Belum genap seminggu tiba di tanah air setelah tiga setengah tahun berdomisili di Arab Saudi, Habib Rizieq masih menduduki trending topic perbincangan publik. 

Kali ini bukan soal pelanggaran protokol kesehatan karena melubernya massa ketika menyambut kedatangannya. Bukan juga mengenai sederet kasus yang melibatkan Habib Rizieq, yang entah bagaimana kelanjutannya. Lebih menarik adalah perseteruan dirinya dengan seorang artis yang serbakontroversial; Nikita Mirzani.

Hal tersebut bermula dari celoteh Nikita ketika mengomentari kepulangan sang Habib. Pada gilirannya Habib Rizieq kemudian membalas di suatu forum pengajian Maulid Nabi dengan menyebut kata-kata yang tidak bisa saya tulis di sini untuk membalas ucapan Nikita Mirzani. Meskipun kedua belah pihak sama-sama tidak menyebut nama, tidak terlalu sukar untuk mengindikasikan sosok yang dimaksud.

Sepintas perseteruan tersebut bisa jadi hanya percecokan antardua publik figur yang saling tidak suka. Di sisi yang lain, kita bisa membaca lebih jauh bahwa konflik antarkeduanya melibatkan dua agenda ideologi besar yang sedang dan akan terus berselisih di Indonesia, yakni fundamentalisme versus liberalisme.

Kita tahu dalam setiap orasi bahkan setiap pernyataannya, baik melalui diri sendiri maupun melembaga melalui FPI, Habib Rizieq mengedepankan kampanye untuk memerangi kemaksiatan, liberalisme, hedonisme, dan sederet retorika-retorika lainnya yang bisa dihimpun dalam kalimat "Amal Ma'ruf Nahi Mungkar". 

Dalam praktiknya, Habib Rizieq maupun FPI tidak segan-segan untuk menggunakan jalur "kekerasan" untuk mendemonstrasikan gagasan besarnya tersebut.

Dengan memainkan sentimen agama dan bisa ditambahi kegelisahan ekonomi, otoritas legitimasi predikat ke-habib-annya, dan basis utama kekuasaan massa, Habib Rizieq sangat baik memainkan peran sebagai semacam "Ratu Adil" yang bisa pongah di hadapan kekuasaan hari ini dan menjadi harapan umat Islam di Indonesia.

Framing semacam itu sudah lama dimainkan dengan lihai. Bisa ditebak model ke depan akan menguat: mengkritik kekuasaan dan menancapkan identitas keagamaan atas dasar keberpihakan terhadap Islam dan rakyat. Kendaraannya adalah jalur beragama yang cenderung fundamentalis.

Dalam arti, bagaimana dengan lantang memimpikan nilai agama sebagai sumber tata kelola kehidupan sosial dan politik. Public enemy-nya seperti yang sudah disebutkan adalah kebobrokan moral dan gaya hidup liberal yang dianggap mengganggu persatuan Islam. 

"Revolusi Akhlak" yang kini digadang-gadang oleh Habib Rizieq sebagai kampanye nasional bisa dibaca dalam pertautan dengan desain besar konsep "Amal Makruf dan Nahi Mungkar”nya.

Di sisi yang lain, Nikita Mirzani adalah representasi dari apa yang menjadi musuh dari perjuangan Habib Rizieq. Dosen saya dengan baik mengilustrasikan Nikita Mirzani ibarat Lady Gaga atau Marilyn Monroe yang jatuh di bumi Indonesia. 

Nikita Mirzani adalah artis yang penuh kontroversial dan memang itu image kuat yang dibangun di media. Sebuah simbol yang memuja kebebasan dan muak dengan pendisplinan-pendisiplinan sosial. Dalam benak Nikita mungkin kedatangan Habib Rizieq adalah pengekangan.

Kini, fans Nikita Mirzani bertambah semenjak konflik dengan Habib Rizieq. Bisa jadi juga orang-orang yang mendukung Nikita Mirzani adalah yang sedari awal tidak suka dengan Habib Rizieq. Musuh dari musuh adalah teman. Begitu kata Sun Tzu. Nikita menjadi simbol terdepan melawan pemimpin besar umat Islam tersebut.

Keberpihakan publik kepada masing-masing kubu memiliki implikasi terhadap benturan nilai dan praktik kekuasaan dalam jaringan yang lebih luas. Seperti kita ketahui, tumbangnya Orde Baru telah meninggalkan ruang kekuasaan yang menjadi perebutan antar ideologi dan nilai untuk saling mendominasi.

Kasus Inul versus Haji Rhoma, kecaman terhadap renacana majalah Playboy  Indonesia, fatwa-fatwa seputar pluralisme, liberalisme, dan sekularisme, dan masih banyak lainnya mencerminkan bagaimana masing-masing ideologi, baik fundamentalisme maupun liberalisme, sedang merayakan kebebasan dan berlomba menguasai sesaat setelah Suharto tumbang. 

Penjelasan-penjelasan seputar konteks kompetisi identitas era reformasi dan kemunculan kasus-kasus tersebut dengan baik di tulis oleh Ariel Heryanto dalam “Pop Culture and Competing Identities”.

Sama dengan Inul versus Bang Haji bukan soal kompetisi antar junior dan senior dangdut, namun Inul sebagai simbol kebebasan berhadapan dengan Bang Haji yang merepresentasikan pengkoreksian sosial berdasarkan nilai ketat agama. 

Hal ini senada dengan alasan Gus Dur mengapa dulu membela Inul yang termaktub dalam "Islamku, Islamu, dan Islam Kita Semua". Gus Dur membela Inul bukan soal karena dia adalah anggota Fatayat Pasuruan, tapi Gus Dur ingin melawan kecenderungan fundamentalisme beragama melalui sosok Bang Haji.

Memang tidak bisa serta-merta kasus di atas disamakan dengan polemik Habib Rizieq dengan Nikita Mirzani hari ini. Namun perseturuan di antara keduanya melibatkan efek gagasan yang entah disengaja atau tidak ikut terangkut di dalamnya.

Sehingga, saya kurang setuju dengan candaan yang mengatakan bahwa ketika kekuasaan susah mengontrol sisa-sisa oposisi yang satu ini, dan sosok Nikita Mirzani tidak disangka bisa tampil paling depan. Persoalan Nikita Mirzani dan Habib Rizieq lebih kompleks lagi. Berduyun-duyunnya demonstrasi untuk mendukung Nikita bukan soal sosok pribadinya mantan vokalis The Potters tersebut.

Lebih jauh, Nikita Mirzani dan Habib Rizieq adalah pribadi yang ditempati lintasan kontestasi kekuasaan antara prinsip liberalisme dan fundamentalisme yang terus akan berlangsung di Indonesia. Mereka adalah figur yang sekarang berada pada jala kekuasaan dan mengisi posisi simbolik terdepan dari semesta keberpihakan atas pergulatan ideologi, sentimen politik, gaya hidup, transfer budaya dan bisa ditambah juga sisa-sisa memori afiliasi politik yang masih membekas.