Keindahan Pulau Flores selama ini hanya dikenal sebagai surganya para wisatawan. Tidak banyak yang tahu bahwa Pulau Flores juga menjadi surga bagi para pecinta perdamaian dan kemanusiaan.

Flores, surga di bawah matahari yang diciptakan Tuhan di dunia, alamnya rupawan dan masyarakatnya penuh kasih. Di pulau ini, ada mantan presiden yang begitu dicintai. Beliau adalah Gus Dur.

Bagi masyarakat Flores, Gus Dur bukan sekadar mantan presiden, tetapi juga tokoh yang menjadi panutan dalam kehidupan beragama. Pembelaannya terhadap kaum minoritas belum tergantikan sampai saat ini. Ada kesamaan antara Gus Dur dengan orang Flores. Mereka sama-sama mencintai perdamaian dan menjunjung tinggi perbedaan.  

Kecintaan Gus Dur akan perdamaian, toleransi, dan pembelaannya terhadap kaum minoritas begitu membekas di hati saudara-saudara kita di Pulau Flores. Di banyak tempat di Pulau Flores yang penulis kunjungi, nama Gus Dur selalu disebut saat berdiskusi mengenai perdamaian dan toleransi antarumat beragama.

Octavianus Aryo Adityo Moa, aktivis kemanusiaan di Maumere, menyebut bahwa Gus Dur merupakan tokoh pemersatu sekaligus sebagai seorang ‘Katolik’. Gus Dur memberikan harapan baru soal kebhinekaan dalam segala sendi kehidupan, terutama dalam keagamaan. Keyakinan Gus Dur tentang Tuhan yang universal menjadikan umat minoritas nyaman berada di tengah kaum mayoritas. Gus Dur pemimpin kebapakan dalam rumah keragaman.

Di mata tokoh perempuan Flores asal Adonara, Maria Loreta, Gus Dur dianggap sebagai seorang tokoh muslim yang jujur, penghormatannya kepada non muslim tidak basa-basi, ucapan dan tindakannya tegak lurus. Sosok seperti Gus Dur sangat dibutuhkan dalam kehidupan beragama di Indonesia di mana kehidupan beragama saat ini didominasi oleh kebencian dan monopoli kebenaran oleh segelintir kelompok.

Tegaknya kebangsaan dan kemanusiaan di Indonesia menurut Gus Dur bisa terwujud apabila fondasi dalam kehidupan bermasyarakat kokoh. Salah satu fondasi yang menjadi perhatian Gus Dur adalah pluralisme dan kebhinekaan. Gus Dur menyadari Indonesia dibangun di atas keanekaragaman agama, suku, dan bahasa.

Keyakinan Gus Dur tersebut diamini oleh Van Paji Pesa, aktivis di Caritas Keuskupan Maumere. Ia menyebut Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme. Pembelaannya terhadap mereka yang martabat kemanusiaannya direndahkan, disakiti, dan ditelantarkan, sejalan dengan ajaran Katolik yang mengedepankan cinta kasih tanpa melihat asal usul, suku, dan warna kulit.   

Salah satu tokoh masyarakat di Kabupaten Sikka, Rudolfus Paskalis Dhika, mendeskripsikan Gus Dur dalam satu kata ‘kemanusiaan’. Menurutnya, Gus Dur lewat laku politiknya berorientasi pada eksistensi manusia secara utuh. Bagi kelompok minoritas, beliau menjadi poros harapan yang melahirkan optimisme bahwa kaum minoritas juga sebagai anak kandung NKRI yang memiliki hak dan kewajiban kemanusiaan yang sama.

Dari Pulau Lembata, aktivis muda Ben Assan menganggap kehidupan dan kepemimpinan Gus Dur tidak hanya ditopang oleh raga dan intelektual belaka, tetapi menggabungkan spiritual dan afeksi sehingga menjadi pribadi dan pemimpin yang humanis. Baginya, Gus Dur adalah warga NKRI yang telah lulus pemaknaannya tentang Indonesia dan beliau adalah Bhineka Tunggal Ika yang pernah hidup.

Gus Dur dan masyarakat Flores memiliki rasa keindonesiaan yang sangat kuat. Keduanya menjunjung tinggi persaudaraan dan penghormatan apa pun keyakinan dan kepercayaannya. Gus Dur telah mempraktikkan subtansi nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin, dan masyarakat Flores mengajarkan kepada kita bahwa cinta kasih adalah jalan hidup untuk meraih kedamaian.

Toleransi di Pulau Flores memang sudah ada sejak ratusan tahun silam, jauh sebelum Gus Dur lahir. Tetapi, apa yang dilakukan beliau untuk mewujudkan kehidupan beragama yang saling menyanyangi dan melindungi sejalan dengan keyakinan masyarakat di Pulau Flores bahwa toleransi adalah budaya agung yang harus dipertahankan sampai kapan pun. Gitu aja kok repot!