“Kak, bagaimana cara memahami mata pelajaran xxx (disembunyikan) jika guru yang mengajar marah-marah terus..” Penggalan surat yang ditulis siswa, saat diberi kebebasan menulis harapan, cita-cita, ataupun keluhan yang ingin disampaikannya. 

Guru yang marah-marah, menandakan obrak-abrik sistem pendidikan kita, masih belum mampu menuntaskan persoalan yang ada di sekolah. Guru sebagai motor utama pendidikan, masih terlalu mendominasi, mengabaikan peran siswa. Mengukuhkan masalah-masalah pendidikan di sekolah.

Kala itu kami, -mahasiswa yang tergabung dalam komunitas Compok Literasi- mengunjungi salah satu sekolah SMP swasta di wilayah pedalaman Madura. Sebelumnya, kami melakukan observasi awal, -wawancara terhadap guru- kemudian mengonsep beragam kegiatan dalam 5 pertemuan, untuk mengatasi persoalan yang dihadapi para siswa.

Sepanjang pertemuan pertama dan kedua, siswa antusias mengikuti. Kami mengonsep beragam kegiatan ‘problem solving’ agar menyenangkan; bermain, bercerita, menonton video, menyusun kata dan lainnya. Menulis surat merupakan salah satu program kegiatan pertama, untuk dibawa di pertemuan kedua.

Di basecamp Compok Literasi kami membacakan surat-surat yang ditulis siswa. Saya cukup terkejut membaca surat yang menanyakan cara agar memahami salah satu mata pelajaran sekalipun gurunya sering marah-marah. Penulis surat mengeluhkan tingkah gurunya tersebut. Padahal kalau tidak sedang marah dia senang dan bisa memahami materi.

Awal membaca potongan surat tersebut, saya tersenyum, barangkali penulisnya memang agak nakal, sehingga sering mendapatkan marah dari gurunya. Namun semua itu berbeda ketika di akhir surat dia menutup dengan, “... Sebenarnya saya bosan mendengarkan dia marah. Tapi saya biarkan. Karena saya takut tidak mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan barokah...”

Persoalan ini tidak sederhana, asumsi saya, seorang siswa SMP yang nakal mustahil jika menautkan kesalahannya dengan konsep barokah. Apalagi jika kita membacanya secara runut, bahwa ia tidak meminta ‘cara agar guru tidak marah-marah’, tetapi justru ‘cara memahami sekalipun guru marah. Kali ini mereka mencoba jujur dengan apa yang terjadi.

Barangkali kasus di atas bersifat subjektif. Tapi, kita perlu bersepakat, bahwa guru sangat menentukan semangat belajar kita. Bukankah sudah sering kita rasakan, senang mengikuti mata pelajaran lantaran gurunya cakap dalam memilih metode? Pun sebaliknya, tak jarang kita jumud mengikuti mata pelajaran -sekalipun sebelumnya disukai- lantaran berbeda guru; pemarah, semisal. Dan hal itu terjadi berbagai jenjang pendidikan.

Menyandang status berpendidikan, seharusnya guru memahami bahwa siswa bukanlah benda mati. Tidak seperti pisau, bisa diasah –sesuka hati- agar tajam; semakin sering mengasah akan semakin cepat untuk tajam. Tapi siswa manusia; punya perasaan dan akal. Kecenderungan untuk stres semakin meninggi, ketika akal dan perasaannya bekerja di bawah tekanan tinggi. Karenanya, orang yang bersentuhan langsung dengannya-setidaknya di sekolah- perlu mempunyai kompetensi khusus: menguasai materi sekaligus memahami siswa.

Jika seorang guru, hanya sebatas status profesi, tentu sangat mudah. Namun jika ia sebagai peran, mempersiapkan generasi bangsa tentu tidak semudah membalikkan tangan. Pendidikan sangat menentukan keberlangsungan bangsa. “Hanya pendidikan yang bisa menyelamatkan masa depan, tanpa pendidikan Indonesia tak mungkin bertahan,” kata Duta Baca Indonesia, Najwa Syihab.

Selain itu, tokoh-tokoh dunia juga bersepakat tentang pentingnya pendidikan. Tidak hanya dari peran, faktor pendorong kemajuannya tidak luput dari kajian para tokoh tersebut. Permasalahannya yang kompleks dan kunjung teratasi ini lah menjadi alasan kuat reformasi sistem pendidikan kita. Sekolah yang menjadi salah satu mesin yang memproduksi Intellegence Quotient (IQ) dan Emotional Quotient (EQ) sudah seharusnya menjadi tempat menyenangkan bagi siswa. Sehingga mereka tidak lari kepada hal-hal non produktif untuk menikmati kesenangan itu.

Guru yang mendominasi hanya membuatnya jenuh. Apalagi menyertai emosi; marah. Memberikan kesempatan bagi mereka sangat penting. Memberikan ruang untuk bergerak dan menentukan gaya belajarnya sangat mendukung suksesnya pendidikan. Hal itu yang telah kami -Compok Literasi- lakukan. Hingga siswa menahan saat kami hendak pulang. “Kak, ngajar disini, ya?” kata salah satu di antara mereka.

Memberikan kesadaran akan pentingnya posisi mereka tidak bisa dianggap remeh, tentu saja metode yang digunakan perlu disertai kasih sayang. Setidaknya anggapan bahwa mereka dihargai keberadaannya. Bukan hanya dari sekedar kalimat, tapi perlu tindakan. Jika Max Weber dalam ‘Tindakan Sosialnya' berpendapat bahwa perubahan sosial tidak akan pernah terjadi jika tidak diawali tindakan individu. Maka, individu yang seperti apa yang akan dipersiapkan untuk memperbaiki bangsanya?

Fenomena guru marah ini, tentu tidak bisa kita jadi pusat kesalahan, bahwa mereka adalah sumber dari melemahnya pendidikan kita. Sebab selalu ada bahasa bahwa guru saat ini bukan sebagai profesi, tapi justru sebagai para pejuang. Ini juga perlu kita pikirkan. Kesejahteraan sering kali menjadi alasan utama seseorang dalam bertindak.

Belum lagi sistem dan aturan-aturan yang rumit, ngisi ini, itu, yang efektif dalam menguras waktu guru. Ibarat pertempuran, para pejuang sudah dirumitkan dengan segala macam persiapan, tenaga dikuras, hingga lemah pada saat pertempuran. Namun demikian, profesionalisme juga harus dipertimbangkan. Tindakan pejuang di medan tempur; sekolah, juga perlu diperhatikan. Setidaknya agar tujuan dan harapan dari sebuah perjuangan dapat diraih dan tidak sia-sia.


Madura, 27 Februari 2021