Nama Habib Rizieq kembali menjadi top trending akhir-akhir ini. Selama kisah pelarian dan usaha bersembunyi di Negeri Arab, Habib jauh dari keker publik. Kemarin, Selasa, (10/11/2020), Habib Rizieq kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi (Indonesia). 

Kedatangannya disambut hangat oleh para fans dan followers. Meski sang Habib sering mengumbarkan kata-kata friksi, pandemi rindu dari para followers tak mudah dilepas kekang. Habib dan tabib adalah dua hal yang melekat pada ingatan publik. Akankah Habib Rizieq menjadi pemersatu bangsa?

Anomali: Antara Tabib dan Aib

Sang Habib selama tiga tahun (2017-2020) bersemedi di Arab Saudi. Ia berangkat ke Arab dengan cap dan label di sekujur tubuh. 

Pada 2017 lalu, Muhammad Rizieq Shihab dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas kasus penghinaan terhadap Pancasila. Kala itu, Rizieq dilaporkan oleh Sukmawati Soekarnoputri pada Kamis, (27/10/2016). Isi laporan Sukmawati tak lain soal peryataan Rizieq yang melecehkan Pancasila.

“Saya datang sebagai Ketua Umum PNI Marhaenisme melaporkan Habib Rizieq Ketua FPI perihal penodaan terhadap lambang dan dasar negara Pancasila, serta menghina kehormatan martabat Dr. Ir. Soekarno sebagai Proklamator Kemerdekaan Indonesia,” kata Sukmawati Soekarnoputri di Bareskrim Polri, Gedung KKP Bahari II, Jalan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Kamis (27/10/2020).

Akhir kasus ini, Habib Rizieq sepertinya lolos dengan alasan tidak cukup bukti untuk meneruskan kasusnya. Usai mengatakan “Pancasila ditaruh di pantat”, Rizieq melebarkan sayap. Ia mengklaim bahwa pertanyaan seputar kasus penghinaan Pancasila tak jauh dari isi tesisnya ketika mengenyam pendidikan di Malaysia. 

Perkara pun ditutup. Rizieq dibebaskan. Para pendukung Rizieq pun menabuh beduk tanda kemenangan sang idola dan panutan agamis.

Akan tetapi, rupanya aib yang mengelilingi Rizieq masih seperti gumpalan es bawah laut. Semuanya belum terekspos. Pada awal 2017, dunia dihebohkan dengan sebuah berita yang menyeret nama sang Habib. Kala itu, Rizieq diketahui melakukan chatt mesum dengan seorang wanita bernama Firza Husein. 

Bukti-bukti terkait chatt mesum dan rekaman pengakuan Firza Husein menjamur bak pandemi di ruang maya. Semua rekaman dan bukti primer ini dikelola dan diunggah oleh sebuah portal berita online Baladacintarizieq.

Lalu bagaimana tanggapan pihak kepolisian? Lagi-lagi, semua bukti ini dikelola dan diberi jedah hingga Rizieq sendiri akhirnya hijrah ke Saudi Arabia. Sebagai seorang ulama dan tokoh panutan di kalangan Islam, Rizieq seharusnya tak bermain petak-umpet. 

Tokoh publik, apalagi tokoh terhormat seperti Rizieq, seharusnya lebih berakhlak, bermoral, dan lebih transparan. Bagaimana mungkin warga negara ini mengidolakan seorang tokoh yang suka menghujat, menghina, dan mengantongi aib?

Rizieq: Pulang atau Dideportasi?

Ketika isu kepulangan Habib Rizieq tercium media dan khalayak ramai, industri informasi ramai-ramai memasang hastag dan nametag Rizieq Shihab. Berita kepulangannya seperti berita seorang reformator yang sudah bertahun-tahun mengabdi untuk negara ini. 

Ribuan followers baper penyuka sosok Rizieq beramai-ramai membuat pawai penjemputan. “Allahu akbar, Habib Rizieq pulang!” Alhasil, negeri ini dibuat macet, dicekik pandemi, dan menyusahkan aparat keamanan.

Kepulangan Rizieq disambut bak pahlawan nasional. Padahal Rizieq sendiri lari dari pangkuan Ibu Pertiwi. Ia bukan sosok yang nasionalis ketika ia menghina dan menghujat Presiden terpilih. Pernyataan Rizieq, hemat saya, merupakan ciri sosok yang anti-nasionalis. 

