Konsultan
6 bulan lalu · 572 view · 4 menit baca · Politik 93565_67445.jpg
santrigusdur.com

Gus Dur, Israel, dan Tasawuf Malamatiyah

Geo-mistik Yerusalem sedari dulu menjadi magnet yang menarik tiga penganut agama klan Ibrahim (Yahudi, Kristen, Islam) untuk berebut kedigdayaan. Pertarungan kepentingan yang berkait-kelindan dengan isu agama itu telah memakan tumbal nyawa, bercak darah, dan ketegangan stadium berat. Terlebih Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membunyikan pernyataan miring bahwa Yerusalem sebagai ibu kota Israel, lalu ditindak-lanjuti dengan proyeksi Kedutaan Besar AS yang baru di Yerusalem pada tanggal 14 Mei 2018 yang lalu.  

Dalam suasana iklim politik global yang kurang bersahabat, disertai paceklik politik Israel versus Palestina, maka indeks kebencian masyarakat Indonesia terhadap Israel (dan Yahudi) nampaknya akan terus meningkat. Pasang surut hubungan Indonesia dengan Israel tak bisa dilepaskan dari persoalan Palestina. Namun kebencian tak bertepi juga rasa-rasanya tak menyelesaikan masalah, apalagi sekadar demo berjilid-jilid, kecuali menjadi panggung bagi para politisi.

Memang upaya lobi multi-approach dari otoritas Tel Aviv untuk melirik zamrud khatulistiwa terus berlangsung, namun selalu tak laku, kendati hubungan dagang “bawah tanah” terus terjadi. Apa boleh buat, jangankan membuka hubungan diplomatik, turis Israel yang pengen ke negara mayoritas muslim terbesar di dunia ini pasti dikecam oleh kelompok masyarakat Indonesia.

Pokoknya, “diplomasi Indonesia-Israel” dalam segala manifestasinya tetap saja mengundang polemik tajam. Tengok saja kontroversi Gus Yahya Cholil Staquf, seorang tokoh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Anggota Dewan Pertimbangan Presiden saat menjadi pembicara dalam Acara AJC (American Jewish Committee) Global Forum di Yerusalem, Israel, Minggu (10 Juni 2018). 

Proposal perdamaian Israel-Palestina itu berat. Maka perlu berbagai saluran untuk mengatasinya, perang maupun diplomasi. Para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia saja menghadirkan dua lapis pejuang, yakni di meja perundingan dan angkat senjata di medan laga.

Bagi Israel, kenduri kedutaan AS di Yerusalem bak angin surga, namun sangat menyakitkan bagi Palestina. Kenyataan pahit itu kian menebalkan kabut krisis di Yerusalem. 

Dalam suasana kekacauan signal global seperti itu, lagi-lagi kita merindukan sosok Gus Dur sebagai jembatan lintas batas. Paradigma cinta Gus Dur dirindui, dan ikhtiar diplomatik untuk mengelola krisis Yerusalem terus dipercakapkan. 

Sengkarut persoalan Israel dengan Palestina, tak henti-hentinya menanti sebuah jawaban paripurna. Dus, memaknainya mestilah lebih dari sekadar soal komunikasi diplomatik, tapi juga memerlukan strategi kebudayaan.

Itulah mengapa eksperimentasi Gus Dur saat menjabat sebagai Presiden RI (ke-IV) pernah membikin keterkagetan massal terkait prospek hubungan bilateral Indonesia dengan Israel. Hal itu dilakukan bukan hanya untuk memudahkan mediasi dan komunikasi antara kedua belah pihak yang berseteru, tapi juga semacam rekonsiliasi emosional antar ‘anak cucu teologis’ moyang Ibrahim agar saling jumpa muka dan jumpa jiwa. Sebagai ulama besar bergenre sufi, Gus Dur tampak menerapkan akhlak “perang tanpa bala tentara, dan menang tanpa menyakiti”.

Dengan menjebol dinding psikologis dengan Israel, kita bisa menghapus musuh-musuh imajiner yang mengendap di kepala. Mengutamakan dialog ketimbang menabuh genderang perang guna mencegah jatuhnya korban. Lalu menyalakan cahaya harapan lewat perundingan. 

