H.O.S Tjokroaminoto adalah guru dari salah satu founding fathers Bangsa Indonesia, sekaligus Proklamator kemerdekaan Indonesia, yakni Ir. Soekarno. Tokoh sosialisme religius kelahiran Ponorogo, Jawa Timur tahun 1882, menempuh pendidikan pada tahun 1902 di Opleiding School Voor Inlandeche Ambtenaren (OSVIA) atau Sekolah Administrasi Pemerintahan di Magelang, yang mana lulusannya akan dipekerjakan menjadi pamong praja oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Pada tahun 1907-1910, Tjkoro juga mengikuti pendidikan di Burgerlijke Avondschool (sekolah teknik mesin), kemudian bekerja sebagai masinis pembantu ditempatkan di bagian kimia pada pabrik gula (1911-1912).

Sebagai orang yang mengenyam pendidikan di masa pemerintah kolonial Hindia Belanda. Tjokroaminoto turut berjasa dalam proses pendirinya organisasi pertama di Hindia Belanda, yakni Sarekat Dagang Islam (SDI), yang berubah nama menjadi Sarekat Islam (SI) pada 1912, adalah menjadi wadah politiknya dikalangan pedagang-pedagang islam untuk menentang bentuk penjajahan, sekaligus menjadikan Tjokroaminoto sebagai pemimpin dari organisasi tersebut.

Tokoh yang bernama lengkap Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminto dikenal sebagai orang yang mempunyai padangan tentang kemerdekaan bagi Hindia Belanda. Tidak hanya itu, Tjokro juga menaruh perhatian lebih pada masyarakat di Bumiputra, terutama mereka yang mempunyai kesamaan keyakinan, yakni sebagai pemeluk agama islam.

Keberanian H.O.S Tjokroaminoto dalam melakukan perlawanan secara terbuka kepada pemerintah Hindia Belanda, direspons oleh masyarakat jawa dengan paham milienarism. Hal ini tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat akan ramalan Raja Jayabaya (1134-1157), di mana terjadi benyak penindasan terhadap rakyat hingga membuat sebuah negeri porak poranda, maka akan muncul apa yang dinamai sebagai “Ratu Adil” atau Juru Selamat.

Lebih lanjut, H.O.S Tjokroaminoto melihat, bahwa perlu adanya sebuah gagasan dikalangan Bumiputra yang disebut zelfbestuur (1916), artinya bentuk “pemerintahan sendiri” yang lahir dari sebuah embrio pergerakan nasional, tentu saja hal ini sengaja diciptakan. Seperti yang diungkapkan Dedi Mulawarman (2015), dalam buku yang berjudul Jang Oetama Jejak dan Perjunagan H.O.S Tjokroaminoto. Dalam studinya tersebut, dikatakan bahwa untuk mewujudkan terciptanya zelfbestuur adalah dengan mengevaluasi kesadaran dan gerakan sosial, termasuk di dalamnya kesadaran menyejarah masa-masa sebelumnya.

Tjokroaminoto dan Hadji Agoes Salim, keduanya sangat gencar melakukan sosialisasi pada internal Sarekat Islam. Termasuk mempunyai andil dalam terbentuknya Jong Islamiten Bond pada tahun 1925, untuk memperkuat islam dalam pergerakan, (Dedi Mulawarman, 2015: 184).

Hal tentu relevan dengan peranan islam sebagai agama yang dominan pada masa itu, menjadikan rakyat mengadopsi nilai-nilai yang membentuk karakter dan semangat anti-kolonial. Artinya, nilai dan ajaran islam telah meresap dalam jiwa masyarakat pribumi, di mana mereka berusaha menghapus segala bentuk penindasan yang dilakukan pemerintah kolinial Hindia Belanda.

Gagasan Sosialisme Islam H.O.S Tjokroaminoto

Dalam buku yang berjudul Islam dan Sosialisme, dijelaskan bahwa sosialisme sebagai bentuk perlawanan terhadap penindasan pemerintah kolonial Belanda atas masyarakat Bumiputra. Menurut saya, pandangan sosialisme-islam Tjokro secara konsep mempunyai kesamaan dengan Marxisme yang digagas oleh Karl Marx. Akan tetapi, terdapat perbedaan dari asumsi-asumsi dasar di mana Tjokro mengedepankan kerangka religiusitas sebagai nilai utama (core values).

Menurut Dahlan (2002), dalam buku yang berjudul Sosialisme Suatu Jalan Ke Empat?, bahwa H.O.S Tjokroaminoto berpandangan bahwa cita-cita sosialis memiliki akar historis yang panjang hingga masa Nabi Muhammad masih hidup dulu, sehingga tepat baginya mengenalkan gagasan Sosialisme Religius (islam) di tengah penderitaan penjajahan kolonial Belanda.

Konsep religius dalam sosialisme islam juga diteruskan oleh Hatta. Melalui memoirnya, Hatta (1979) mengungkapkan bahwa semasa sekolah dulu baik di Padang hingga negeri Belanda. Hatta digambarakan sebagai orang yang sangat aktif mengikuti perkembangan surat kabar di tanah air, termasuk hal-hal yang mengenai H.O.S Tjokroaminoto dan Sarekat Islam. Hal ini kemudian mempengaruhi pandangan Hatta, di mana islam dapat menjadi jalan terciptanya masyarakat sosialis di negerinya.

De Ongkrooned Koning van Java atau Raja Jawa yang Tak Dinobatkan

Sang Raja Tanpa Mahkota merupakan panggilan akrab yang diberikan kompeni Belanda kepada H.O.S Tjokroaminoto. Hal ini tidak terlepas dari kecerdasaan dan semangat Tjokroaminoto dalam memperjuangkan nasib rakyat di Bumiputra, termasuk komitmennya menyuarakan kemerdekaan bangsanya diterima baik dikalangan masyarakat, hingga menempatkan dirinya sebagai tokoh yang dihormati di masanya.

Meskipun Guru Bangsa sudah tutup usia pada 1943, akan tetapi gagasannya masih relevan hingga saat ini, serta dibutuhkan oleh Indoneisa. Di mana masalah ketidakadilan sosial yang saat ini masih dirasakan sebagian rakyat Indonesia. Hal ini tentu saja adalah masalah yang harus segera terpecahkan secara bersama.

Sebagai negara dengan mayoritas penduduknya bergama Islam, sudah seharusnya bagi kita untuk meneladani semangat juang dan cara pandang Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminto mengenai sosialis religius itu sendiri. Ajaran akan islam (religius) saat ini dirasa mampu menjadi gerda terdepan dalam persoalan (diskusrus) ketidakadilan, ketimpangan, dan diskriminasi, termasuk menolak secara bijak praktek-praktek yang melanggengkan hal-hal tersebut.