Masih banyak yang beranggapan bahwa yang bergelar habib adalah mereka yang terjamin keislamanannya dan memperoleh keselamatan dari semua perkara dunia, hanya dikarenakan mereka keturunan Rasulullah saw. Pengkultusan terhadap habib ini begitu kentalnya, sehingga para pemujanya seolah menutup mata terhadap borok-borok akhlak yang jelas kentara di diri para penyandang gelar ini.

Ketika ada orang yang mengkritik habib, maka para pemujanya akan ramai-ramai menuding bahwa ia telah menghina Nabi saw. Lebih parahnya lagi, taqlid membabi buta para pengikutnya ini seringkali dimanfaatkan dengan penuh suka cita oleh para habib untuk kepentingan mereka.

Terlahir sebagai keturunan jasmani Rasul saw memang merupakan suatu kehormatan, namun dibalik kehormatan ini juga terdapat tanggung jawab yang besar, tanggung jawab untuk senantiasa berlaku dan bertindak sesuai dengan sang datuk, dan berusaha jangan sampai ada satu noktah hitam pun dari perilaku mereka yang bisa mengotori wajah indah sang datuk. Ketika hal ini diabaikan maka sia-sia sajalah menjadi keturunan lahiriah sang Nabi saw.

Sejatinya, menjadi keturunan jasmani bukanlah suatu kehormatan yang sebenarnya, kehormatan yang sebenarnya adalah menjadi keturunan rohaniah. “Ahlul Bait” atau “anak-cucu” Nabi sejati ialah orang yang soleh dan yang setia taat kepada Nabi saw. (Muhammad Shadiq bin Barakatullah, 1956)

Kita baca kisah Nuh as di dalam Al-Quran,  ketika Nuh as meminta supaya anak kandungnya diselamatkan dari azab banjir dahsyat, Tuhan berfirman kepada Nuh as berkenaan dengan keturunan jasmaninya itu, “Wahai Nuh, sesungguhnya ia bukanlah dari ahli (keluarga) engkau, karena amalannya tidak baik.” (QS. Hud: 46) Kedurhakaannya kepada Allah Ta’ala dan perbuatan jahatnya lah yang telah membuat ia bukan termasuk Ahli Nuh.

Sebaliknya, Hadhrat Salman Al-Farisi yang senantiasa sangat taat kepada Nabi Muhammad saw, maka meskipun beliau berasal dari Persia dan sama sekali tidak ada hubungan darah dengan Nabi saw, beliau dinyatakan sebagai keluarga nabi (baca: Ahlul Bait) di hadapan para sahabat. (Majma’ Al-Bayan, 2, 428)

Islam tidak mengenal sistem kasta, strata, gelar, jabatan atau apapun dalam setiap apa yang dilakukan manusia. Perbedaan antara manusia satu dengan lainnya adalah amalannya dan ketakwaannya. Orang yang paling mulia di sisi Tuhan adalah yang paling bertakwa (Al-Hujurat:13).

Demikian pula untuk menentukan siapa yang sebetulnya berhak disebut sebagai keluarga Nabi, ketakwaan adalah yang paling utama. Sebagaimana sabda dari Nabi saw sendiri, “Sesungguhnya keluargaku ialah orang-orang yang bertaqwa.” (Abu Daud, Al-Misykat, Kitab Al-Fitan). Berbahagialah mereka yang memahami dan mengamalkan hakikat ini.