Guru sejatinya adalah manusia biasa, yang secara kebetulan atau tidak terpilih untuk memberikan pengajaran kepada kita. Guru idealnya merupakan seseorang yang akan dicontoh oleh muridnya.

Kepribadian guru beragam. Ada yang suka melucu, atau memang tingkahnya dari sananya lucu. Ada yang disiplin dan tegas. Dan ada yang suka bercerita. Aneka ragam kepribadian guru terbentuk dari pengalaman dan pengetahuannya.

Kita tak bisa mengonfrontasi guru dengan cara tak berbudi, yang mulai banyak terlihat kini. Entah karena didikan orang tua atau lainnya. Tak setuju dengan pendapat guru langsung berkata lantang tak setuju. Menyanggah guru untuk seakan membuktikan bahwa dirinya hebat. Mungkin ada yang salah akan hal itu.

Bisa jadi guru belum memberikan keteladanan kepada muridnya. Bukan saya berpikir seperti itu tanpa sebab. Ketika di sekolah saya berusaha untuk mendengarkan guru dengan saksama dan penuh perhatian tatkala guru menerangkan pelajaran.

Saya selalu berusaha untuk menyukai guru dari setiap mata pelajaran yang diberikan. Meskipun nilai saya remuk pun saya tetap berusaha berpikir positif. Tetapi sebagaimana pun kita berusaha, tetap ada guru yang tak disukai, dan ini wajar.

Saya masih ingat pelajaran yang tidak saya sukai. Bukan karena pelajarannya, tetapi karena gurunya. Dan hal ini yang perlu saya tekankan. Bahwa guru tak perlu berusaha disukai murid. Cukup melakukan pengajaran yang baik dan sesuai dengan muridnya.

Sebab tak semua murid bisa diperlakukan sama. Tak setiap murid bersedia memperhatikan, tanpa adanya perhatian. Tak semua murid menyukai hal yang bersifat memaksa. Jangan memaksa murid pada hal yang tidak ia inginkan.

Murid tak memperhatikan guru, bisa jadi karena guru yang salah. Misalnya guru yang menganggap bahwa murid itu tak pandai. Murid yang nakal, dan melabelkan hal itu jelas adalah sebuah kesalahan.

Ingat bahwa murid yang biasa-biasa saja, atau tak pandai menurut guru, bisa jadi akan berubah menjadi sosok luar biasa saat ia mulai belajar hal-hal yang tepat, dan dengan pengajaran yang memiliki relevansi dengan minat dan potensinya.

Guru memang tidak bisa menyamaratakan perlakukan kepada setiap murid, tetapi memperhatikan seluruh murid adalah kewajiban. Dengan memperhatikan, guru akan mengerti hal apa yang harus dilakukan. Kalau belum mengerti, maka guru harus belajar untuk mengerti.

Jangan sampai tak mau tahu terhadap kondisi murid. Kita pasti tidak ingin selalu dibenci oleh murid. Kenapa murid berperilaku seperti itu. Kita sadar bahwa setiap manusia memiliki kekurangan. Jadi guru harus bisa sempurna, dengan mengerti dan memahami kondisi setiap muridnya.

Guru harus Mengerti Muridnya

Guru yang baik harus mengerti dan memahami muridnya. Sehingga ia bisa untuk kemudian berpikiran terbuka. Sebab anak yang punya minat akan cenderung berkembang. Berkebalikannya, jika anak tak tertarik, ia tak sudi mengerti, dan sukar untuk dipaksa.

Guru harus mengajar dengan keras hati, yang berarti mempunyai ketekunan dan metode bergantung siapa muridnya. Anak yang memiliki potensi akan tumbuh dengan baik. Kalau guru juga mengajarkan perilaku yang serupa.

Saya mengutip kalimat yang disampaikan Nadiem Anwar Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, 25 November 2019 dalam suratnya mengatakan, “Temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri.” Tapi yang ingin saya garisbawahi ialah temukan suatu bakat dalam diri setiap murid. Bahwasanya setiap murid tentu memiliki bakat dan kemampuan terpendam masing-masing.

Bukannya malah memberikan tugas yang tak wajar. Yang justru tak sesuai dengan keadaaan siswa. Sehingga murid tidak bisa menikmati pembelajaran. Karena mereka cemas tugasnya belum selesai. Di sini guru dituntut untuk kreatif dalam memberikan tugas.

Kemudian cara pendekatan dan gaya mengajar guru kepada murid. Seharusnya dapat membangkitkan minat murid terhadap pelajaran yang diberikan. Guru yang tidak mengerti muridnya hanya akan mengajar dengan biasa. Guru yang mengerti muridnya akan menjadikan muridnya terinpirasi dan kemudian ikut menyukai apa yang diajarkan. Karena guru lebih penting dari apa yang ia ajarkan.

Guru yang menghargai muridnya akan dihormati. Bukan hanya memberikan hukuman yang justru kerap kali tidak efektif.

Hukuman malah akan menjadikan murid makin tidak menyukai gurunya. Hal ini jelas akan berdampak pada jangka panjang. Guru yang tidak mengerti muridnya bisa saja memarahi murid tanpa mengerti terlebih dahulu mengapa muridnya berlaku demikian.

Dan guru yang tidak berubah meskipun ia sadar bahwa banyak murid tidak menyukainya. Guru tersebut tak melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri. Dan menyalahkan muridnya. Padahal murid hanya ingin belajar, tetapi justru mendapatkan guru yang tidak mengerti perihal dirinya. Murid yang akan terkena dampak di masa depan. Bahwa ia belum menerima pembelajaran dari guru tersebut, guru yang tidak mengerti muridnya.

Daftar Bacaan

4 Hal yang Perlu difefleksi Guru Indonesia