Kendati langit cerah tanpa awan, namun duka membuatnya lebih gelap ketimbang saat hujan turun. Bangsa ini kembali kehilangan sosok yang sangat berharga, 

Insinyur, menteri, wakil presiden, presiden, kekasih, legenda telah pergi, berpulang ke haribaannya. Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie telah mengembuskan napas terakhir setelah berkarya dan mengabdi pada NKRI selama lebih dari ratusan purnama.

Penulis pribadi mengenal Pak Habibie bukan hanya sebagaimana orang-orang mengenal beliau. Sebutlah Bapak Demokrasi, Bapak Teknologi, Orang Jenius, Pria Romantis, dll. Bisa dibilang, jika tak ada beliau, penulis tak akan lahir.

Bapak Habibie adalah orang yang memerintahkan ayah penulis pulang dari Jerman. Saat itu, Ayah penulis, Dipl. Ing. Sutjahjo Mukadi, baru saja lulus program magister dengan nilai Summa Cum Laude dari Jurusan Biologi Universitaet Bremen dan saat itu tengah menjadi seorang kandidat doktor.

Namun Atase Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Prof. Dr. Rubini, mengusulkan kepada Pak Habibie, 'ada pemuda Indonesia di Jerman yang berbakat', maka ayah penulis pun dipanggil pulang. Pak Habibie kemudian menghendaki agar ayah saya bekerja di BPPT. 

Ketika di Jakarta itulah ayah saya bertemu dengan seorang putri Mangkunegaran jelita bernama Rr. Retno Sandrawati. Selanjutnya, ya pembaca sudah tahu kelanjutannya.

Selain itu, keluarga penulis juga cukup dekat dengan Keluarga Askar Subono, adik dari Adrie Subono dan keponakan dari Pak Habibie. Sehingga bagi penulis, bersentuhan dengan cerita-cerita dan nilai-nilai positif mengenai Pak Habibie adalah hal yang amat lumrah.

Namun, ada sebuah misteri yang penulis temukan di belakang hari mengenai Pak Habibie. Semua itu bermula ketika penulis mengunjungi Kantor Redaksi Majalah Tempo. Di tengah ruangan yang luas itu, ada satu cover majalah yang dicetak besar dan ditempel di dinding, bertuliskan: 'Habibie dan Kapal itu'.

Selama ini Tempo adalah majalah yang cukup getol dalam melakukan investigasi terhadap banyak tokoh. Tempo termasuk media yang progresif dan tak pandang bulu. Namun mengapa dari semua tokoh, justru Pak Habibie yang dipasang wajahnya?

Jadi, edisi majalah Tempo yang penulis maksud itu mengandung sebuah tuduhan sengit bahwa Pak Habibie telah melakukan Mark-Up, Korupsi, Memperkaya Diri dan keluarga, lewat skema pembelian 16 korvet dan 14 LST (landing ship tank) rongsokan yang pernah dipakai oleh Deutsche Demokratik Republik alias Jerman Timur.

Disebutkan dalam edisi majalah Tempo itu bahwa PT Citra Harapan Abadi milik Sri Rahayu Fatima Habibie, adik kandung Pak Habibie, telah menjadi Broker antara PT Pal dengan pemerintah Jerman dalam pembelian 39 Kapal Perang bekas Jerman Timur, demi komisi bagi PT Citra Harapan Abadi dan demi mendongkrak kinerja PT PAL.

Adaptasi kapal-kapal Jerman yang sistem air conditioning dirancang untuk suhu dingin Laut Baltik, dengan suhu perairan Indonesia, berikut komisi untuk pihak-pihak yang terlibat, mendongkrak kontrak pembelian eks-armada Jerman Timur itu dari 750 Juta Dolar menjadi 1.1 Miliar Dolar.

Kualitas kapal perang tersebut ternyata juga amat bobrok sehingga ada yang nyaris tenggelam dalam pelayaran menuju Indonesia. Pembelian kapal-kapal, yang menurut kabar digunakan kemudian untuk mendaratkan pasukan dalam Konflik Poso itu pun ditentang habis-habisan oleh Menteri keuangan saat itu, Mar'i Muhammad.

