Sosok ustaz kenamaan dari kalangan NU, K.H. Ahmad Muwafiq, atau lebih populer dengan panggilan Gus Muwafiq, menjadi sorotan. Hal ini bermula ketika Front Pembela Islam (FPI) melaporkan Kiai Gondrong tersebut ke Bareskrim Polri akibat tuduhan penodaan agama.

Narasi itu sebelumnya menggema ketika viral di media sosial sebuah gambar yang menunjukkan para aktivis 212 menghardik Gus Muwafiq melalui spanduk dalam reuni dua hari Desember kemarin.

Dugaan tersebut lantaran materi ceramah Gus Muwafiq yang menjelaskan sosok Nabi Muhammad ketika kecil. Pihak yang mempermasalahkan menudingnya menghina Nabi Muhammad, misalnya ketika mengatakan bahwa masa kecil Nabi tidak terlalu terurus oleh kakeknya.

Gus Muwafiq juga mengajak audiens untuk melihat sejarah kelahiran Nabi Muhammad sebagai peristiwa kelahiran anak manusia biasa; jangan terlalu kelihatan takjub, misalnya, dengan cerita bahwa ketika Nabi Muhammad lahir ada cahaya yang menembus langit.

Dalam konteks memahami sejarah agama, saya melihat Gus Muwafiq mengajak kita untuk melakukan desakralisasi teologis untuk melihat Nabi Muhammad. Artinya, kita perlu sedikit mereduksi aspek kejadian sakralisasi yang berlebihan, dan beralih melihat Nabi Muhammad sebagai sosok manusia biasa meski dengan batasan tertentu (Nabi Muhammad tetap orang yang paling sempurna, misalnya).

Ini bukan soal kebenaran klaim akidah keagamaan, tapi terkait memosisikan tokoh junjungan agar lebih mudah mengambil tauladan darinya. Hanya soal perbedaan perspektif dalam melihat sejarah tokoh idola.

Jika kisah tentang Nabi Muhammad senantiasa bertabur narasi kejadian supranatural, kita akan kehilangan gambaran pribadi Muhammad sebagai seorang manusia. Dengan mendudukkan beliau sebagai manusia, maka akan lebih mudah dicontoh kepribadiannya.

Hal ini selaras dengan salah prinsip tauhid yang mengatakan Al-a’rodlu basyariyah, Nabi Muhammad memiliki sifat dan perilaku kemanusiaan pada umumnya selagi tidak mengurangi derajatnya sebagai Nabi. Beliau tetap berdagang, menggembala kambing, tapi tetap terjaga dari dosa; curang (sifat ma’shum), misalnya.   

Sebagai komparasi, beberapa bulan kemarin saya baru membaca buku berjudul “The First Muslim: The Story of Muhammad” yang ditulis oleh Lesley Hazleton. (Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul “Pribadi Muhammad: Riwayat Hidup Sang Nabi dalam Bingkai Sejarah, Politik, Agama, dan Psikologi”, Alvbet: 2015).

Dalam buku tersebut, Hazelton mengajak pembaca untuk melihat Muhammad dari sudut pandang kesejarahan yang tetap terikat dengan konteks antropologis, sosiologis, dan psikologis sebagai manusia pribadi dan sosial. Perlu dicatat, penulisan ulang sejarah oleh Hazelton tetap mengacu pada sumber literasi utama yang sudah diakui, seperti karya Al-Thabari, Ibnu Khaldun, dan lain-lain.

Ceritanya juga hampir sama dengan keterangan Gus Muwafiq terkait hubungan Abdul Mutholib, kakek yang mengasuhnya, kurang peduli terhadap cucunya, Muhammad. Mungkin menyebut sumber referensi tertentu akan lebih elok ke depannya, meski berada forum di pengajian umum.

Sekarang rekan-rekan NU yang sibuk mencari dalil pembenaran ceramah Gus Muwafiq. (Sebagai tambahan, karena Gus Muwafiq sudah mengajak warga NU melakukan desakralisasi sejarah Nabi Muhammad, tampaknya kita perlu melakukan hal serupa memulainya dengan desakralisasi sosok Gus Muwafiq, tentu dalam kaitannya dengan asupan materi yang beliau berikan).

Hal yang menarik, paling tidak bagi saya, upaya desakralisasi sejarah agama Hazleton semacam itu menjadikan Nabi Muhammad makin pantas dikagumi sebagai sesama manusia dan kemudian diimani dibanding menerima cerita-cerita mukjizat yang tidak lazim.

Misalnya ketika pertama kali Nabi Muhammad mendapatkan wahyu melalui Malaikat Jibril di Gua Hira, tubuh Nabi Muhammad gemetar, dan kemudian lari ke rumah. Seperti umum diketahui kemudian, Nabi Muhammad meminta istrinya Khadijah untuk menyelimutinya.   

Perjumpaan manusia dengan Tuhan atau Malaikat akan kurang diterima bagi kaum rasional. Apalagi seandainya sikap Nabi Muhammad kemudian menunjukkan sikap kegembiraan yang diiringi oleh lantunan musik surgawi, maka dengan mudah orang yang tidak beriman menyebutnya sebagai fabel dengan ramuan agama.

Keengganan Nabi Muhammad untuk memercayai apa yang barusan dilihat di Gua Hira menunjukkan sisi manusiawi, apakah ini halusinasi atau semacamnya. Kecemasan dan kegelisahan Nabi Muhammad ketika menerima seruan keilahian untuk menjadi utusanNya bisa menjadi pembeda awal mula risalah kenabian bagi umat Islam sangat manusiawi, tidak dengan kelahiran kembali atau pengangkatan ke langit, menyebarangi dimensi luar, dan lain-lain.

Tidak ada legenda semacam itu dalam sejarah pertama kali wahyu turun. Sehingga, kata Hazleton, “tak ada hal yang bisa membuat kita mudah mencerca, untuk menuduh, keseluruhan kisahnya itu sebagai sebuah karangan, sebuah samaran untuk menutupi sesuatu yang bersifat duniawi seperti delusi atau ambisi pribadi.”

Ringkas kata, sebuah upaya desakralisasi kesejarahan agama, dengan koridor tertentu, tidak perlu dipermasalahkan, selama pembingkaian narasi historis tersebut makin menambah keyakinan dan menebalkan iman. Bukan sebaliknya, desakralisasi menjadikan kekaguman kepada Nabi Muhammad makin menurun.

Lantas, bagaimana dengan desakralisasi sejarah Gus Muwafiq tentang Maulid Nabi Muhammad? Apakah makin memperkuat citra baik terhadap Nabi Muhammad atau justru sebaliknya?

Silakan nilai sendiri! Berperasangka baik, apa yang Gus Muwafiq ingin utarakan adalah upaya memanusiakan Nabi Muhammad agar makin bertambah iman jemaah. Namun, pola komunikasi dakwah kiai asal Lamongan tersebut, bagi sebagian kalangan, dinilai terlalu kasar dalam menggambarkan Nabi Muhammad.

Terlepas dari semua itu, sebuah klarifikasi dan permohonan maaf untuk mengurangi potensi kegaduhan sosial yang dilakukan Gus Muwafiq tetap menjadi sikap yang bijak dan menjadi teladan yang baik.