Kecerdasan Gus Dur dalam dunia literasi tidak lahir begitu saja. Diceritakan oleh adik Gus Dur, K.H Sholahudin Wahid (Gus Sholah), pernah Gus Dur ketika tengah terbaring sakit sembari tidur di kasur, mendikte Gus Sholah untuk menulis sebuah artikel. Dengan santainya Gus Dur dalam kondisi lemah mampu memproduksi sebuah artikel berkualitas yang dengan mudahnya pasti akan dimuat di media massa.

Lahir sebagai seorang cucu dari seorang ulama besar nasional Hadratusyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri NU, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur merupakan sosok yang senantiasa menjadi sorotan sejak masa belianya. Gus Dur yang awalnya dinamai oleh ayahnya sebagai Abdurrahman Ad-Dakhil ini memang sedari muda sudah terkenal akan bacaannya yang sedemikan luas.

Ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim yang merupakan pahlawan nasional, sekaligus Menteri Agama pertama Republik Indonesia ini setidaknya banyak berpengaruh terhadap kepribadian, karakter maupun tradisi intelektualisme dalam diri Gus Dur.  

Gus Dur yang ditinggal ayahnya sejak usia dua belas tahun seakan lahir membawa tanggung jawab nama besar trah NU yang harus ia besarkan. Ayahnya sejak kecil telah memperkenalkan Gus Dur dengan tradisi bacaan yang luas dan heterogen di perpustakaan yang bejibun penuh buku di rumahnya. 

Berbagai macam buku dan majalah yang dibiarkan berserakan di rumah secara tidak langsung merupakan pendidikan dari ayahnya agar Gus Dur dapat bersentuhan dengan bahan bacaan yang variatif dan kosmopolitan. 

Greg Barton salah seorang penulis kenamaan Biografi tentang Gus Dur (The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid), di mana karya tersebut cukup populer (international bestseller) – bahkan hingga hari ini mengalami cetak berulang kali, telah menyuguhkan perspektif yang cukup otoritatif dan objektif perihal Gus Dur. 

Baca Juga: Rindu Gus Dur

Tentu tak menafikan sebuah kecerdasaan beraroma mistisisme – yang dalam dunia tasawuf dikenal sebagai ilmu laduni – sejatinya sosok Gus Dur memang memiliki kecerdasan bawaan (given) dan ingatan yang tajam serta analisis yang mendalam

Pada saat menjadi santri di Jombang, ingatan yang cukup tajam membuat kitab-kitab syair dan tata Bahasa Arab dilahap dan dihafalnya tanpa memberikan banyak tantangan. 

Dalam bukunya, Greg Barton menceritakan bahwa ketika mulai tumbuh menjadi remaja, Gus Dur mulai bersentuhan secara serius dengan dua macam dunia bacaan. Yaitu tentang pikiran sosialisme yang berkembang di Eropa dan novel-novel besar Inggris, Prancis serta Rusia. Tak heran jika di kemudian hari mantan presiden yang memiliki selera humor tinggi ini secara fasih setidaknya menguasai empat bahasa.

Kegilaannya pada dunia literasi ditopang dengan kecerdasannya memang menjadi sesuatu yang istimewa pada diri Gus Dur. Saat masih remaja dan hijrah ke Yogyakarta, Gus Dur dapat menemukan banyak buku-buku yang menarik mulai dari seperti filsafat dan ide-ide sosialisme. 

Termasuk rasa antusiasmenya terhadap karya-karya sastra Barat, semua jenis bacaan tersebut secara intens ia baca bertahun-tahun meski saat itu dirinya masih nyantri.

Di Yogyakarta, kemampuan ragam bacaan dan pemikirannya berkembang pesat. Kegandrungannya pada toko-toko buku bekas di Kota Pelajar itu membuat berkah pada diri Gus Dur hingga banyak buku ia lahap. 

Saat nyantri di Pesantren Tegalrejo, Magelang dibawah asuhan Kyai Khudhori, Gus Dur menyelesaikan pendidikannya selama dua tahun – di mana pada umumnya santri lain menyelesaikan selama emapt tahun. Bahkan Gus Dur pada waktu itu lebih banyak menghabiskan waktunya di luar kelas dengan membaca buku-buku Barat.