Konsekuensi untuk majalah Tempo sendiri teramat fatal. Penguasa Orde Baru, HM Soeharto, memerintahkan Harmoko untuk memberedel majalah Tempo pada 21 Juni 1994. Bahkan, ada rencana dari menantu Soeharto, yaitu Letjen Prabowo Subianto, agar Tempo diakuisisi saja oleh adiknya, Hashjim Djojohadikusumo, agar bisa menjadi media yang lebih "proporsional" dan "bertanggung jawab" dalam membuat berita.

Pak Habibie sendiri terkejut kenapa Tempo sampai diberedel, “’Iya, tapi kenapa harus diberedel? Mereka itu orang-orang pintar dan kritis’, tanya beliau. Pak Harto hanya menjawab enteng: "ya sudah saya tandatangani, mau gimana?"

Pertanyaannya, apakah Pak Habibie benar-benar bersalah?

Menyoal sepak terjang PT. Rahayu Citra Abadi yang dipermasalahkan Tempo, penulis hanya tahu bahwa perusahaan milik Sri Rahayu Fatima Habibie memang pernah memiliki kerja sama dengan galangan kapal Jerman, Lurssen Werfts. Kebetulan, ayah penulis pernah bekerja sebagai pengajar Bahasa Indonesia di perusahaan itu. Selebihnya, penulis tidak tahu.

Akhirnya memang, hanya vonis pengadilan yang bisa menjawabnya. Karena hingga tutup usia, tak ada vonis untuk beliau, maka kita hanya bisa mengedepankan asas praduga tak bersalah.

Apalagi bangsa ini mengidap sindroma Habibie. Mengingat prestasi beliau yang begitu gemilang di luar negeri dan baktinya pada ibu pertiwi, beliau menjadi idola semua orang dari segala lapisan masyarakat. Menempatkan beliau di depan ujian, untuk memeriksa apakah beliau benar atau salah akan berbenturan dengan emosi publik yang teralu mencintai beliau.

Lagi pula, ingat, Pak Habibie adalah bagian dari Orde Baru. Presiden Soeharto adalah patron Pak Habibie, sehingga Pak Habibie bisa sukses mengembangkan industri kedirgantaraan RI. 

Memang setiap orang jenius membutuhkan patron. Galileo Galilei memiliki patron, yaitu Pangeran Cosimo di Medici, dan Albert Einstein pun pernah berada di bawah sayap Kaisar Jerman sekaligus Raja Prussia, Friedrich Wilhelm Viktor Albert von Hohenzollern.

Karenanya, jika Pak Habibie akhirnya dituding-tuding memiliki kebiasaan koruptif yang sama dengan rezim tempatnya mengabdi, kiranya itu wajar terjadi, Seseorang yang bergaul dengan penjual parfum pasti akan kebagian imbas wanginya juga, kendati yang bersangkutan tak terlibat dalam proses pembuatan minyak wangi itu.

Selain itu, perlu diingat, We are all bad in someones memory. Kelak akan kita sadari ketika kita berpulang nanti. 

Bagi Penulis, Pak Habibie adalah sosok yang kurang lebih positif, namun tidak bagi Tempo. Menulis tentang skandal yang melibatkan Pak Habibie adalah awal dari direnggutnya kebebasan Tempo sebagai media jurnalisme yang independen. 

Bersalah atau tidak, Pak Habibie sudah berusaha menebus keterlibatannya dengan Orde Baru lewat Beasiswa Habibie, Meretas jalan menuju demokratisasi Indonesia, Merevolusi Polugri Indonesia dari Paradigma Realisme menuju Mazhab Inggris (English School), sebagai kepala otorita Batam ia berusaha membangun pulau tersebut menjadi saudara kembar Singapura, dan mendirikan Sekolah Insan Cendikia di Serpong, dekat rumah penulis.

Selain itu, Crack Theory yang beliau temukan telah sukses merevolusi dunia penerbangan, baik sipil maupun militer, dan secara signifikan mengurangi jumlah kecelakaan pesawat terbang. Hingga kini, berlaksa-laksa manusia bisa bepergian dengan aman menggunakan pesawat terbang, demi mewujudkan mimpi-mimpi mereka, semua berkat Pak Habibie.

Karenanya, sekali lagi, selamat jalan, Pak Habibie. Semoga perjalanan Anda menjadi tamasya yang indah dan diiringi oleh untaian doa.