Wiraswasta
3 tahun lalu · 694 view · 4 menit baca · Budaya 4530119435_24f67ec508_z.jpg

Gus Dur dan Jalan Kebudayaan

Membahas  Gus Dur tentu tak pernah ada habisnya, baik tentang pemikirannya yang tersebar di berbagai buku dan kolom,  juga tentang  pribadinya yang hangat dan sederhana. Bahkan berbagai mitos kerap dilekatkan terhadap sosok Gus Dur, seperti umumnya terhadap tokoh-tokoh besar yang lain.

Spektrum pemikiran Gus Dur yang sungguh sangat luas, kadang menyulitkan para penulis untuk menulis tentangnya secara utuh. Sebab, sepertinya Gus Dur bisa memahami hampir semua hal dengan sangat mendalam. Mulai dari soal agama, negara, politik, budaya, kesenian, demokrasi, HAM dan juga sepakbola.

Tapi di atas semua itu, yang menonjol dari Gus Dur menurut saya adalah keberanian dan konsistensinya dalam membela korban yang lemah tanpa memandang suku, agama, ras atau apapun. Jadi, hampir semua pemikiran dan sikap Gus Dur dalam pembelaannya itu, berangkat dari persepsi  korban kesewenang-wenangan orang lain atau penguasa.

Saya masih sangat muda, mungkin lebih tepat remaja saat mulai merasa asik dan rajin mengikuti pemikiran-pemikiran Gus Dur. Meski beberapa hal belum benar-benar saya pahami maksudnya, namun pemikiran Gus Dur mampu menyentak ruang kesadaran diri.

Saya teramat kagum dengan keberaniannya menyuarakan sesuatu yang ia yakini. Padahal saat itu masih jamannya rezim makan orang. Juga bagaimana ia berani melakukan terobosan pemikiran yang sebelumnya tak pernah terbayangkan oleh pemikir lain.

Sedikit banyak, pemikiran-pemikiran Gus Dur mampu menjawab kegelisahan saya yang tak pernah terpuaskan oleh para guru maupun lingkungan di sekitar saya saat itu. Gus Dur seperti oase di tengah dahaga akan pikiran-pikiran yang segar dan otentik.

Saya masih ingat saat heboh kasus Monitor di tahun 90an, ketika Arswendo dipenjarakan karena membuat angket tentang tokoh yang dikagumi oleh para pembaca Monitor. Hasil angket itu menobatkan Soeharto berada di nomor satu sebagai tokoh yang paling dikagumi. Sementara itu, Nabi Muhammad menempati nomor sebelas (bahkan di bawah Arswendo yang menempati nomor sepuluh, kalau tak salah).

Di tengah kemaraham umat Islam saat itu (jujur saya sendiri tidak paham kenapa umat Islam marah), Gus Dur tampil dengan “membela” Arswendo. Meski menganggap Arswendo kurang sensitif, tapi Gus Dur juga mengkritik kemarahan umat Islam yang tidak proporsional. Saat itu saya yang baru lulus SMA juga berpikir, kenapa harus marah? Kalau faktanya yang ikut angket pilihannya seperti itu, kok marahnya sama yang bikin angket?

Buat saya saat itu, mestinya hasil dari survey tersebut cukup jadi bahan intropeksi saja. Lagipula, kekaguman kok dipaksa?

Beranjak dewasa, saya semakin rajin mengikuti berbagai pemikiran Gus Dur. Dari mulai isu pluralisme, HAM, penolakan formalisasi dan politisasi agama. Khas pemikiran Gus Dur tentu saja selalu disertai dengan argumetasi yang kokoh, baik secara logika maupun secara kaidah ilmu keagamaan itu sendiri.

Misalnya, dengan gamblang Gus Dur menunjukkan bahwa tidak ada sistem Islami yang baku dalam hal pengelolaan negara. Salah satu poin penting dari sistem negara adalah suksesi kepemimpinan. Empat sahabat pemimpin Islam awal paska nabi, berbeda-beda cara pemilihannya. Ini jelas artinya, bahwa Islam tidak mengatur tentang formalisasi agama dalam sebuah negara.