Pada tahun 1990-an, sebagaimana dikutip oleh Greg Barton, bahwa Greg Fealy yang pernah mengunjungi Pesantren Denanyar Jombang melihat barang-barang berharga yang merupakan lemari tua milik Gus Dur. Di mana lemari tersebut berisi penuh buku-buku asing yang dibaca Gus Dur selama 20 tahun tinggal di pesantren.

Tahun 1964, di Kairo, Mesir merupakan salah satu kota di mana pengembaraan intelektual dan pencarian jati diri seorang Gus Dur berkembang. Gus Dur sendiri juga sempat terpukau dengan dunia pergerakan Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir sedang mengalami kepopuleran di dunia Islam pada saat itu. Bahkan Aziz Bisri, adik laki-laki dari Nyai Solichah (Ibu Gus Dur) pernah meminta Gus Dur untuk mendirikan cabang IM di Indonesia.

Beasiswa yang ia dapat di Universitas Al-Azhar tampaknya agak membuat kecewa ketika Gus Dur mulai menjalani perkuliahan di salah satu kampus tertua di dunia tersebut. Perkuliahan dengan pelajaran pengetahuan dasar Bahasa Arab yang diwajibkan nampak membuat Gus Dur bosan. 

Oleh karenanya, Gus Dur hampir selama setahun tidak mengikuti perkuliahan dan lebih menyibukkan diri dengan petualangan intelektual di perpustakaan-perpustakaan besar di Kairo.

Gus Dur menemukan banyak sumber bacaan yang selama ini jarang ia temukan di Indonesia. Di mana buku-buku tersebut seakan menjadi penawar dahaga rasa hausnya yang besar akan studi-studi pemikiran Islam dan Barat. 

Gus Dur menemukan kebebasan dan keleluasaan buku bacaan yang ia sukai, di mana karya-karya seperti William Faulkner, Ernest Hemingway, Kafka hingga Tolstoy yang mungkin sulit ia temui semasa di pesantren.

Kegiatan menulis pun telah Gus Dur lakoni termasuk menulis secara aktif di majalah yang diproduksi oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Mesir. Mulai dari politik, keislaman, dan modernitas ia tulis sebagai gagasan-gagasan baru yang ingin Gus Dur tawarkan pada dunia Islam terkhusus Indonesia.

Ketika prestasinya kurang diharapkan saat di Kampus Al-Azhar, Gus Dur malah mendapatkan tawaran beasiswa di Baghdad, Irak. Di Universitas Baghdad, Gus Dur menetapkan kedisiplinan lebih dibanding ketika di Mesir. 

Meski demikian, ia masih punya waktu untuk menonton film dan membaca secara teratur bahkan hingga larut malam dini hari yang sesekali membuat ia mengantuk saat kuliah.

Semasa di Baghdad, ruh kecendikiawanan Gus Dur juga makin terbentuk. Gus Dur juga lebih banyak mempunyai waktu untuk membaca serta masih senantiasa aktif menulis mengenai Islam di Indonesia. 

Kemampuan dan pengalaman menulis Gus Dur yang mumpuni saat di Mesir membuat dirinya juga tetap aktif memproduksi tulisan di Baghdad. Kegiatan menulis esai dan berita masih ia jalani salah satunya dengan bekerja di media cetak Ar-Rahmadani di Baghdad.

Dari kisah tersebut, yang sebagain besar dipaparkan dalam karya The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid tampaknya Greg Barton mengajak kita semua untuk menyelami konstruk intelektualisme seorang Gus Dur lebih natural dan apa adanya tanpa embel-embel keilmuan yang bersifat sufistik (laduni).

Dari Gus Dur kita belajar kembali bahwa kecerdasan literasi yang kemudian menjadi embrio intelektulalisme seseorang merupakan hasil “kegilaan” untuk menaruh minat dan tradisi baca yang tinggi pada segala hal. Sebagaimana adagium lama bahwa seorang penulis yang baik pastilah ia adalah pembaca yang baik (banyak) pula. Dan Gus Dur membuktikan itu.