagia tidak dengan kekayaan. Dan warisan  mereka akan mati. Bila menyesekolahkan  seorang anak itu dilanjutkan. 

***

Bagi saya, ini adalah racun. Kalau ini diberikan terus-terus hidup. Dalam kultur lingkungan. Maka akan menggores dan mematikan sebuah pengharapan seorang anak.

Saya berharap bahwa kecerdasan emas seorang anak adalah hak pemilik anak bangsa. Maka segala harapan, mimpi dan cita-cita mereka harus dibukakan oleh orang  tuanya selebar-lebarnya untuk mencampai hidup mereka kepuncak langit.