1 bulan lalu · 141 view · 3 min baca menit baca · Budaya 98204_39242.jpg
dream.co.id

Gus Dur dan Aliran Garis Lucu Lintas Agama

Warganet khususnya pengguna Twitter tentu sudah tidak asing dengan NU Garis Lucu (@NUgarislucu). Sebuah akun yang selalu mengisi timeline kita dengan kicauan bernada kritis yang dibungkus dengan canda, atau sekadar canda dengan gaya khas santrinya.

Jenaka namun cerdas, mungkin itu persona yang bisa ditangkap dari NU Garis Lucu, sehingga bisa dimaklumi ketika kicauannya di-retweet hingga ribuan kali oleh ribuan followers-nya, karena dianggap ringan tetapi berisi.

Oleh karena itu, menjadi tidak sulit menemukan kicauan akun yang menjadikan karikatur Gus Dur sebagai foto profilnya ini. Gus Dur menjadi simbol yang dianggap mampu dengan efektif merepresentasikan nilai dan semangat yang dibawanya kepada warganet.

Nilai religi yang dibalut semangat nasionalisme dan toleransi, sesuatu yang diperjuangkan oleh Gus Dur sepanjang hidupnya, juga menjadi benang merah perjuangan NU Garis Lucu dalam setiap kicauannya di Twitter.

Menjadi menarik ketika ternyata NU Garis Lucu kemudian menginspirasi beberapa akun untuk juga mengikuti jejaknya dengan menyatakan diri sebagai golongan garis lucu. Bertambah menarik ketika beberapa akun tersebut memiliki latar belakang agama yang berbeda.

Beberapa waktu belakangan, aliran garis lucu dari lima agama lain muncul dan ikut mewarnai Twitter. Ada Katolik (@KatolikG), Konghucu (@KonghucuGL), Protestan (@ProtestanGL, Hindu (@GlHindu), serta Buddha (@BuddhisGL).


Selain Nahdlatul Ulama dengan NU Garis Lucu-nya, Islam setidaknya terwakili oleh salah satu organisasi masyarakat Islam terbesar lainnya, yaitu Muhammadiyah dengan Muhammadiyah Garis Lucu-nya (@MuhammadiyahGL).

Dari tujuh akun di atas, NU Garis Lucu adalah yang “tertua” di antara akun lainnya. Sebagai yang “tertua” di antara akun lainnya, ia kemudian menjelma menjadi sosok pelopor serta trendsetter bagi golongan garis lucu yang ada.

Indikasi tersebut bisa kita temukan dalam sebagian besar aktivitas mereka—akun garis lucu lintas agama—di Twitter, yang tidak pernah lupa untuk me-mention NU Garis Lucu dalam setiap kicauannya.

Kemunculan fenomena ini tentu saja bisa menjadi angin segar bagi kehidupan beragama di Indonesia. Walaupun kita tahu bahwa masyarakat Indonesia menganut lebih dari enam agama saja. Tetapi setidaknya kerukunan kehidupan beragama bisa terwakili dari sini.

Sebagai pelopor serta trendsetter, NU Garis Lucu tidak hanya berhasil memopulerkan istilah "garis lucu"-nya saja, tetapi sampai juga kepada penyebaran nilai dan semangat perjuangannya. Nilai religi, semangat nasionalisme, dan toleransi ikut terangkat ke permukaan.

Hal tersebut terjadi karena nilai dan semangat tersebut pada akhirnya juga diduplikasi oleh akun garis lucu lintas agama, menjadi nilai dan semangat yang mereka sebarkan dalam setiap kicauannya. Itu menjadi semacam keharusan ketika mendaku dirinya sebagai golongan garis lucu.

Melalui golongan garis lucu, ajaran agama yang bersifat kaku dan terkesan mengeksklusifkan pandangan menjadi lebih sulit untuk menyebarluaskan doktrinnya karena harus berhadapan dengan ajaran agama yang bersifaf luwes, inklusif, dan yang paling penting adalah lucu.

Lucu menjadi indikator penting untuk mengantisipasi keengganan warganet ikut berpartisipasi dalam dialog dan penyebaran nilai religi yang bersifat luwes dan inklusif dalam bingkai semangat nasionalisme dan toleransi.

Karena humor nyatanya dapat mengurangi ketegangan sebagai akibat dikedepankannya emosi. Persis karakter dari sosok Gus Dur, sosok panutan dari golongan garis lucu, yang selalu berusaha untuk menghindari ketegangan dengan humor.


Sosok yang selalu menyampaikan pendapat, nasihat, atau apa pun dengan ringan namun tetap berisi. Sosok yang selalu membawa pesan nasionalisme dan toleransi berdasarkan ajaran agama yang luwes dan inklusif.

Sosok yang lekat dengan tagline “gitu aja kok repot”. Kalimat sederhana yang mengajarkan kita untuk selalu optimis dalam menghadapi beragam persoalan. Karena hakikatnya solusi adalah untuk mempermudah, dan bukan sebaliknya, membuat repot.

Semoga dengan kemunculan beberapa akun garis lucu lintas agama, nilai dan semangat yang selalu diperjuangkan oleh Gus Dur sepanjang hidupnya bisa terus terawat baik dan selalu hidup menerangi kehidupan beragama pada khususnya, serta kehidupan masyarakat luas di Indonesia pada umumnya.

Karena semuanya tidak lain dan tidak bukan adalah demi merawat keutuhan bangsa dan negara yang plural. Satu potensi besar untuk maju, tetapi di sisi lain juga menjadi ancaman kemunduran, ketika kita tidak mampu mengelola perbedaan yang ada dengan baik.

Artikel Terkait