Semalam, malam Senin, aku sangat terkejut dengan berita wafatnya Gus Solah, Kiai Haji Salahuddidn Wahid, jam 20.55, 02 Februari 2020. Sebelumnya, aku melihat berita tentang beliau di Facebook sedang sakit dan dirawat di rumah sakit, Jakarta. 

Tiba-tiba grupku, Forum Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara (ASDANU) di WhatsApp (WA), seseorang sedang mengabarkan tentang kematian beliau. Innalillahi wa inna ilahi rajiun, sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.

Telah berpulang ke Rahmatullah Rektor Unhasy (Universitas Hasyim Asyari) Dr. HC. Kh. Ir. Salahuddin Wahid. Al Fatihah...

Aku merasakan kesedihan atas meninggalnya tokoh bangsa ini. Aku mengingat kembali kenangan saat bertemu dengan beliau di pondok pesantren Tebuireng, Jombang, Januari 2010 lalu. 

Saat itu, aku bersama dosen Mark Woodward dan teman-teman dari CRCS (Center for Religious and Cross Cultural Studies) UGM, Yogyakarta, mengadakan ziarah ke makam Gus Dur, Kiai Haji Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI yang keempat, yang meninggal akhir Desember 2009.

Setelah kami berziarah ke makam Gus Dur, rombongan kami berkesempatan sowan bertemu Gus Solah dan istrinya di sana. Dosen kami pak Mark dan beberapa teman banyak berbincang masalah "Indonesia" dengan beliau. Beliau terlihat sangat tenang, dan sederhana. Gayanya khas kiai Nahdlatul Ulama (NU) banget yang sarungan.

Saat itu, kami semua bisa berfoto dengan beliau. Padahal, kami banyak yang diam-diam saja, tidak banyak ngobrol (bicara) bisa berfoto-foto selfie dengan beliau. Beliau sangat welcome terhadap rombongan kami saat itu.

Ketika foto-foto kemudian diupload dosen kami, pak Mark, dikomentari teman-teman yang tidak ikut ziarah sebagai sesuatu yang istimewa, dan beruntung bisa masuk ke rumah beliau, Gus Solah. Ceritanya, kami jadi santri sehari karena beliau di pondok ini.

Di tahun yang sama, 2010, aku bertemu lagi dengan beliau, Gus Solah. Beliau datang ketika CRCS, program studi Agama dan Lintas Budaya ini, mengadakan acara bedah buku dan launching laporan tahunan keberagamaan di Indonesia (jika tidak salah) di lantai lima Sekolah Pascasarjana, tempat yang menjadi auditorium UGM.

Seperti biasa, Gus Solah memakai sarung. Dan tamu-tamu yang datang banyak yang memakai sarung. Sewaktu beliau datang pun, sewaktu keluar dari lift, beliau dikelilingi oleh orang-orang yang bersarung. Kata teman yang duduk bersama denganku di bagian pendaftaran acara itu, begitulah karisma seorang cucu ulama besar, pengikutnya banyak.

Posting Status

Setelah melihat berita tentang kepergian Gus Solah tadi, aku memposting status di WA, berupa fotoku dan beliau ketika di Pesantren dulu. Aku kemudian menambahkan kata "Selamat Jalan Gus Solah".

Seorang teman, Nafisah di Magelang, mengatakan, sugeng kondor, Gus (selamat berpulang, Gus). Kami sama-sama merasa sedih dan kehilangan walaupun kami sama-sama secara pribadi tidak mengenal dekat sosok beliau. Mungkin, karena kami kehilangan tokoh kiai NU.

Di beberapa status di FB dan WA, banyak teman-temanku yang kehilangan sosok beliau, Gus Solah, dan mem-posting gambar atau dan tulisan berita kepergian beliau. Pun, di beberapa grupku di WA, pernyataan belasungkawa hadir dari mana-mana.

Kemudian, seorang teman Ulla, Siti Khoirotul Ula, yang lagi kuliah di UIN Sunan Ampel, Surabaya, mengomentari statusku; kak, pernah bertemu dengan Gus Solah, ya?

Aku jawab, iya.

Dia membalas chat-ku; beliau low profile, banget ya.

Aku jawab iya, sederhana banget dengan sarungnya dan kelihatan sabar sekali.

Ternyata, Ulla pernah bertemu dengan beliau juga di tahun 2011. Saat itu, dia mendapat tugas dari Kemenag. Dia ke pesantren Tebuireng, bertemu dengan Gus Solah di ndalemnya. Beliau sudah banyak bercerita dengan resolusi jihad. Padahal, waktu itu belum booming. Selain itu, belum juga bercerita tentang hari santri.

Menurut Ulla, Gus Solah juga membuka cerita tentang dirinya, ketika diminta oleh keluarganya ke pesantren Tebuireng. Beliau tiba-tiba (harus) menjadi kiai. Gus Solah pun mempersiapkan diri padahal beliau sedang bertugas di Komnas HAM.

Gus Solah ke pondok di tahun 2005, saat pencalonan dirinya sebagai calon wakil presiden bersama Wiranto gagal. Beliau pun belajar, menyelesaikan hafalan jus amma sebagai persiapan jadi imam salat.

Kata Ulla, Sekolah di SD, SMP, SMA, dan Institut Tehnologi Bandung (ITB). Walaupun dari sekolah umum, namun dasar pendidikan agama beliau sangat kuat, karena memamg dzuriyyah dari turunan kiai.

Dari chatting-an dengan Ulla, aku menyadari betapa low profile-nya beliau, baik dari segi penampilan dan kepribadian. Penampilan yang sarungan, dan kepribadian yang jadi diri sendiri, sewajarnya, dan apa adanya.

Aku kagum pada kepribadian beliau. Sebagai cucu pendiri NU, beliau tidak malu mengakui kekurangan dirinya. Tapi, terus mau belajar untuk memperbaiki kekurangan tadi. Gus Solah juga pribadi yang tidak berhenti untuk belajar agama. 

Sebuah postingan mengatakan; walau tidak pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren, dulu Gus Solah dan adiknya, Umar Wahid di sela-sela libur sekolahnya, pergi belajar di pesantren Denanyar.

Selamat jalan, Gus Solah. Semoga amal-ibadah, dan pengabdianmu, diterima oleh Allah SWT dan mendapat tempat terbaik di sisi-NYA. Amin.