Terorisme dan ekstremisme dinilai sebagai ancaman kehidupan berbangsa dan bernegara. Ekstrimisme dan terorisme jadi biang keladi untuk mendapatkan hidup dengan penuh kedamaian dan keseimbangan. Perdebatan konsep tafsir dengan menonjolkan beberapa kelompok dan golongan dinilai jadi penyebab gejala tersebut.

Perpres No. 7 tahun 2021, telah disahkan, untuk menanggulangi ancaman terorisme dan perilaku kekerasan dengan pendekatan secara lembut. Ada tiga pilar penting dalam mendukung gerakan tersebut yaitu; pilar pencegahan, pilar penegakan hukum dan pilar kemitraan dan kerjasama internasional.

Bagaimana peranan rakyat Indonesia dalam menentukan sikap untuk menyukseskan perpres tersebut? Ada beberapa faktor tertentu seperti sikap pendidikan untuk mempengaruhi gerakan rakyat Indonesia menguliti terorisme dan ekstremisme di Indonesia.

Ada beberapa tanda ketika ekstremisme yang mengarah pada terorisme itu, diakibatkan oleh kurangnya pendampingan dan peranan pemuda dalam menelaah dan menularkan gagasan untuk diterima masyarakat untuk membentengi ekstremisme dan terorisme.

Tiga pilar kurang bisa terbentuk secara matang, apabila peranan pemuda dan tokoh masyarakat kurang berperang sebagai tombak utama melakukan dialog secara matang. Dialog dengan kepala dingin masih menjadi senjata penentu Wa amruhum Syura Baynahum, agar terjadi dinamika yang dialektis untuk menanggulangi terorisme dan radikalisme.

Khaled Abou El Fadl (2005) memberikan konklusi mengapa puritan-ekstremisme yang berpengaruh pada ekstremisme dan terorisme dikarenakan oleh diamnya kaum moderat untuk bersuara. Kaum moderat sebagai tameng untuk membentengi analogi radikal, bila saja diam, akan menjadi target empuk internalisasi sikap ekstremisme yang mengarah kepada terorisme.

Moderat itu sebagai sikap yang dewasa dalam menelaah dinamika dalam berkehidupan. Memahami teks sebagai kebenaran mutlak, bukan berarti saklek untuk diterapkan dalam kehidupan, melainkan sikap moderat itu mampu menkontekstualisasikan dan mengakomodasi isi dalam teks kitab agar bisa diterima secara umum.

Kompleksitas atas multikulturalisme di Indonesia menjadi tatantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia untuk rukun dalam melakoni kehidupan. Singgungan antara pemikiran antar agama memiliki resiko kontra, bila tidak dihadapi dengan sebuah kebijaksanaan.

Rasullullah sudah mencontohkan mengenai keadilan dan memberikan hak kepada kaum yang diluar dari golongannya. Memusuhi bukanlah suatu tujuan, melainkan membantu dan melindungi, hukumnya adalah wajib atas landasan saudara dalam bernegara dan berbangsa -ummatun wahidah.

Bila saja, masih ada bujukan untuk memusuhi bahkan menolak adanya tempat ibadah di luar golongan mereka, secara tauhid untuk praksis memiliki beberapa kekurangan yang patut disampaikan dengan dialog secara dingin dan lembut.

Habermas dan kontekstualisasi teologis

Ivan Illich, Paulo Freire Hingga Neil Postman banyak menjabarkan perihal pendidikan kritis. Peranan pendidikan kritis sebagai tandingan atas pembelajaran gaya bank, membuat peserta didik sebagai obyek sehingga dinamika dalam ruang belajar kurang begitu dialektis.

Pendidikan kritis yang dipengaruhi Mazhab Frankfurt dalam metodologinya, menarik untuk bisa mengkaji lebih dalam pemikiran Jurgen Habermas mendedah perihal teologis dan pendidikan kritis menghadapi pengaruh ekstremisme dan terorisme di Indonesia.

Karya awal Jurgen Habermas memiliki beberapa prinsip fundamental yaitu; Keadilan sosial, kesetaraan sosial, penciptaan dan pemeliharaan kepentingan umum (generalizable interest). Poin penting atas saripati itu, bisa mendedah secara dialektik terkait ideologi. Melalui proses dialektis untuk, menawarkan sebuah konklusi untuk kebijaksanaan umum dalam berkehidupan.

Munculnya beberapa pemikiran ideologi transnasional secara masif menawarkan diri untuk masuk di Indonesia. Penelaah secara kritis dan analitis, patut untuk didorong. Habermas menganggap pendidikan sebagai kekuatan politis dan ideologis untuk mengusung transformasi sosial.

Proses komunikatif adalah poinnya. Dengan penjabaran secara komunikatif, ada sebuah irisan menarik untuk bisa jadi bahan pemerkuat menuju moderat dalam bersikap dan bertindak. Proses komunikatif akan berhasil bila penguatan pada pendidikan kritis untuk mengubah transformasi sosial berjalan dengan baik.

Adanya Perpres No. 7 Tahun 2021, memiliki korelasi kuat dengan apa yang disampaikan oleh Habermas. Melalui bantuan pemuda dan tokoh masyarakat yang sudah dibekali dengan konstruk struktur pengetahuan kuat, untuk melakukan proses berwacana dan kritik ideologi, akan mempermudah dalam menguliti intrik-intrik berujung ekstremisme dan terorisme.

Intereligius teologis yang dikolaborasikan dengan proses komunikatif matang, akan berpengaruh pada proses penyelarasan keberagaman maksud ideologi setiap agama. Pancasila jadi interpretasi setiap pemahaman agama agar diketahui secara universal dan mudah diterima.

Agama bukanlah konsep yang tertutup, seharusnya bisa terbuka agar terjadi tukar pendapat dan gagasan untuk menentukan sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara. Bila saja, organisasi berbasis agama itu bersifat tertutup, makan proses dialektika dan musyawarah untuk menuju mufakat sulit menemukan jalan terang.

Berbicara mengenai ekstremisme juga harus dikaji secara mendalam. Bila demikian, ekstremisme riskan berisiko pada pendeskriditan kelompok tertentu, dan berakibat pada memotong kebebasan hak asasi manusia. Ekstrimisme tidak sama dengan orang yang memakai celana cingkrang atau beberapa stereotype yang ngawur.

Mungkin saja kita menjadi bagian dari ekstremisme itu sendiri. Menghalalkan untuk menghilangkan atau membunuh dengan alasan sebagai menjaga ideologi, bukankah itu sebuah kekolotan yang mengarah pada ekstremisme itu sendiri? Sekian.