Seharusnya, kepulangannya dari tempat persembunyian di Saudi Arabia tidak perlu diheboh-hebohkan. Bukankah dia pelaku kriminal? Bukankah Firza Husein masih menaruh dendam padanya? Bagaimana dengan berkas-berkas kejahatannya sekarang?

Menurut Menko Polhukam Mahfud MD, Rizieq pulang bukan karena kemauannya sendiri. Rizieq sebetulnya dideportasi. Ia dipulangkan karena overstay. Visa izin tinggal di Saudi Arabia sudah selesai. Maka, wajar Habib Rizieq pulang. 

Hal ini bahkan dibenarkan oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel. Menurut Agus, visa Rizieq memang tidak diperpanjang oleh pemerintah Saudi. Berdasarkan komunikasi Agus dan Kantor Berita Kerajaan Arab Saudi, Rizieq hanya diberi izin tinggal paling lambat sampai 11 November 2020.

Rizieq berstatus overstayer tidak mendapat perpanjangan visa, tetapi diberi ta’syirat al-khuruj atau visa untuk keluar. “Ini biasa bagi para WNI yang menjalani proses tarhil atau deportasi. Itulah yang dikenal dengan ta’syirat al-khuruj,” ujar Agus saat dihubungi Tempo, 5 November 2020 kemarin. 

Dengan itu, jelas bahwa Rizieq dideportasi. Ia dipulangkan. Ia diusir karena tak lagi mengantongi izin tinggal.

Akan tetapi, apa komentar Rizieq? Ia tak mau kalah. Ia kurang legawa. Ia tak mau harga dirinya sebagai pemimpin Front Pembela Islam (FPI) dijatuhkan dengan informasi terkait pelanggaran yang dibuatnya. Ia bahkan berkomentar: “Mulai hari ini, siapa pun termasuk pejabat Indonesia di dalam maupun di luar negeri, kalau ada yang mengatakan say overstay, akan saya tuntut secara hukum.” Mendengar ini, Dubes Agus hanya tertawa.

Rizieq juga memang kerap bertindak angkuh. Ketika Menko Polhukam Mahfud MD berupaya membantu, Rizieq malah menepis. Bukankah ini bukti keangkuhan seorang pemimpin, seorang tokoh agama, seorang figur publik? 

Rizieq bahkan mengatakan: “Demi Allah saya bersumpah, saya tidak akan meminta bantuan rezim zalim Indonesia, apalagi mengemis kepada rezim zalim Indonesia untuk cabut cekal saya di Saudi Arabia.”

Menyatukan Bangsa?  

Rizieq pulang dengan membawa slogan menyatukan bangsa. Upaya ini digaungkan dengan semangat Revolusi Akhlak. 

Bagaimana mungkin orang yang jelas-jelas cacat hukum dan mengidap aib berlagak menyatukan bangsa? Yang ada nantinya membuat keributan. Kedatangan Rizieq saja sudah membuat negara ini ributnya bukan main. Penyambutannya (berkerumun) pun bahkan sudah mencederai upaya bangsa ini melawan pandemi.

Saya heran, kenapa ada begitu banyak orang yang mengidolakan dan menjadi followers fanatik Rizieq. Ketika lari ke Saudi Arabia, Rizieq berstatus hukum. Ketika pulang kampung, Rizieq juga dilabeli hukum. Pergi dan pulang Rizieq sudah memuat banyak kejanggalan. Lalu ketika pulang, ia disanjung-sanjung sebagai pemersatu bangsa. 

Siapa Rizieq? Apakah stok orang baik di negara ini sudah tidak ada lagi sehingga mereka yang cacat pun dipilih dan diagung-agungkan?

Rizieq pulang memperkeruh bangsa. Ia membawa friksi. Komentar-komentarnya sangat jauh dari jiwa seorang nasionalis. Jauh dari profesinya sebagai imam. Jauh dari ulama, jauh dari tabib. Jangan berangan-angan Rizieq menyatukan. Ia tak lebih dari tabib bikin gaduh. 

Komentarnya jelas-jelas memperlihatkan dirinya sebagai anti-Indonesia. Jika tak ingin menjadi bagian dari Indonesia, silakan hijrah. Masih ada begitu banyak ulama dan pemimpin Islam lainnya yang lebih baik dari Rizieq.

Saya berharap, pihak keamanan bisa menindak tegas perilaku dan pernyataan-pernyataan Rizieq yang memecah-belah persatuan bangsa ini. Jangan sampai upaya membiarkan justru membuat Rizieq seolah-olah paling benar dan pahlawan.