Negara-negara berbasis muslim seperti Mesir, Yordania, Turki pun membuka kerjasama dengan Israel. Indonesia punya nilai plus, yakni sebagai negara muslim terbesar di dunia yang berhaluan moderat dan pro-demokrasi. Kita juga berposisi strategis sebagai anggota Gerakan Non-Blok (GNB), OKI, ASEAN, Dewan HAM PBB, Dewan Keamanan PBB, dan punya reputasi yang mentereng sebagai comblang resolusi konflik di sejumlah negara.

Namun ijtihad revolusioner cucu Kyai Hasyim Asy’ari itu bukan tanpa kendala. Sebagian masyarakat Indonesia terlanjur su’udzon pada Gus Dur kala itu. Beliau pun dituduh oleh faksi garis keras di tanah air sebagai sekutu Israel, antek Yahudi, hingga Zionis berwajah Melayu. 

Padahal, manuver diplomatik itu justru sebagai wasilah pembuka jalan untuk membantu agenda pembebasan Palestina dalam kerangka two states solution (solusi dua negara), yakni terwujudnya negara Palestina dan Israel agar bisa hidup berdampingan secara damai (peaceful coexistence).

Di sisi lain, pesona ‘kecerdasan’ kaum Yahudi yang kesohor, barangkali itu pula yang menginspirasi Gus Dur untuk membatinkan khazanah pemikiran Yahudi, semacam infiltrasi spiritual. Maka, sewaktu sewaktu ‘mondok kilat’ di Baghdad - Irak, Gus Dur bertemu kawan kontemplasi intelektual, yakni Ramin seorang pemikir progresif berdarah Yahudi di Irak. 

Gus Dur menyerap energi intelektualitas Ramin seputar ekonomi, politik, budaya dan lobi internasional Yahudi, hingga mistisisme Yahudi, Kabbala. Mungkin bagi ‘kaum fikih’, lakon Gus Dur dianggap rawan pengeroposan aqidah, tapi bagi ‘kaum tasawuf’, hal ini justru seni tingkat tinggi, sekaligus komunikasi dakwah ‘membina musuh jadi kawan’, didasari niat yang tulus, dan penuh cinta.

Mari kita melacak jejak olah otak, olah hati, dan olah rasa Gus Dur sebagai pemimpin berkarakter kuat. Begawan ini selalu siap untuk dicela (terutama celaan dari politisi oportunistik yang mengantagoniskan Gus Dur lewat politisasi isu Israel). Demi kepentingan rakyat yang lebih luas dan bersifat jangka panjang, Gus Dur lebih memilih ‘jalan pencelaan’, ketimbang ‘jalan popular’.

Dalam perspektif sufi, inilah perilaku khas tasawuf Malamatiyah (celaan), yakni ekspresi komunikasi batiniyah dengan Tuhan secara sunyi, mengebor sumur hipokrisi, cenderung menyembunyikan kebaikan dari khalayak ramai guna menghindari kesombongan, pantang merasa paling suci, pantang mengkafirkan orang lain (takfiri).

Nalar dan spirit tasawuf Malamatiyah ajaran Hamdun Al-Qashshar ini, ikut mempengaruhi para sufi untuk menggapai hakikat spiritual tanpa harus cari muka ke penduduk bumi (riya). Di sisi lain, penempuh jalan pedang ini sungguh menikmati hinaan dari orang lain, kendati punya ‘senjata’ untuk mencabut nyawa para penghina, tapi yang diwartakan selalu cinta. Berangkat dari kesadaran cinta itulah, sekeping jati diri Gus Dur yang gagal dipahami sejumlah politisi eksploitator itu.

Perjuangan panjang untuk membebaskan Palestina sebagai titipan Gus Dur adalah PR generasi milenial atas nama humanisme universal.

Dus, yang paling mungkin memang ‘cukup’ hubungan dagang saja antar Indonesia-Israel “diam-diam”. Sebab pertimbangan kegaduhan sosial-politik dalam negeri yang cepat ‘panas’ tak bisa diabaikan. Sungguh berat kalau melawan arus, cukup Gus Dur saja. Kalau sudah mendapat hidayah, baru kita menjalankan tirakat malamatiyah. Gitu aja koq repot.

Kita sebagai bangsa pilihan bisa memungut “sampah” Israel, sebagaimana Jalaluddin Rumi berkata “Di tengah tumpukan sampah dia (Sufi sejati) dapat melihat intisarinya”. Indonesia adalah kunci. Tasawuf sejatinya adalah sumber rahasia. Dan Gusdurisme sebagai jurus.