Gus Dur juga menyitir ayat yang sering dipakai mereka, yaitu: Masuklah kalian ke dalam Islam (kedamaian) secara penuh.” Ayat ini kemudian popular dan dijadikan jargon “Islam Kaffah”, yang hanya dikenal dalam komunitas muslim Indonesia yang tidak akrab dengan kaidah gramatikal Arab.

Menurut Gus Dur, itu terjadi sebab kata “al-silmi” diterjemahkan menjadi kata Islam (sebuah nama agama), padahal kata al-silmi di sini mengandung arti: kedamaian (sebuah kata sifat). Bagi Gus Dur, ayat tersebut mengajak kita untuk merengkuh kedamaian secara menyeluruh (kaffah).

Demikianlah, terbukti  menulis tentang Gus Dur memang tak ada habisnya. Seperti tulisan saya ini, awalnya mau menulis tentang Gus Dur dari perspektif kerja kebudayaan, tapi malah sampai kemana-mana.

Gus Dur telah menginspirasi banyak sekali pemikir dan intelektual muda, utamanya anak-anak muda NU. Namun, sedikit yang menyadari atau mengikuti jejak beliau dalam jalan kebudayaan. Padahal menurut saya, Gus Dur itu seperti jembatan yang  menghubungkan antara sistem kebudayaan masyarakat kita (yang sudah ada sejak lama), dengan arus modernitas yang membawa pengaruh budaya dari luar, yang seringkali membuat masyarakat menjadi gagap dan bingung  dalam merespon itu semua.

Dalam sebuah kolomnya, Gus Dur pernah menuliskan bahwa ada penelitian yang dipimpin oleh Dr. Mochtar Buchori dari LIPI, tentang empat belas sistem budaya di negeri kita. Hasilnya sangat menarik, bahwa penting sekali untuk terus menerapkan sistem-sistem budaya daerah di saat sistem modern belum sepenuhnya bisa diterapkan.

Banyak nilai yang baik dalam budaya daerah kita. Misalnya sistem budaya Ngada di Flores Timur, yang itu bisa berfungsi sebagai substitusi bagi sistem hukum nasional di saat lembaga pengadilan belum ada atau belum berdiri di sana.

Penelitian itu menunjukkan bahwa sistem budaya daerah kita mempunyai kemampuan hidup yang luar biasa di tengah arus modernisasi yang menggempur masyarakat demikian pesatnya. Maka dari itu, Gus Dur meyakini pentingnya memanfaatkan sistem budaya di masing-masing daerah, sambil menunggu kesiapan masyarakat dalam menghadapi modernitas dan mengelola arus perubahan. Ia percaya bahwa dengan jalan ini, dampak negatif dari arus modernisasi bisa sedikit teratasi.

Dengan begitu, ada banyak reaksi atau cara dalam merespon proses modernisasi. Ada yang memakai warisan sistem budaya daerah; ada yang mengekspresikannya dalam bentuk tradisi yang tidak tersistemkan; ada yang sementara dan ada pula yang permanen. Tapi pada intinya, kita tidak harus menerima bulat-bulat apa yang sudah dirumuskan “orang lain” untuk diri kita sendiri.

Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan pribumisasi nilai-nilai dalam bentuknya yang sangat beragam. Seperti sebagian kita menerima begitu saja teknologi dan keterampilan dari bangsa lain, lantas dibuatlah sistem pendidikan formal untuk melahirkan tenaga siap pakai bagi industri yang mereka cipatakan. Namun di sisi lain, masih ada juga jalur  informal yang tidak menelan bulat-bulat semua yang datang dari luar tersebut.

Jika jalur formal itu melibatkan dan bicara tentang struktur negara dengan segala macam urusan birokrasinya, jalur non formal adalah sebuah  kerja kebudayaan yang, menurut Gus Dur dan juga sering dikutip teman sekaligus guru saya, memang harus melibatkan sikap ikhlas dan sabar.

Dan masih menurut Gus Dur, akan sangat menarik jika kedua jalur tersebut, yang memang memiliki gaya dan karakter komunikasi berbeda,  bisa dipergunakan secara bersama-sama dan secara transparan untuk kepentingan masyarakat seluas-luasnya.

Artikel Terkait